Tatang Elmi Wibowo berkulit coklat dan berambut ikal. Usianya 41 tahun. Hari itu, akhir Februari 2018, di galeri miliknya Leksa Ganesha, Dusun Tembi, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, ia sedang mengajari tamu dari India membatik.

Bapak dua anak ini tahu bagaimana menjaga idealisme untuk terus menyuarakan lingkungan hidup, tapi tetap mampu membiayai kehidupan keluarga. Walaupun tidak lagi bergabung di Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), lewat batik bermotif lingkungan hiduo dan pewarna alami, karya Tatang diminati kolektor dari Eropa, Asia, hingga Amerika.

“Lewat karya batik bisa sedikit berkontribusi pada gerakan lingkungan dengan berdonasi dari keuntungan penjualan serta ikut mengkampanyekan isunya,” kata Tatang.

Ceritanya, pada 2010 Tatang memutuskan untuk kembali ke Yogya, agar bisa berkumpul bersama keluarga. Namun, kepeduliannya terhadap alam tak hilang. Dirinya memilih menekuni wisata alternatif tentang kebencanaan dan alam serta belajar membatik, ketika berhenti dari dunia aktivis. Tawaran bekerja di Friends of Earth (FoE) di Belanda, dia tolak, alasannya ingin berkarya lewat cara lain.

Tentang Reklamasi Teluk Jakarta.

Motif batik Tatang tidak seperti batik tulis biasanya. Salah satunya tentang kritik sosial akibat eksploitasi alam di Kalimantan yang gila-gilaan di atas kain sutera. Menampilkan dua buah backhoe dengan dipadukan wajah-wajah manusia dan anak kecil. “Saya ingin menunjukkan bahwa banyak anak yang menjadi korban akibat tenggelam di lubang bekas penambangan di Kalimantan,” ujar Tatang. Karya batik lainnya bertemakan penyelamatan Pegunungan Karst Kendeng, untuk perjuangan menjaga ekosistem di Pegunungan Kendeng. Batik-batik dengan motif yang umum juga ditawarkan oleh Tatang.

Di balik cerita kritik sosialnya, Tatang mengkampanyekan penggunaan warna dari alam melalui karyanya. Hampir seluruh lukisan batiknya ini menggunakan pewarna alami dari lingkungan sekitar galerinya. Bagi Tatang, menjadi aneh dan tak etis jika menggambar tema lingkungan, namun pewarna yang digunakan masih sintetis, sehingga pewarna alam jadi pilihan. Daun indigo untuk warna biru, mahoni untuk merah kecoklatan, kulit nangka untuk kuning, jalawe kuning tua atau hitam, kadang pakai akar mengkudu, suren, sawo, dan tingi untuk coklat.

Tak hanya itu, karena kesadarannya atas lingkungan, Tatang untuk pembuangan air limbahnya membuat Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) sendiri di depan galerinya.

Sekarang, Galeri Leksa Ganesha tak pernah sepi pengunjung, apalagi di hari libur. Banyak wisatawan belajar membatik, bahkan membeli berbagai produk batik karya Tatang. “Banyak yang belajar membatik, tapi poinnya mereka saya ajak untuk tahu isu lingkungan dan ikut melestarikan alam,” ujar Tatang.

Tommy Apriando

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here