Mengalap Bijak dari Ikan Dewa

0
30

Apa yang dilakukan Otong Zenal Arifin dan kawan-kawan Peneliti dan Pemerhati Ikan Dewa seakan menyentil, bahwa Tanah Tropis Indonesia ini sebenarnya menyimpan banyak potensi dan kebijakan, tapi diacuhkan. Ya, Ikan Dewa, ikan asli Indonesia yang akhir-akhir ini berhasil didomestikasi oleh Otong dan kawan-kawan. Domestikasi artinya dipelihara dan dikembangkan hidup di luar habitat aslinya.

Tak banyak yang tahu, bahwa ikan-ikan yang biasa dikonsumsi sehari-hari saat ini, sebenarnya banyak yang diintrodusir dari negara lain. Ayo, coba sebutkan ikan-ikan asli Indonesia? Ikan Nila? Bukan! Nila yang dikembangkan sekarang ini dari Afrika! Ikan Mas? Bukan juga! Ikan Mas ternyata asli dari Negeri Cina. Ikan Bawal? Tidak. Ikan Bawal berasal dari Amerika Selatan! Lele mungkin (kan sudah banyak di warung-warung Pecel Lele)? “Tidak! Lele aslinya dari Afrika,” kata Haryono, Peneliti Puslit (Pusat Penelitian) Biologi LIPI yang ditemui bersama kawan-kawan pada akhir Agustus 2019 di Instalasi Riset Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar, di Cijeruk, Bogor, Jawa Barat.

Asli artinya, ada di Indonesia, bisa ada juga di negara lain. Sedangkan endemik: hanya ada di satu tempat tertentu, misalnya endemik Indonesia artinya hanya ada di Indonesia. Lele asli Indonesia, kini entah sudah terdesak ke mana. Dan, sebenarnya Indonesia, menurut Haryono, merupakan negara kedua di dunia yang memiliki jenis ikan terbanyak di bumi, setelah Brasil. “Kita itu kaya jenis, tapi lebih sering mendatangkan dari luar negeri,” ujar Haryono.

Ikan Dewa merupakan ikan asli Indonesia. Ikan yang di Jawa Barat (Sumedang, Kuningan, dan Majalengka) disebut Kancra Bodas atau Ikan Dewa, serta di Bogor disebut Ikan Soro ini mempunyai sejarah yang panjang di Indonesia. Di Sumatera Utara disebut Ihan Batak, mempunyai nilai sakral dalam Budaya masyarakat Batak. Di Blitar (Jawa Timur) disebut Senggaring.

Ikan ini bila dikonsumsi memiliki rasa yang enak. Tekstur dagingnya padat, tidak benyek dan tidak gampang ambyar. Rasanya pulen. Ikan Dewa memiliki banyak kandungan protein albumin yang baik untuk metabolisme tubuh, regenerasi sel-sel, dan kesehatan kulit. “Baik untuk kesehatan, awet muda, dan kecerdasan,” imbuh Haryono.

Di Batak, Ikan Dewa dikeramatkan, kerap menjadi medium acara-acara adat. Dalam upacara perkawinan, pemberian Ihan Batak dari Boru (pihak calon istri) kepada Hula-Hula (pihak calon suami) dianggap sebagai penghormatan. Dengan harapan agar si penerima menerima berkah dari Tuhan berupa kesehatan, umur panjang, banyak rejeki dan mendapat banyak keturunan. Sedangkan Orang-Orang Cina menganggap Ikan Dewa membawa hoki dan awet muda.

Begitupula di Jawa Barat, banyak daerah yang mengkeramatkan Ikan Dewa dan mengkaitkannya dengan Prabu Siliwangi. Menurut sejarah, pada masa Kerajaan Pajajaran yang diduga sebagai Ikan Dewa sudah dilindungi dengan mitos-mitos dan peraturan kerajaan. Menyiratkan sebenarnya ikan ini “sudah berharga” dari dulu. Lebih jauh lagi, sebelum Jaman Prabu Siliwangi, upaya melindungi ikan (diduga Ikan Dewa) tercatat pada Prasasti Sri Jayabupati yang berangka Tahun 1030 Masehi, yang ditemukan di sekitar Sungai Cicatih, Cibadak, Sukabumi. “Konsepnya pelestarian,” ujar Rachmat Iskandar, pemerhati sejarah dari Konsil Kota Pusaka.

Nah, dari sisi harga, Ikan Dewa pun tidak main-main. Di Jakarta, harga per kilogram Ikan Dewa bisa mencapai 600 ribu rupiah. Saat menjelang perayaan Imlek bisa mencapai sekitar satu juta rupiah per kilogram. Kalau sudah masuk restoran harganya melejit, satu menu bisa mencapai sekitar satu juta rupiah, padahal beratnya tidak sampai satu kilogram, hanya beberapa ons saja.

Untuk dipelihara di kolam sebagai ikan hias, Ikan Dewa menarik hati dan mempunyai prestise tinggi, mirip Ikan Arwana. Sangat senang melihat ikan ini berenang meliuk-liuk di kolam dengan tubuh streamline-nya serta sisik abu-abu gelap, keperakan, nan berkilau. Apalagi kalau ikannya besar-besar. Bahkan di satu tempat wisata di Jawa Barat ada sebuah tempat yang menyediakan kolam untuk berenang bersama Ikan Dewa. “Saya tertarik dengan Ikan Dewa karena punya nilai historis, langka, dan ada prestise tersendiri,” kata Endang Sumitra, Ketua Paguyuban Kancra Pasundan Bogor

Harga yang mahal ini memang karena Ikan Dewa sulit dicari. Keberadaannya selama ini lebih banyak secara liar di alam. Kalau memancing di sungai yang diduga masih ada Ikan Dewanya saja tidak setiap saat kail bisa mendapatkan ikan yang satu ini. “Bisa sekitar dua hingga tiga jam baru dapat satu, itu pun kalau beruntung,” ujar Jiji Suhaeji, pemerhati yang mulai membudidaya Ikan Dewa di daerah Sukabumi, Jawa Barat, dekat Sungai Cicatih. Jiji yang juga Guru Biologi, sedari kecil suka memancing Ikan Dewa di sungai. Kalau dapat Ikan Dewa, menurut Ketua Yayasan SMK Patriot Sukabumi ini, menjadi kebanggaan tersendiri.

Kelangkaan ini beralasan. Sekali bertelur, Ikan Dewa mengeluarkan sekitar dua ribu butir telur. Sedangkan Ikan Mas bisa mengeluarkan ratusan ribu butir telur. Pembesarannya pun memakan waktu yang lama. Ikan Mas hanya membutuhkan waktu enam hingga tujuh bulan untuk mencapai berat satu kilogram. Sedangkan Ikan Dewa untuk mencapai berat yang sama butuh waktu tiga hingga empat tahun. Dan, di alam, habitat Ikan Dewa ini khas. Ikan yang disebut oleh Orang Belanda saat jaman kolonial sebagai Java Salmon ini akan berenang naik ke hulu bila ingin bertelur dan memijah.

Dengan kondisi yang ada sekarang, keberadaan Ikan Dewa di alam lambat laun mulai menipis. Dulu di Sungai Ciliwung, Jawa Barat, ditengarai terdapat banyak Ikan Dewa, kini sudah sulit didapatkan. Begitupula dengan Sungai Cisadane. “Di Kuningan, Jawa Barat, dari tujuh situs sejarah yang ada kolam Ikan Dewa, dua situs sudah punah Ikan Dewanya,” kata Jojo Subagja, Peneliti Ikan Dewa.

Hingga di Cijeruklah– di Instalasi Riset milik Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan; Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, Kelautan, dan Perikanan; Kementerian Kelautan dan Perikanan– rahasia perkembang biakkan Ikan Dewa dipecahkan oleh Otong (Kepala Instalasi Riset) dan kawan-kawan. Mereka memulai penelitian pada 1998 (pada 2012 mengawali penelitian untuk budidaya) dan  akhirnya diketahui bagaimana mendomestikasi Ikan Dewa, mengembangbiakkan dan memelihara Ikan Dewa di luar habitat alamnya.

Ikan Dewa ini, menurut Haryono, jangan sampai terdesak terus dan hilang. Apalagi perburuannya di alam tidak terkontrol. Menyelamatkan sebelum punah. Riset ikan ini bertujuan untuk melestarikan, domestikasi (menjadikan komoditas berharga), serta konservasi (stok bibitnya kembali ke alam untuk memperbesar jumlahnya di habitat aslinya). Ironi, mengingat Indonesia kaya jenis ikan, tapi lebih senang mendatangkan dari luar negeri, maka saatnya berbalik arah, memperhatikan tanah air, mengembangkan dan melestarikan Ikan Dewa dan ikan-ikan lainnya. Sebuah kebijakan yang harus dipetik dan diingatkan kembali, serta didorong untuk meluas ke seluruh Nusantara.

Ardi Bramantyo

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here