Setelah Selandia Baru dikunci, ditutup, diisolasi, Pemerintah Selandia Baru segera melakukan pengetesan Covid-19 secara masif. Pada 28 April 2020, Selandia Baru mampu melakukan pengetesan sebanyak 8 ribu tes per hari. Tercatat pada April 2020, Selandia Baru berhasil melakukan tes terhadap 126 ribu orang (dengan total jumlah penduduk 5 juta orang)— bandingkan dengan Inggris yang baru bisa melakukan pengetesan sebanyak 719.910 orang, dari total penduduk yang 13 kali lebih banyak dari Selandia Baru.

Melalui hasil pengetesan dan tracking (pelacakan) yang baik ini, Selandia Baru dapat mengetahui siapa-siapa saja yang terinfeksi, serta melakukan isolasi (karantina) dan perawatan terhadap pasien hingga sembuh dan virusnya hilang, mati. Aplikasi Covid Tracer dapat digunakan penduduk. Lewat aplikasi ini, pengguna dapat mengetahui status keamanan tempat yang akan dikunjungi dengan memindai QR code (kode respons cepat) yang ditempel di tempat-tempat umum. Dengan aplikasi ini pula, pemerintah dapat dengan cepat melacak bila ada warga yang positif Covid-19.

Dalam pengetesan ini, diketahui juga bahwa Covid-19 akhirnya tidak meluas di Selandia Baru. Hal ini dapat dilihat dari hasil rata-rata positif dalam pengujian. Menurut Mike Ryan, Direktur Eksekutif WHO untuk Program Kesehatan Darurat, patokan untuk melihat bahwa Covid tidak menyebar luas: satu kasus positif untuk setiap 10 negatif. Jadi, pandemi disebut tidak menyebar di sebuah negara jika hasil positifnya hanya sekitar 9 persen dari total pengujian. Selandia Baru memiliki rata-rata hasil positif sekitar 1 persen. “Hal ini menunjukkan bahwa corona belum menyebar luas di Selandia Baru berkat lockdown yang dilakukan dengan cepat,” ujar Ardern. Secara umum, satu orang penderita Covid berpotensi menularkan sekitar 2,5 persen. Dengan lockdown, Selandia Baru bisa menurunkan angka itu menjadi 0,4 persen.

Pada awal pekan kedua Juni 2020, tersisa satu pasien Covid-19 yang dirawat, yang lainnya sudah sembuh. Lockdown nasional, atau level empat, sudah berlangsung selama dua bulan. Melihat hal ini, Ardern menurunkan level siaga menjadi level satu. Lockdown mulai bisa dilonggarkan, tapi masih harus mengikuti protokol kesehatan yang berlaku. Pemerintah mencabut larangan pembatasan orang berkumpul di ruang publik, seperti di bar, café, dan restoran. Kemudian akan dilihat apakah pencabutan ini (penurunan level siaga) akan menyebabkan peningkatan kasus Covid atau tidak. “Jika tidak bertambah, maka ini adalah posisi yang bagus untuk maju,” kata Ardern. Bila kasus meningkat, level kesiagaan pun dinaikkan kembali.

“Selandia Baru menerapkan strategi eliminasi yang membawa hasil yang efektif. Perdana Menteri Jacinda Ardern menetapkan target melandaikan kurva akibat inveksi Covid-19 secara ambisius: menghapus virus tersebut secara menyeluruh dari negaranya,” kata Baiq Wardhani, dari Universitas Airlangga, Surabaya, dalam tulisan: The Kiwi Way: Strategi Eliminasi Covid-19 Selandia Baru.

Untuk menghadapi Covid-19, menurut Witton, bisa dikelompokkan ada lima strategi yang dapat dipilih untuk menghadapi Covid-19:Exclusion, yaitu tindakan maksimum untuk menghilangkan penyakit; Elimination, yaitu tindakan maksimal untuk menyingkirkan penyakit dan menghilangkan rantai penularan; Suppression, yaitu tindakan untuk menekan jumlah kasus dan wabah dengan cara yang ditargetkan; Mitigation, adalah tindakan untuk meratakan kurva dan melindungi kelompok paling rentan; dan No substantive strategy, yaitu menghasilkan pandemi tidak terkendali.

Pihak yang tidak setuju, beranggapan bahwa Eliminasi membawa korban cukup besar dalam kegiatan ekonomi. Kebijakan Eliminasi sebagai perampasan hak kebebasan individu, mengorbankan terlalu besar kegiatan ekonomi. Mereka mengambil contoh sektor pariwisata sebagai sektor penyumbang besar bagi pemasukan negara, akan mengalami pukulan sangat hebat, dengan tidak adanya turis asing yang masuk ke Selandia Baru.

Sedangkan pihak yang mendukung berpikir bahwa strategi ini merupakan jalan terbaik untuk mengurangi penyebaran dan mengeliminasi Covid-19. Mereka menyadari bahwa penguncian negara mereka tidak akan berlangsung selamanya. “Brutal untuk ekonomi, tapi benefit (manfaat) besarnya Anda punya jalan keluar,” kata Brad Olsen, penasihat ekonomi senior Selandia Baru.

Itulah yang dilakukan Selandia Baru dalam menghadapi Covid-19.

Pada 12 Januari 2021 di Botanic Garden Soundshell, kebun raya di Wellington, ibu kota Selandia Baru, ratusan orang berjoget mengikuti irama lagu, menikmati pertunjukkan musik band rock and roll, OdeSSA. Café hingga restoran di Selandia Baru sudah buka kembali dan dipenuhi orang seperti biasa. Tak ada masker, tak ada jarak, dan tak ada pembatasan kerumunan. Masyarakat masih memakai masker dalam penerbangan domestik atau ketika merasa membutuhkan.

“Pertarungan ini kita menangkan, tapi perang belum berakhir,” kata Jacinda Ardern. Selandia Baru masih mengunci perbatasan wilayahnya. Menurut Ardern, negerinya baru bisa normal sepenuhnya jika kondisi dunia membaik.

Bravo, Tim 5 Juta Orang Covid-19 Selandia Baru!

Ardi Bramantyo (BBC, Kumparan, The Guardian, Global Strategis, TEMPO)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here