Museum: Mencari Sejarah Nama Jalan Kapten Muslihat

0
735

Pernahkah Anda berkunjung atau melewati Jalan Kapten Muslihat, Bogor? Jalan ini sehari-hari ramai oleh kendaraan-kendaraan dan orang-orang yang berlalu-lalang. Letaknya sangat strategis, di tengah Kota Bogor. Di sini terletak Stasiun Bogor, tempat bermain Taman Topi, dan pertokoan terkenal. Di ujung jalan ada Kebun Raya Bogor dan di ujung satunya terbentang Jembatan Merah yang kesohor. Di pinggir jalan berdiri patung seorang laki-laki berkostum gerilya sedang menunjuk dan memegang senjata. Ya, patung Kapten Muslihat.

Bisa jadi banyak orang tidak mengetahui kenapa jalan ini dinamakan Kapten Muslihat? Siapa sebenarnya Kapten Muslihat? Adakah peristiwa yang terjadi di jalan tersebut? Anak-anak masa kini, zaman now, bisa jadi geleng-geleng kepala ketika ditanya siapa Kapten Muslihat yang diabadikan menjadi nama jalan di Bogor ini.

Lalu, ke mana mencari tahu jawabannya? Bertanya pada orang yang berlalu-lalang di Jalan Kapten Muslihat, belum tentu tahu. Bertanya pada polisi yang ada di sana, bisa jadi tidak tahu persis sejarahnya– juga bisa mengganggu tugasnya. Bertanya pada pemerintah kota? Wah, bisa rumit mencarinya. Googling? Bisa juga, tapi di mana bisa mencari jawaban yang mendasar dan ingatan itu disimpan? Nah, ada satu tempat yang tepat untuk mencari tahu itu: Museum Perjuangan, Bogor.

Ya betul, di sinilah sebenarnya pasti bisa bertanya serta mencari tahu siapa sebenarnya Kapten Muslihat. Dan, mengapa jalan tersebut dinamakan dengan nama dirinya.

Museum Perjuangan berada di Jalan Merdeka, Nomor 56, Bogor Tengah. Terletak tidak jauh dari Jalan Kapten Muslihat. Lewati saja Jembatan Merah dari Jalan Kapten Muslihat, lalu belok ke kanan, memutar di ujung, dan masuk ke jalan Merdeka.

Ruang utama lantai dasar. (ab)

Pada pertengahan Agustus 2018, SAMA mengunjungi Museum Perjuangan ini. Pagi menjelang siang itu, Museum Perjuangan teronggok di tengah hiruk-pikuk angkot, sepeda motor, mobil, pejalan kaki, rumah makan, dan pusat perbelanjaan. Di tengah panas yang mulai terik, terlihat sekitar 10 anak-anak TK (Taman Kanak-Kanak) berbaris rapi ditemani guru-gurunya di depan pintu masuk museum. Di belakangnya terdapat dua pemuda bersiap masuk.

Di dalam museum masih terlihat sepi pengunjung. Di dalam, di balik meja dekat pintu masuk, duduk Benyamin (yang biasa dipanggil Pak Beny atau Pak Ben) menyambut. Pak Ben memperkenalkan diri sebagai pemandu museum. Persis di samping meja terdapat patung setengah badan Kapten Muslihat, posisinya berada di kiri tengah ke dalam pintu masuk museum. Pegunjung yang datang tak akan melewatkan patung ini. Tertera di bawah patung berwarna hijau dari batu monolith ini: Kapten TB Muslihat, lahir: Pandeglang, 25 September 1925. Gugur: 25 Desember 1945. Pendidikan: HIS (1940, Taman Dewasa (1943), dan PETA (Chudancho). Usianya 20 tahun!

Pak Beny segera dengan tanggap bisa menceritakan kenapa jalan tersebut diberi nama Kapten Muslihat. “Dulu, ada pertempuran di jalan yang kini terletak Taman Topi itu,” kata Pak Beny. Pada 25 Desember 1945, terjadi pertempuran di jalan yang dulu bernama Jalan Banten. Pertempuran terjadi karena para Pejuang Kemerdekaan Indonesia menyerang markas tentara Inggris (Sekutu) yang saat itu menduduki gedung yang kini menjadi Polresta Bogor Kota. Pertempuran dikomandani oleh Kapten Muslihat.

“Para pejuang Indonesia datang dari arah  Gunung Batu, menyeberangi Jembatan Merah menyerbu markas tentara Inggris,” ujar Pak Beny. Di pertempuran inilah Kapten Muslihat gugur karena tertembak di bagian perut, di dekat rel kereta api. Baju kaos berwarna putih asli dengan bekas bercak darah yang dikenakan Kapten Muslihat saat gugur masih tersimpan di Museum Perjuangan, di dalam lemari pajang kaca.

Pertempuran di jalan yang kini bernama Jalan Kapten Muslihat itu terekam dalam diorama “Peristiwa Pertempuran Kapten Muslihat 1945” di Museum Perjuangan, Bogor. Selain itu, terdapat barang-barang peninggalan Kapten Muslihat (yang saat itu dipakai bertempur), foto diri, dan patung Kapten Muslihat. Tapi, sayangnya lampu di dalam diorama Peristiwa Pertempuran Kapten Muslihat saat itu mati, jadi remang-remang saja suasana pertempuran kala itu dapat terlihat.

Nah, inilah sebenarnya salah satu fungsi Museum (Perjuangan). Memori, cerita, dan kisah heroik para pejuang, peristiwa, dan semangat kemerdekaan Bangsa Indonesia bisa dilanjutkan dari generasi ke generasi. Ingatan-ingatan, pengalaman-pengalaman, pelajaran-pelajaran ini terus hidup dan membentuk karakter bangsa. Museum menjadi tempat belajar, refreshing, kegiatan, hingga wisata.

Museum Perjuangan awalnya didirikan berdasarkan musyawarah para tokoh pejuang di “Karesidenan Bogor (Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Cianjur)” pada 10 November 1957. Museum ini kondisinya agak mengenaskan saat ini, sedikit terlupakan. Banyak koleksinya tak terawat dengan baik, mengelupas, berdebu, dan digerogoti ngengat. Lantai keramik mengelupas di beberapa tempat, cat memudar, plus berdebu. Kelebihannya, masih banyak benda-benda asli dan cerita yang tak ternilai tersimpan di sana. Museum Perjuangan teronggok menyempil di tengah-tengah kesibukan kota, yang seolah lupa bahwa salah satu nama jalan kotanya bernama dari peristiwa heroik dan seorang pahlawan bangsanya.

Ardi Bramantyo, Shafa Afifah Dzikra

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here