Sabtu, Desember 5, 2020

Berjumpa Samida: Jejak-Jejak Konservasi Pajajaran di Kebun Raya (Diduga) Tertua di Dunia (Tamat)

Untuk lebih memperjelas apa yang dimaksud dalam Prasasti Batutulis, Rachmat Iskandar, pengamat sejarah dan penggiat cagar budaya, melakukan perbandingan dengan prasasti yang mirip dengan Prasasti Batutulis: Prasasti Kawali Satu di Ciamis. Prasasti Kawali ditulis lebih dulu dari Prasasti Batutulis. Ketika Ibu Kota Kerajaan Sunda masih di Ciamis— sebelum pindah ke Bogor (Pakuan). Di sana dibuat prasasti oleh raja pendahulu Prabu Surawisesa dengan susunan kalimat yang mirip. Prasasti Kawali Satu berisi:

“Inilah jejak (tapak) (di) Kawali (dari) tapa beliau yang Mulia, (bernama) Prabu Braja Wastu, (yang) mendirikan pertahanan (bertahta di) Kawali, yang telah memperindah Kraton Surawisesa, yang (menggali) membuat parit pertahanan di sekeliling wilayah kerajaan, yang menyuburkan seluruh permukiman, kepada yang akan datang hendaknya menerapkan keselamatan sebagai landasan (ke) menang (an) hidup di dunia.”    

Pada kalimat baris ketujuh menyiratkan tatanan lingkungan, “yang menyuburkan seluruh permukiman.” Bandingkan dengan,”membuat tanda peringatan (berupa) gugunungan, memperkeras jalan, membuat samida, membuat Sang Hiyang Talaga (Wa)rna Mahawijaya,” pada Prsasti Batutulis. “Pada hakekatnya, baik pada Prasasti Kawali Satu maupun Prasasti Batutulis ada upaya membangun kawasan atau lingkungan yang subur, ada air, hutan yang hijau, dan penataan sarana jalan,” kata Rachmat. 

Alam nan asri, konservasi, dan kegunaan

Di Kebun Raya Bogor, di sekitar Kolam Besar, Ngabalay, punden berundak, dan Batu Semar, sepanjang mata memandang tak lepas dari lebatnya pohon-pohon dengan hijaunya daun dan rerumputan yang subur. Terlihat asri dan alami, bak berada di tengah hutan, tidak terasa berada di tengah Kota Bogor. Banyak tetumbuhan yang hidup di sana.

Keasrian ini dapat langsung terbukti dengan masih adanya mata air yang tetap mengalir terus yang menjadi sumber air yang selalu memenuhi Kolam Besar. Begitupula dengan Cikahuripan, mata air yang terletak tidak jauh dari Kolam Besar, hingga kini airnya terus mengalir tidak pernah berhenti walau musim kemarau.

Seperti diketahui bahwa mata air membutuhkan lingkungan dengan pepohonan rimbun penangkap air hujan. Dengan akar-akarnya yang kuat, besar, dan membuat jaringan di dalam tanah yang membuatnya mampu menyerap dan mendekap air, menjadi celengan air. Inilah yang kemudian muncul ke permukaan tanah sebagai satu titik yang mengeluarkan air. Orang-orang menyebutnya mata air. Dari titik mata air ini lah suatu aliran air menjadi sungai kecil, hingga menjelma menjadi sungai besar.    

Menurut Naskah Sunda Kuno, yang ditulis pada 1518, pada masa Kerajaan Pajajaran, Sanghyang siksakandang karesian, menjaga kelestarian dan keasrian alam nan subur sangat penting bagi kehidupan masyarakat. “Ini jalan kita untuk menyejahterakan dunia kehidupan, bersih jalan, subur tanaman, cukup sandang, bersih halaman belakang, bersih halaman rumah. Bila berhasil, rumah terisi, lumbung terisi, kandang ayam terisi, ladang terurus, sadapan terpelihara. Lama hidup, selalu sehat. Sumbernya terletak pada manusia sedunia. Seluruh penopang kehidupan: rumput, pohon-pohonan, rambat, semak, hijau subur tumbuhnya, memberikan kehidupan kepada orang banyak. Ya, itulah (sanghiyang) sarana kesejahteraan dalam kehidupan, namanya.”  

Air, yang pada kepercayaan Hindu-Budha yang banyak dianut pada masa itu, memiliki peran sangat penting. Air menjadi sumber kehidupan dan sarana mensucikan diri.

Dalam penelusuran Saleh Danasasmita yang dituangkan dalam Buku Sejarah Bogor, ditemukan penjelasan keberadaan dan hubungan Punden Berundak dan Kolam (air) Besar. “Kedekatan telaga (kolam) yang dikeramatkan dengan bukit punden bukanlah tradisi baru. Menurut Pustaka Praratwan I Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, pada masa Purnawarman, raja beserta para pembesar Tarumanegara (pendahulu Pajajaran) selalu melakukan upacara mandi suci di Gangganadi (Setu Gangga) yang terletak dalam Kerajaan Indraprahasta (di Cirebon Girang). Setelah bermandi suci, raja melakukan ziarah ke punden-punden yang terletak dekat sungai tersebut. Bukit punden adalah bukit pemujaan, bukit tempat berziarah— yang dalam Bahasa Sunda biasa disebut ngembang (tabur bunga), atau dihaluskan nyekar.”   

Dan, Ngabalay yang berada di dekat Kolam Besar di Kebun Raya tersebut, tampaknya digunakan sebagai tempat berkumpul pada saat upacara mandi suci tersebut.

Samida yang disebutkan dalam Prasasti Batutulis— yang tercantum dalam jajaran kalimat memelihara lingkungan– merupakan pohon atau pepohonan yang harus dipelihara, tidak boleh sembarangan menebang atau merusak pohon ini. Pada masa Pajajaran sebutan hutan larangan (dengan dikeramatkan dan pamali) disematkan pada Samida, sebuah hutan yang kalau sekarang diistilahkan sebagai hutan konservasi.

Pohon Samida, menurut Usep Soetisna, adalah pohon Plasa atau Palasa (dalam Bahasa Sunda) dan Ploso (dalam Bahasa Jawa), bernama latin Butea monosperma. Pohon Samida ini pun erat kaitannya dengan upacara keagamaan. Dalam buku PROSEA, Plant Resources of South-East Asia 3, Dye and tannin-producing plants, disebutkan bahwa pohon ini banyak digunakan oleh pemeluk agama Hindu untuk upacara-upacara keagamaan.

Daun Pohon Samida berwarna hijau muda, berbentuk membundar, dengan serat-serat daun terlihat indah menyebar— apalagi bila terkena sinar matahari. Bunganya berbentuk membungkuk-mengantung, dengan ujung naik yang lancip, berwarna merah menyala, seperti lidah api. Karena itu kerap disebut juga Flame of the Forest, Api Hutan. Kayu dari pohon Samida cocok dan biasa digunakan sebagai pembakar mayat. Selain itu, bisa jadi karena bentuk bunganya seperti lidah api, pohon ini juga dikaitkan dengan upacara kepada Dewa Agni, dewa api dalam kepercayaan Agama Hindu.

Pohon Samida bila ditilik dari akar pohonnya yang besar dan banyak menghujam tanah, pohon ini juga cocok untuk menyerap dan menangkap air.

Kebun Raya Bogor— begitupula dengan Ibu Kota Pajajaran— terletak di antara (diapit) oleh dua sungai besar, yaitu Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane. Mengingat lokasi ini dan kontur Bogor, maka konservasi menjadi sangat penting. Lutfi Yondri, Tim Ahli Cagar Budaya Jawa Barat melihat bahwa posisi strategis Samida sebagai hutan buatan, karena Kota Pajajaran diapit oleh dua Sungai Ciliwung dan Cisadane tersebut. “Raja-raja Sunda sudah melakukan pembangunan-pembangunan, modifikasi-modifikasi terhadap lingkungan alam. Jadi, ada sesuatu yang dibuatkan konstruksinya, ada lingkungan alam yang kemudian dimodifikasi. Kenapa dia melakukan modifikasi? Karena untuk menghindarkan pusat kerajaan dari bahaya banjir,” kata Lutfi.

Sri Baduga berkain putih dengan dada terbuka, diiringi pemuka agama yang merapalkan pujian dan doa, dengan tangan terkatup berjalan perlahan ke tengah kolam. Sri Baginda membasahi diri di kolam. Hening. Keluarga kerajaan mengikuti di belakang. Rakyat banyak duduk bersimpuh di Ngabalay. Hening, mengikuti upacara dengan khusuk. Dalam hati Sri Baduga merapalkan doa dan puji syukur, bahwa dirinya dan rakyat kerajaan hidup tenteram, kecukupan, minim bencana, asri di alam nan indah. (Tamat) 

Ardi Bramantyo

related

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

video

Popular

Pesantren Terapung – Nyantrik di Kapal

"Pesantren Terapung." Malam itu saya kebagian "ronda" di atas Rainbow Warrior yang sedang menyusuri Laut Jawa. Salah satu tugas "night watch" adalah menemani nahkoda melihat...

Memang “Pemerintahan Belanda” ada di Indonesia? Tidak. Yang ada “Perusahaan!”

Di Indonesia, selama ini yang diketahui dalam sejarah, setelah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie— perusahaan yang menjajah Nusantara karena rempah-rempah) bangkrut-- masuk Prancis dan Inggris--...

Batik Lingkungan Hidup

Tatang Elmi Wibowo berkulit coklat dan berambut ikal. Usianya 41 tahun. Hari itu, akhir Februari 2018, di galeri miliknya Leksa Ganesha, Dusun Tembi, Kecamatan...

Pasarnya Petani Kota Jakarta

Di Jakarta ada petani? Ya, betul, bahkan ada pasarnya! Datang saja ke Gudang Sarinah Ekosistem setiap Minggu, pekan pertama setiap bulan. Di sinilah para...

Petisi konyol, antara Dilan dan Pram, ehh Minke

Dilan Iqbaal Ramadhan jadi Cameo lagi Senang rasanya film Bumi Manusia di produksi dan nantinya akan di putar di bioskop, sehingga saya gak perlu menghabiskan...

Sudut Pandang Lakon dan Penonton

Ngeri ngeri sedap kritikus Film Sejak mula, membangun kisah para penderes nira kelapa di Ketanda Banyumas dalam sebuah karya film, selalu ada kecemasan kecemasan yang...

Menanam dan Memanen Air di Senjoyo

Bagi Ahmad Bahruddin, mata Air Senjoyo adalah hidup dan mati dirinya. Puluhan tahun lalu, air irigasi di kampungnya Kalibening, Kota Salatiga terlihat jernih dan...