Kooperasi dan Perekonomian (3)

0
205

Pada dasarnya kooperasi ada tiga macam, yaitu:

  1. Kooperasi konsumsi.
  2. Kooperasi kredit.
  3. Kooperasi produksi.

Marilah kita perhatikan sebentar, betapa duduknya kedua tiang, solidaritet dan individualitet itu pada tiap-tiap tipe itu.

Kita mulai dengan kooperasi konsumsi. Inilah macam kooperasi yang terbanyak di benua barat dan yang paling pertama pula timbulnya. Itu tidak mengherankan, sebab yang terlebih dahulu terasa bagi orang kecil ialah fasal mendapat barang keperluannya dengan harga yang semurah-murahnya. Sebab itu pula kaum buruhlah yang terutama dan pertama kali memajukkannya. Kaum buruh tidak menghasilkan barang dengan tanggungannya sendiri, melainkan menerima upah. Barang yang dihasilkan dengan cucur peluhnya itu harus dibelinya lagi dengan upah yang diperolehnya, jika ia ingin akan barang itu. Jadinya mendapat barang dengan ongkos yang semurah-murahnya, itulah yang diutamakannya. Dengan gaji atau upah yang diterima itu, seboleh-bolehnya dapat dibelinya barang keperluan hidupnya sebanyak-banyaknya. Makin murah harga tiap macam barang, makin banyak macam keperluannya yang dapat dipuaskannya. Sebab itu kaum buruh lekas tertarik hatinya kepada kooperasi konsumsi, kooperasi membeli barang pakaian dan makanan.

Apabila kaum buruh tidak ada mempunyai individualitet, tidaklah ada semangatnya untuk membela keperluan hidupnya. Perasaan menyerah menekan kemauannya. Niat berkooperasi pun hilang. Sekalipun ada kooperasi, orang acuh tak acuh. Manusia yang tidak insaf akan harga dirinya dan tidak punya kemauan yang tetap, tidak sanggup mencapai sesuatu tujuan. Paling banyak ia tahu mengelamun, beriba-iba hati memikirkan nasib yang sengsara. Sebab itu mendidik individualitet itu adalah kewajiban besar bagi penganjur kooperasi.

Apabila anggota kooperasi tidak mempunyai rasa solidaritet, ia tidak merasa kepentingan bersama. Kooperasi baginya jalan untuk membela keperluannya sendiri. Dalam kedaan semacam itu, kooperasi mudah dirusak oleh konkurennya yang menjual barang keperluan umum. Lawan tadi menurunkan buat sementara harga barang-barangnya. Anggota yang tidak mempunyai rasa solidaritet mudah terpedaya dengan taktik semacam itu. Ia lari ke tempat lawan kooperasinya sendiri. Nanti, jika kooperasi sudah mati, ia baru merasa sakitnya. Karena, toko yang menjual murah tadi, sekarang menaikkan kembali harga barangnya.

Nyatalah, bahwa solidaritet dan individualitet, keduanya tiang kooperasi. Jika hilang salah satu dari tiang yang dua itu, kooperasi tidak sempurna duduknya. Selagi solidaritet mendorong senantiasa memperhatikan keperluan bersama, individualitet menginsafkan harga diri sendiri dan memperkuat semangat memajukan usaha bersama tadi. Pengurus kooperasi yang tidak mempunyai kedua-dua sifat itu padanya, tidak sanggup memajukan kooperasi dan lambat laun tidak terpakai. Sebab itu pemimpin kooperasi tidak bergaji. Ia diberi ongkos sekadar perlu untuk menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Hanya pemimpin usaha kooperasi yang bekerja penuh serta pegawai kooperasi diberi gaji yang sepatutnya, tidak kurang dari gaji yang biasa dibayar pada perusahaan lainnya. Dengan ini terdapat bagi kooperasi pemimpin yang mempunyai cita-cita, yang memandang ideal kooperasi itu sebagai buah mata yang dipinang-pinangnya. Hanya orang yang mempunyai perasaan sosial dapat menjadi pemimpin kooperasi yang sebenarnya. Bagi orang semacam itu, yang jadi tujuan ialah kooperasi sebagai badan persekutuan untuk membela keperluan bersama. Ia mau sehidup semati dengan tujuannya itu.

Demikian juga dengan kooperasi kredit. Kemajuannya bergantung pada tiang yang dua tadi: solidaritet dan individualitet. Di sini barangkali individualitet mesti ditaruh di muka.

Kooperasi kredit lain duduknya dari pada kooperasi konsumsi. Kooperasi kredit sifatnya semata-mata aktif. Ia didirikan untuk membela keperluan anggotanya akan kredit. Biasanya yang menjadi anggota ialah orang dagang kecil atau tani kecil, yang tidak mudah mendapat kredit dari bank besar. Sebab itu pula kredit itu semata-mata dipinjamkan kepada anggotanya saja. Kepada orang yang bukan anggota tidak dipinjamkan. Di sini tampak perbedaannya dengan kooperasi konsumsi, yang menjual juga kepada orang yang bukan anggota.

Anggota kooperasi kredit yang meminjam itu, jika ia hendak maju, mestilah aktif bekerja. Sebab itu individualitet terkemuka pada kooperasi kredit. Individualitet membawa rasa mau maju, mau mendapat penghargaan atas diri sendiri. Tetapi kalau sifat itu tidak disertai dengan rasa solidaritet, ia bakal menguntungkan diri sendiri saja. Di mana sifat individualitet ada beserta dengan sifat solidaritet, kemajuan dan penghargaan yang didapat bagi diri itu memperkuat cita-cita akan menarik kaum seperkutuan ke muka. Ketiadaaan solidaritet pada kooperasi kredit sering menjadi sebab, bahwa seorang anggota yang meminjam hanya mementingkan keperluannya saja. Asal dapat ia meminjam, akibatnya tidak diperdulikannya. Fasal mengembalikan kredit itu pada waktu yang sudah ditetapkan, tidak menjadi perhitungan baginya. Jika pada tempo mengembalikan uang yang dipinjamnya itu tampak olehnya jalan yang baik untuk memperputarkan kembali uang itu, ia tak enggan mengerjakannya. Kredit tidak dipulangkannya dan ia lebih suka membayar denda yang dijatuhkan oleh kooperasi kepadanya. Uang yang tertahan padanya itu merugikan kawan yang lain, yang harus mendapat giliran kredit.

Mendidik rasa solidaritet dan sifat individualitet pada anggota kooperasi kredit amat penting. Sebab individualitet di sini yang terkemuka, jika tidak awas, individualitet itu bisa berputar menjadi individualisme, mengingat keperluan diri sendiri saja. Egoisme itulah musuh yang sebesar-besarnya bagi kooperasi. Individualitet harus dididik selalu dalam keadaan dua serangkai dengan solidaritet. Rasa solidaritet yang kuat, memperkuat pula kemauan untuk memadu cadangan sebesar-besarnya. Ini diperoleh dari sebagian dari pada keuntungan anggota-anggota yang mendapat pinjaman dari kooperasi. Cadangan yang besar memperluas kesempatan kepada kooperasi untuk membantu perusahaan anggota-anggotanya dengan kredit.

Kita lihat lagi kedudukan kooperasi produksi. Persekutuan semacam ini banyak terdapat di negeri agraria, negeri pertanian. Sebab itu sangat kembang ia di Denmark. Juga Indonesia banyak mempunyai harapan akan maju ke jurusan ini. Negeri industri kurang mementingkan kooperasi produksi. Kaum industri sangat kuat bersemangat konkurensi, sebab itu tidak suka akan kooperasi. Bagi mereka tujuan organisasi ialah monopoli dan konsentrasi. Dan selama ada kapitalisme, industri tidak suka dengan kooperasi. Sebab itu kooperasi konsumsi kepunyaan kaum buruh yang banyak terdapat dalam negeri industri. Dan kooperasi konsumsi itu berusaha sendiri membangun pabrik-pabrik yang membuat barang-barang keperluan hidup sehari-hari. Tindakan kooperasi semacam ini banyak terlihat, misalnya di Swedia. Tujuan kooperasi ialah menghasilkan barang yang semurah-murahnya untuk keperluan konsumen, si pemakai. Dengan mendirikan pabrik-pabrik sendiri itu kooperasi mengadakan konkurensi terhadap perusahaan kapitalis dan memaksa mereka menurunkan harga atau menggulung tikar.

Bagi negeri pertanian, kooperasi produksi itu menjadi cita-cita yang tinggi. Pertanian sejak semulanya sifatnya usaha bersama. Semangat tolong menolong kuat pada orang tani. Ini terbawa oleh keadaan masyarakatnya. Pekerjaan mengusahakan tanah, seperti menanam padi dan menuai serta mengangkut buahnya pulang, jarang terpikul oleh orang-seorang. Sebab itu pada dasarnya sudah ada semangat kooperasi pada pertanian. Rasa solidaritet sudah ada. Semangat konkurensi kurang sekali pada orang tani. Perusahaan terutama dikerjakannya untuk memenuhi keperluan hidupnya sekeluarga. Baru sisanya, jika ada, dijual untuk pembeli keperluan hidup yang kurang.

Selagi rasa solidaritet sangat kuat pada orang tani, sifat individualitet sangat tipis. Orang hidup menurut kebiasaan. Penghargaan diri sendiri sudah ditentukan oleh masyarakat. Sebab itu soal utama untuk membangunkan kooperasi di daerah agraria ialah membangunkan individualitet itu. Kalau individualitet itu tidak dapat dimasukkan, maka sukar mendirikan kooperasi pertanian. Rasa solidaritet saja tidak mampu apa-apa untuk membangunkan organisasi. Guna kooperasi produksi ialah merasionilkan penghasilan dan membesarkan harga barang yang dihasilkan. Harga barang tani dapat dibesarkan, jika dibawa dari tempat yang berkelebihan ke tempat yang berkehendak akan itu. Buat itu perlu organisasi. Organisasi hanya dapat diatur oleh mereka yang mempunyai individualitet. Rasa mau dihargai itu memperkuat tindakan. Juga utuk mengatur jalan ke pasar tidak cukup rasa solidaritet saja. Orang mesti tahu jalan ke pasar yang menentukan harga barang, barulah berarti kooperasi tadi. Kalau pimpinan kooperasi tidak mempunyai individualitet, tak akan berhasil kooperasi produksi itu. Dan bukan pemimpin saja harus mempunyai individualitet, tetapi juga anggota-anggota kooperasi itu harus mempunyainya banyak sedikitnya. Semangat berjuang untuk membela keperluan bersama mesti kuat. Jadinya kooperasi produksi tani mesti memperkuat indovidualitet untuk menggenapkan solidaritet. Solidaritet yang tidak disusul dengan individualitet, tidak berdaya dalam perekonomian model sekarang. Memperbanyak kecerdasan umum orang tani dengan berbagai penerangan tentang soal hidup dunia sekarang adalah jalan yang sebaik-baiknya untuk membangunkan individualitet dalam dirinya. Inilah yang dituju dahulu oleh Grundtvig di Denmark dengan cita-citanya yang diberi nama ”Sekolah Tinggi Rakyat”. Maksudnya bukan memberikan pengetahuan yang tinggi-tinggi yang tak akan tercapai oleh Pak Tani, melainkan memajukan keinsafan akan harga diri. (Bersambung)

Mohammad Hatta

(Seri Tulisan Klasik)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here