Mengenang Bung Hatta, Bapak Ekonomi Kerakyatan (1)

0
58

Pada tahun 1933, Bung Hatta sebagai salah seorang pendiri Republik Indonesia menulis Ekonomi Rakyat Indonesia dalam Bahaya (Hatta, 1933). Tulisan Bung Hatta ini telah menjadi dasar konsep ekonomi kerakyatan sebagai tandingan untuk mengenyahkan sistem ekonomi kolonial Belanda yang didukung/dibantu oleh kaum aristokrat dalam sistem feodalisme di dalam negeri dan pihak-pihak swasta asing tertentu sebagai komprador pihak kolonial Belanda. Usaha untuk mengenyahkan sistem kolonial ini adalah landasan utama perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Orang yang memahami sejarah ekonomi Indonesia harus mengetahui bahwa penjajahan Belanda di Indonesia di bidang ekonomi berintikan modal kolonial (koloniaal-kapitaal) yang bermula dari kolonialisme VOC dan cultuurstelsel, pelaksanaan Undang-Undang Agraria 1870 sampai beroperasinya investasi swasta asing lainnya dari benua Barat.

Dalam ceramah saya yang sama judulnya dengan judul tulisan Bung Hatta “Ekonomi Rakyat dalam Bahaya” di Universitas Gajah Mada di Yogyakarta beberapa tahun yang lalu, saya menguraikan sistem ekonomi kerakyatan dalam kerangka dialektik hubungan ekonomi (Sritua Arief, 1998).

Hatta mengemukakan keadaan struktur sosial-ekonomi pada zaman kolonial Belanda di Indonesia yang menunjukan golongan rakyat pribumi yang merupakan mayoritas menempati stratum terbawah dalam struktur sosial-ekonomi. Ekonomi rakyat di mana massa pribumi menggantungkan hidup mereka berada dalam posisi tertekan sebagai stratum terbawah dalam konstelasi ekonomi.

Analisis Hatta mengenai dialektik hubungan ekonomi jelas menunjukkan apa yang disebut “Interlinked transactions” dalam proses pertukaran yang bersifat eksploitatif. Juga, analisis itu menunjukkan adanya apa yang disebut “forced commerce” atau “tied sales” yang merupakan manifestasi kekuasaan pasar yang dimiliki oleh para pedagang. Secara keseluruhan, kekuasaan sosio-ekonomi yang dimiliki oleh para pedagang perantara terkandung dalam skema apa yang disebut “clientelization” (Fay, 1987) yang dapat ditipologikan dalam bentuk: ancaman, pemaksaan, manipulasi, otoritas, dan kepemimpinan paksa.

Observasi Hatta secara jelas menghendaki suatu reformasi sosial agar pelaku-pelaku ekonomi rakyat dapat berperanan atau punya posisi tawar yang kukuh dalam hubungannya dengan para pelaku sektor ekonomi modern dengan konco-konconya yang secara langsung melakukan proses eksploitasi {para pedagang, pengumpul, tengkulak, rentenir, elit pedesaan (dengan dukungan camat, polisi, Koramil, para pengusaha warung, preman-preman dan para jagoan di desa-desa, serta lain-lain)}. Reformasi sosial ini mengandung pengertian koreksi terhadap dialektik hubungan ekonomi secara fundamental sehingga diperoleh hubungan ekonomi yang adil antara pelaku ekonomi di dalam masyarakat. Sampai sekarang, Indonesia tidak melakukan suatu reformasi sosial sehingga dialektik hubungan ekonomi antara para aktor ekonomi kuat dengan para aktor ekonomi lemah tetap seperti yang telah berlangsung sejak zaman kolonial Belanda (Sritua Arief, 1995 dan Lukman Soetrisno, 1995).

Dalam kaitannya dengan pengembangan sektor ekspor bahan-bahan mentah oleh pihak asing di dalam struktur ekonomi Indonesia, observasi Hatta menunjukkan persamaan dengan tesis strukturalis. Sektor ekspor bahan-bahan mentah yang dikembangkan untuk tujuan memperkukuh kekuatan ekonomi negara penjajah, telah bertanggung jawab dalam menekan tumbuhnya permintaan efektif di dalam negeri. Selain ini dianggap bertanggung jawab menekan tumbuhnya permintaan efektif di dalam negeri secara kukuh, juga bertanggung jawab terhadap kepincangan struktur sosial ekonomi.

Organisasi koperasi dapat berperanan dalam reformasi sosial dengan menghimpun para pelaku ekonomi rakyat dalam dua aspek. Pertama, secara kolektif menghimpun para pelaku ekonomi rakyat dalam menjual produk-produk yang mereka hasilkan langsung ke konsumen dengan posisi tawar yang kukuh. Kedua, organisasi koperasi dapat menjadi wadah yang bertanggung jawab dalam membeli barang-barang yang diperlukan oleh para pelaku ekonomi rakyat langsung dari para pemasok di sektor modern dengan posisi tawar yang kukuh pula. Melalui operasi organisasi koperasi seluruh para pelaku penindas dan parasit ekonomi disapu bersih.

Reformasi sosial melalui organisasi koperasi telah dilaksanakan di negara-negara Skandinavia sehingga sistem ekonomi di negara-negara ini sering disebut sebagai suatu sistem ekonomi kapitalisme rakyat  atau sistem sosialis Skandinavia. Dan, organisasi koperasi melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi yang diperhitungkan dalam konstelasi ekonomi atas nama rakyat. Inilah yang jelas dikehendaki dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia. Rakyat selain mempunyai kedaulatan dalam sistem politik juga punya kedaulatan dalam sistem ekonomi.

Sebagai contoh bagaimana organisasi koperasi telah melakukan peranan besar dalam sistem ekonomi yang berazaskan kedaulatan rakyat, baiklah di sini diberikan peranan koperasi dalam sistem ekonomi Swedia, yaitu salah satu negara Skandinavia. Koperasi pertanian mendominasi kegiatan pasar-pasar swalayan besar di mana para petani langsung menjual produk-produk pertanian ke konsumen. Koperasi pertanian menduduki posisi yang penting dalam produksi produk-produk kayu, industri memproses makanan (food-processing), industry pulp  dan kertas, industri kimia, perbankan, asuransi, serta industri bahan-bahan dan alat-alat pertanian (Pestoff, 1991). Hal yang sama terjadi di Jepang melalui kegiatan Zenop (koperasi pertanian).

Demi menghindarkan eksploitasi terhadap petani misalnya, koperasi membentuk asosiasi-asosiasi yang bertanggung jawab untuk melakukan pembelian secara kolektif untuk para anggota koperasi. Sebagai asosiasi, organisasi ini yang bertindak atas nama berbagai koperasi bertanggung jawab untuk melakukan pembelian barang-barang keperluan petani. Asosiasi-asosiasi koperasi ini dengan posisi tawar yang kukuh dan menentukan mengatur pembelian barang-barang yang diperlukan petani dalam suasana yang kompetitif dan dengan biaya yang murah (Pestoff, 1991). (Bersambung)

Sritua Arief

(Seri Tulisan Perseptif)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here