Sabtu, Desember 5, 2020

Berjumpa Samida: Jejak-Jejak Konservasi Pajajaran di Kebun Raya Bogor (Diduga) Tertua di Dunia (1)

Prolog – Hutan di Tengah Kota

Kaki-kaki kecil Endang Sumitra berlarian riang di atas rerumputan hijau Kebun Raya Bogor. Anak usia tujuh tahun ini menjauhi kompleks Istana Bogor, sebuah istana presiden Republik Indonesia di mana Ayahnya bekerja di sana, dan Endang tinggal di salah satu bangunan di kompleks istana. Istana yang dibangun pada masa kolonial ini dibangun oleh Gustaaf W. van Imhoff, Gubernur Jenderal VOC pada 1745. untuk tempat tetirah Gubernur Jenderal. Bangunannya yang kokoh, megah, indah, dan eksotis itu semakin lama semakin tak kelihatan, mengecil, terhalang pepohon yang semakin lebat.

Endang bersama teman-temannya berjalan semakin jauh, memasuki rimbunan pohon besar dan kecil aneka jenis, rerumputan, melewati jalan-jalan setapak, telaga, hingga Sungai Ciliwung. Halaman istana dan kebun raya memang menjadi satu kala itu. Kalau kini sudah dibatasi pagar dengan pengamanan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) yang ketat. Kebun raya yang indah ini menjadi area bermain Endang dan kawan-kawannya sehari-hari. Kebun Raya seluas 87 hektare yang memiliki koleksi 3.700 jenis pohon, dan tak kurang dari 69 ribu tanaman umum ini bak hutan di tengah Kota Bogor yang sejuk di Jawa Barat, Indonesia.

Endang selalu senang bermain di Kebun Raya Bogor. Siapa yang tak senang bermain dan berlari-larian di lapangan rumput yang luas, sembunyi di pepohonan, meliuk-liuk di antaranya, menelusuri jalan setapak, hingga mandi di sumber mata air. Ketika bermain di sana, ada tiga tempat yang sudah dikenal Endang dan selalu diingat: Makam Mbah Jepra, Cikahuripan, dan Sipatahunan.

Makam Mbah Jepra adalah sebuah makam lama. Tidak diketahui persis siapa yang dimakamkan di sana. Tetapi makam ini sudah ada di Kebun Raya Bogor sejak dahulu. Makam ini dikeramatkan oleh masyarakat. Banyak orang dari Bogor maupun luar kota Bogor datang untuk berziarah ke Makam Mbah Jepra.

Kemudian, Cikahuripan adalah salah satu sumber mata air yang ada di Kebun Raya Bogor. Letaknya tidak jauh dari aliran Sungai Ciliwung, sungai besar yang berada di bawah sumber mata air tersebut. Posisinya berada di bawah Istana Bogor. Biasanya, dua obyek ini (Mbah Jepra dan Sumber Mata Air Cikahuripan) oleh masyarakat kerap didatangi secara berurutan. Pertama, ketika datang, berziarah ke Makam Mbah Jepra, lalu dilanjutkan dengan mandi di Sumber Mata Air Cikahuripan, mensucikan diri dan mengalap berkah. Juga sebaliknya. Atau, setidaknya mengambil air dari Cikahuripan untuk dibawa pulang, bila tidak ke Makam Mbah Jepra.

Bagi Endang, mata air ini mempunyai kesenangan tersendiri. Seusai main, Endang dan kawan-kawan sering mandi membersihkan dan menyegarkan diri di Mata Air Cikahuripan, di bak yang menampung airnya. “Airnya sejuk, segar. Cikahuripan adalah sumber mata air yang tidak pernah kering, hingga kini,” kata Endang dewasa ketika ditemui pada Agustus 2019 setelah purna tugas di Istana Bogor.

Ya, Endang juga mengikuti jejak orang tua, kakek, dan buyutnya, bekerja di Istana Bogor setelah dewasa (terakhir menjabat Kepala Sub Bagian Rumah Tangga dan Protokol Istana Bogor). Keluarga Endang dipercaya bekerja di Istana Bogor sejak jaman Hindia Belanda hingga Jaman Kemerdekaan, Republik Indonesia, secara turun temurun. Kini, anak Endang pun meniti karir di Istana Bogor, mengikuti jejaknya.

Selain itu, ada Sipatahunan, kalau ini letaknya berada di Sungai Ciliwung yang melewati Kebun Raya Bogor. Penandanya adalah di mana arus Sungai Ciliwung agak berbelok membentuk ceruk (legokan) sungai yang lebih dalam dari bidang lain sungai. Di sini  tempat air berkumpul lebih banyak.“Orang-orang tua dulu menyebutnya Leuwi Sipatahunan,” ujar Endang.

Situs-Situs Sejarah

Ketika bermain di sekitar tiga lokasi tersebut (Makam Mbah Jepra, Mata Air Cikahuripan, dan Leuwi Sipatahunan) Endang juga melihat ada beberapa fenomena yang lain dari biasanya di lingkungan Kebun Raya Bogor yang tersebar di sekitarnya. Ada sebuah batu besar utuh (semacam monolit) setinggi sekitar satu meter yang tertanam di atas tanah berumput, tidak jauh dari Mata Air Cikahuripan. Orang-orang kerap menyebutnya Batu Semar (mungkin karena bentuknya seperti Semar bila dilihat dari salah satu sudut).

Tak hanya itu, di area sekitar batu besar tersebut terhampar pula batu-batu alam yang tertanam secara rapih, tertata, dan rata, seperti membentuk lapangan yang dikeraskan, semacam plasa. Terlihat seperti terdapat campur tangan manusia. Batu kali besar tampaknya ditanam secara teratur berjarak sekitar 50 hingga 60 centimeter antar batu. Permukaan satu batu yang tampak di permukaan tanah berdiameter sekitar 30 hingga 40 centimeter. Berwarna abu-abu kecoklatan tanah. Permukaannya rata seperti tegel yang rata dengan permukaan tanah rerumputan. Orang Sunda sering menyebutnya Ngabalay, mengeraskan dan meratakan tanah dengan batu untuk jalan atau lapangan (plasa).

Luas plasa tersebut tak kurang dari 1.000 meter persegi. Dengan kepadatan katakanlah satu orang menempati (berdiri atau duduk) lahan satu meter persegi, maka bila berkumpul di sana, bisa diperkirakan dapat menampung sekitar 1.000 orang, paling sedikit 600 sampai 700 orang.

Nah, ketika berjalan agak ke ujung plasa, di dekat undakan menuju tanah yang lebih atas seperti tebing, terdapat telaga, semacam kolam besar dengan sumber mata air yang mengalir terus dari mata air. Sekeliling kolam terlihat dikeraskan dan dipadatkan dengan tumpukan batu kali yang berwarna sama dengan batu-batu Ngabalay. Di tengah kolam bertebaran batu kali bulat sebesar kepalan tangan orang dewasa berwarna abu-abu gelap. Airnya jernih, sehingga dasar kolam terlihat jelas. Bila mendekati telaga ini, Endang terngiang pesan Ayahnya,”Jangan main di Sumur Bandung ya.” Katanya Sumur Bandung adalah sebuah sumur yang sangat dalam, bila orang tercebur di dalamnya maka akan hilang tak ketemu. Tapi, Endang sendiri sedari kecil hingga dewasa saat ini belum pernah memastikan dan melihat Sumur Bandung itu yang mana. (Bersambung)

Ardi Bramantyo

related

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

video

Popular

Pesantren Terapung – Nyantrik di Kapal

"Pesantren Terapung." Malam itu saya kebagian "ronda" di atas Rainbow Warrior yang sedang menyusuri Laut Jawa. Salah satu tugas "night watch" adalah menemani nahkoda melihat...

Memang “Pemerintahan Belanda” ada di Indonesia? Tidak. Yang ada “Perusahaan!”

Di Indonesia, selama ini yang diketahui dalam sejarah, setelah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie— perusahaan yang menjajah Nusantara karena rempah-rempah) bangkrut-- masuk Prancis dan Inggris--...

Batik Lingkungan Hidup

Tatang Elmi Wibowo berkulit coklat dan berambut ikal. Usianya 41 tahun. Hari itu, akhir Februari 2018, di galeri miliknya Leksa Ganesha, Dusun Tembi, Kecamatan...

Pasarnya Petani Kota Jakarta

Di Jakarta ada petani? Ya, betul, bahkan ada pasarnya! Datang saja ke Gudang Sarinah Ekosistem setiap Minggu, pekan pertama setiap bulan. Di sinilah para...

Petisi konyol, antara Dilan dan Pram, ehh Minke

Dilan Iqbaal Ramadhan jadi Cameo lagi Senang rasanya film Bumi Manusia di produksi dan nantinya akan di putar di bioskop, sehingga saya gak perlu menghabiskan...

Sudut Pandang Lakon dan Penonton

Ngeri ngeri sedap kritikus Film Sejak mula, membangun kisah para penderes nira kelapa di Ketanda Banyumas dalam sebuah karya film, selalu ada kecemasan kecemasan yang...

Menanam dan Memanen Air di Senjoyo

Bagi Ahmad Bahruddin, mata Air Senjoyo adalah hidup dan mati dirinya. Puluhan tahun lalu, air irigasi di kampungnya Kalibening, Kota Salatiga terlihat jernih dan...