Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern menyatakan terima kasih kepada “Satuan Tugas (Satgas)” Covid-19 Selandia Baru yang berjumlah lima juta orang yang berhasil mengendalikan Covid-19 di Negeri Kiwi tersebut. “Saya berterima kasih kepada Tim 5 Juta Orang yang telah berkorban yang untuk melindungi warga negara yang paling rentan, terutama orang tua dan orang berisiko tinggi,” kata Ardern pada 11 Mei 2020. “Semua lapisan masyarakat dengan tekad dan tegas menyatakan bahwa perang ini dapat kita menangkan pada akhirnya, bila kita beraksi bersama,” imbuhnya. 

Ya, jangan heran, Tim 5 Juta Orang yang dimaksud Ardern adalah seluruh warga negara Selandia Baru yang berjumlah sekitar lima juta orang. Hal ini kerap disebutkan Ardern kepada publik. Inilah dasar yang dapat membuat masyarakat Selandia Baru berhasil dalam perang melawan Covid-19. Hampir semua warga negara Selandia Baru kompak bersama-sama beraksi melawan Covid.  

Selandia Baru menjadi negara nomor satu dalam melawan Pandemi Covid-19. The Lowy Institute, menempatkan Selandia Baru pada urutan pertama kinerja negara-negara di dunia dalam menangani Covid-19. Lembaga yang berada di Sydney, New South Wales, Australia itu membuat peringkat 98 negara (Cina tidak termasuk, karena kesulitan pengumpulan data) dalam menangani Pandemi Covid-19. Indonesia menempati urutan ke-85, terpaut satu angka di atas India dalam Covid Performance Index ini.

Tercatat data tertinggi di Negara Kiwi ini: 1.500 orang terinveksi Covid-19 dan 20 orang meninggal dunia. Kasus infeksi pertama di Selandia Baru ditemukan pada 28 Februari 2020. Sistem peringatan siaga di sana langsung dimulai pada Level Dua (dengan Level Empat yang tertinggi). Sejak 16 Maret, setiap orang yang baru masuk ke Selandia Baru— termasuk warga negara Selandia Baru— wajib menjalani isolasi diri.

Tak lama kemudian, pada 19 Maret 2020, Jacinda Ardern bertindak cepat lagi, menaikkan siaga menjadi Level Empat, perbatasan negara ditutup. Padahal saat itu, jumlah warga yang terinveksi Covid-19 di Selandia Baru “baru” 102 orang, tanpa ada yang meninggal dunia. Bandingkan, pada saat yang sama di Inggris terdapat 6.500 kasus positif Covid-19 dan 330 kematian. Selandia Baru dengan Level Empat memberlakukan karantina wilayah secara nasional, warga diwajibkan tinggal di rumah, hanya layanan dasar saja yang diizinkan beroperasi.

“Menerapkan ketentuan sejak dini, saat baru ada beberapa kasus positif di seluruh dunia, memungkinkan Selandia Baru menutup gelombang masuk virus dan menghentikan transmisi lokal,” kata Martin Baker, pakar ekonomi, Universitas Massey, Selandia Baru.

Tindakan cepat dan tegas dilakukan Jacinda Ardern sejak awal, ini menjadi kunci. Selandia Baru segera melakukan lockdown nasional di awal pandemi ketika pasien masih 102 orang dan negara-negara lain masih ragu-ragu untuk mengunci wilayahnya. Dan, kebijakan ini didukung oleh hampir seluruh warga negara Selandia Baru. Mereka sadar bahwa bila tidak melakukan hal tersebut, maka keadaan akan semakin buruk. Sadar pula bahwa fasilitas perawatan kesehatan di sana tak akan mampu menampung bila pasien melonjak drastis. Menurut survei, 87 persen warga Selandia Baru setuju dengan kebijakan yang diambil pemerintah.

Lalu, apa yang menyebabkan warga Selandia Baru sangat mendukung? Tampaknya, pemerintahnya dipercaya, struktur, dan infrastruktur pemerintahannya jalan. Plus, komunikasi yang baik yang dilakukan secara kontinyu. Jacinda Ardern berbicara langsung, ditambah pejabat kementerian kesehatan Ashley Bloomfield, Direktur Jenderal Kesehatan Selandia Baru. Ardern memberikan arah yang jelas untuk dituju. Dalam website pemerintah Selandia Baru pun, mengenai penanganan Covid-19 juga sangat lengkap, mulai dari serba-serbi Covid-19, cara mendapatkan masker, cara pembuatan poster peringatan, hingga cara dukungan finansial bila isolasi dan diam di rumah, hingga dukungan finansial untuk bisnis.

Masyarakat Selandia Baru terbiasa pula mencari sumber informasi yang terpercaya, kredibel, dan terverifikasi. “71 persen masyarakat mengandalkan media massa seperti koran, televisi, dan radio, untuk memperoleh informasi. Masyarakat Selandia Baru tak terlalu mengandalkan media sosial atau internet dalam mencari informasi,” kata Tantowi Yahya, Duta Besar Republik Indonesia untuk Selandia Baru, Samoa, Tonga, Kepulauan Cook, dan Niue.

Untuk mengatasi Covid-19, Pemerintah Selandia Baru selalu berkonsultasi dan mendengarkan ilmuwan. Kerjasama antara pemerintah dan saintis sangat erat. Kebijakan-kebijakan mereka selalu berdasarkan ilmu pengetahuan. Dalam beberapa konferensi pers, Ardern tidak bicara dan menyerahkannya kepada Bloomfield bila berkaitan dengan hal ilmiah. Ardern juga mematuhi saran dari ahli penyakit menular dan tim medis. “Di Selandia Baru, ada ikatan yang luar biasa antara ahli ilmu pengetahuan yang baik dan kepemimpinan yang cerdas, dan keduanya saya kira sangat efektif,” kata Michael Baker, dari Fakultas Kesehatan Publik, Universitas Otago, Selandia Baru. (Bersambung)

Ardi Bramantyo (BBC, Kumparan, The Guardian, Global Strategis, TEMPO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here