Sabtu, Desember 5, 2020

Berjumpa Samida: Jejak-Jejak Konservasi Pajajaran di Kebun Raya (Diduga) Tertua di Dunia (2)

Pada medio Mei 2019, Endang Sumitra dewasa membawa peserta FGD (Forum Group Discussion) Kebun Raya Bogor menuju World Heritage Site (WHS) ke lokasi Batu Semar, Ngabalay, dan Kolam besar tersebut, menapak tilas masa kecilnya.

Pihak Kebun Raya tidak merasa membuat kolam, batu monolith, maupun ngabalay ini. Bahkan banyak pegawai Kebun Raya tidak menyadari ada situs-situs tersebut di Kebun Raya Bogor. Mereka pun baru melihatnya. Para sejarawan dan arkeolog juga tak memperhatikan adanya situs tersebut yang tergeletak begitu saja di Kebun Raya Bogor.

Tidak terdapat catatan persis mengenai keberadaan Batu Semar, Ngabalay, dan kolam besar. Tapi, menurut Usep Soetisna, mantan Kepala Kebun Raya Bogor, ada satu catatan yang ditulis dalam bukunya Raffless, The History of Java. “Di Pajajaran, sebuah tumpukan batu ditemukan sebagaimana temuan Setingel, dan beberapa baris di antaranya melintasi negeri itu di antara sungai-sungai. Hal ini membuktikan bahwa posisi reruntuhan ini dikelilingi parit. Situs ini terlihat dekat di sisi jalan, beberapa ratus yard dari kediaman Gubernur Jenderal. Di beberapa tempat situs ini telah terpotong untuk pembangunan jalan raya,” kata Usep, membacakan catatan dari buku tersebut, berusaha mencari kemungkinan keterangan mengenai keberadaan situs-situs tersebut di Kebun Raya Bogor.

Bisa jadi, Batu Semar, Ngabalay, dan Kolam Besar ini yang dimaksud sebagai peninggalan Kerajaan Pajajaran dari Buku The Hstory of Java. Keberadaan situs-situs ini memang berjarak sekitar beberapa ratus meter dari Istana Bogor sekarang (dulu kediaman Gubernur Jenderal Hindia-Belanda). Tepat di bawah Istana Bogor.

Keheranan semakin bertambah, ketika Endang juga mengajak rombongan menuju semacam punden berundak yang juga berada di Kebun Raya Bogor. Letaknya terpisah dari kompleks Makam Mbah Jepra, Mata Air Cikahuripan, Leuwi Sipatahunan, Batu Semar, Ngabalay, dan Kolam Besar. Punden berundak ini berada di koleksi tumbuhan pakis-pakisan di Kebon Raya Bogor. Letaknya lebih tersembunyi, di sela-sela semak tumbuhan pakis. Bisa jadi situs ini lebih tidak banyak diketahui orang.

Di antara juntaian tumbuhan pakis, setelah melewati jalan setapak, terlihat semacam anak tangga, undakan dari tanah yang dikeraskan dengan batu alam kecil yang membawa ke atas. Bila tak memperhatikan dengan seksama, undakan ini bakal tak terlihat, luput dari perhatian. Orang yang akan berjalan menanjak ke atas harus sedikit menyibakkan rimbunan daun dan ranting pakis. Ketika kaki melangkah satu persatu di atas undakan baru mulai terasa bentuk dari punden berundak ini: seperti gunungan.

Suasana berbeda ketika tiba di puncak gunungan: tanah rata, lega, dengan luas sekitar 700 meter persegi, seperti gunung yang puncaknya terpotong. Orang yang berada di puncak punden dapat melihat ke sekeliling dan ke bawah. Imaji menyeruak kembali menegaskan bentuk undakan ini: semacam gunungan dengan anak tangga menuju ke atas. Di tanah rata di atas tersebut bila orang berkumpul kurang lebih dapat menampung orang sekitar 500 sampai 700 orang.

Untuk apa Batu Semar, Ngabalay, Kolam Besar, dan Punden Berundak berada di Kebun Raya Bogor?

Putra Sri Baduga Maharaja, Prabu Surawisesa memanggil pemahat penulis di atas batu terulung di Kerajaan Pajajaran pada sangkakala 1533. Tepat pada 12 tahun mangkatnya Sri Baduga, raja yang pada masa pemerintahannya Kerajaan Pajajaran mencapai puncak kejayaan. Masyarakat Sunda sangat menghormati dan mengenang Raja Pajajaran ini dengan sebutan Prabu Siliwangi.

“Tuliskan kalimat ini untuk mengenang Ayahanda, Sri Baduga, agar anak keturunan Pajajaran memahami kebesaran yang sudah ditorehkan beliau. Hal baik ini menjadi warisan berharga untuk terus dikembangkan generasi mendatang,” titah Prabu Surawisesa.

“Daulat Tuanku,” ujar pemahat penulis terulung.

Kemudian, dengan penuh ketekunan dan ketelitian, Sang Pemahat Penulis menorehkan kata-kata yang dititahkan Prabu Surawisesa di atas batu Andesit padat berwarna kelabu gelap. Batu ini berbentuk gugunungan yang meruncing ke atas. Harapannya batu bertulis ini dapat bertahan lama sebagai penanda. Sama seperti nenek moyang mereka melakukan tetenger, penandaan di suatu daerah dengan batu monolit. Kali ini batunya tak hanya dibentuk dengan khas, tapi palu dan besi penatah menuliskan kalimat-kalimat: 

“Oń na pun! Inilah tanda peringatan Prĕbu Ratu yang telah mangkat. Dinobatkan beliau dengan nama Prĕbu Guru Dewata Prana. Beliau dinobatkan lagi dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Beliaulah yang memariti Pakuan. Beliau anak Rahiyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastukancana yang mendiang di Nusalarang. Beliaulah yang membuat tanda peringatan (berupa) gugunungan, memperkeras jalan, membuat samida, membuat Sang Hiyang Talaga (Wa)rna Mahawijaya. Beliaulah itu. Pada tahun Saka, panca pandawa ngĕ(m)ban bumi”

Tulisan di Prasasti Batutulis.

Batu ini tertanam masuk ke dalam tanah dengan kokoh. Permukaan yang bertuliskan kalimat-kalimat tersebut berada di atas permukaan tanah, terpampang dengan nyata untuk dapat dilihat setiap orang.  

157 tahun kemudian, Prasasti Batutulis yang sudah “terkubur” dalam lebatnya hutan ditemukan oleh orang-orang Negeri Atas Angin, Walanda (Belanda). Ekspedisi VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie), Perusahaan Dagang Hindia Belanda, yang dipimpin oleh Kapiten Adolf Winkler pada 25 Juni 1690 sampai di tempat diletakkannya Prasasti Batutulis yang dititahkan Prabu Surawisesa. Prasasti tersebut masih ditempatnya semula (in situ) hingga hari ini. Hasan Djafar, Sejarawan dan Arkeolog, menterjemahkan kembali seperti tertulis di atas. Prasasti Batutulis merupakan catatan terakhir Kerajaan Pajajaran yang dapat ditemukan setelah Kerajaan Sunda ini runtuh usai diserang Kesultanan Banten. Karena letak Prasasti Batutulis maka dapat diketahui bahwa Kebun Raya Bogor berada di wilayah Kerajaan Pajajaran. Dari Prasasti Batutulis, yang pada masa kini berada di Jalan Batutulis, Kota Bogor, lokasi Kebun Raya Bogor berada di sebelah utara dari prasasti, sejauh kurang lebih 2,5 kilometer. (Bersambung)

Ardi Bramantyo

related

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

video

Popular

Pesantren Terapung – Nyantrik di Kapal

"Pesantren Terapung." Malam itu saya kebagian "ronda" di atas Rainbow Warrior yang sedang menyusuri Laut Jawa. Salah satu tugas "night watch" adalah menemani nahkoda melihat...

Memang “Pemerintahan Belanda” ada di Indonesia? Tidak. Yang ada “Perusahaan!”

Di Indonesia, selama ini yang diketahui dalam sejarah, setelah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie— perusahaan yang menjajah Nusantara karena rempah-rempah) bangkrut-- masuk Prancis dan Inggris--...

Batik Lingkungan Hidup

Tatang Elmi Wibowo berkulit coklat dan berambut ikal. Usianya 41 tahun. Hari itu, akhir Februari 2018, di galeri miliknya Leksa Ganesha, Dusun Tembi, Kecamatan...

Pasarnya Petani Kota Jakarta

Di Jakarta ada petani? Ya, betul, bahkan ada pasarnya! Datang saja ke Gudang Sarinah Ekosistem setiap Minggu, pekan pertama setiap bulan. Di sinilah para...

Petisi konyol, antara Dilan dan Pram, ehh Minke

Dilan Iqbaal Ramadhan jadi Cameo lagi Senang rasanya film Bumi Manusia di produksi dan nantinya akan di putar di bioskop, sehingga saya gak perlu menghabiskan...

Sudut Pandang Lakon dan Penonton

Ngeri ngeri sedap kritikus Film Sejak mula, membangun kisah para penderes nira kelapa di Ketanda Banyumas dalam sebuah karya film, selalu ada kecemasan kecemasan yang...

Menanam dan Memanen Air di Senjoyo

Bagi Ahmad Bahruddin, mata Air Senjoyo adalah hidup dan mati dirinya. Puluhan tahun lalu, air irigasi di kampungnya Kalibening, Kota Salatiga terlihat jernih dan...