Apakah omong kosong paling besar yang paling populer dari Bangsa Indonesia? Adalah gotong royong!

Bung Karno sendiri pasti sedih ketika mengetahui bangsa ini hanya jadikan gotong royong– eka sila lalu satu sila dari hasil perasan Pancasila– ini hanya jadi omong kosong belaka dari bangsa ini.

Gotong royong, artinya setiap anak bangsa ini diharap mau mengangkat beban bersama-sama. Itu artinya setiap bebanmu adalah beban bagiku, bagi yang lainya.

Kita gotong beban orang lain secara royongan, secara bersama-sama agar beban hidup anak bangsa lainya menjadi lebih ringan. Ringan sama-sama kita jinjing dan berat sama- sama kita pikul. Itulah gotong royong.

Agar satu anak bangsa yang satu tidak meringis sendirian menahan lapar, maka kita harus bisa berbagi rejeki. Jangan kangkangi penghasilan itu menjadi milik sendiri, untuk keluarga sendiri, dan kelompok sendiri.

Agar anak bangsa ini bisa cukup pangan, cukup sandang, punya papan, maka jangan kamu anggap bahwa mereka warga bangsa yang miskin papa dan tak berdaya harus menanggungnya sendiri.

Gotong royong itu artinya berbagi, ada solidaritas, ada rasa iba, dan rasa kemanusiaan kita dalam hidup sehari-hari.

Kalau bangsa ini mau bergotong royong maka tak akan ada anak kecil mengais makanan dari tong sampah dan menggigil sendirian melewatkan malam dingin di emperan toko-tokomu.

Kalau kamu praktekkan gotong royong maka tak akan kamu ambil gaji hingga puluhan miliar, sementara gaji karyawan seperti office boy, bagian cleaning service, dan satpam kamu biarkan hanya dalam batas upah minimum hidup– dan masih dipotong perusahaan outsoursing hingga sepertiga dari gaji mereka.

Kalau kamu praktekkan gotong royong, tak akan ada satu orang anak bangsa ini yang kangkangi tanah hingga jutaan hektar, sementara jutaan orang warga negara tak punya tanah sejengkal pun. 

Kalau bangsa ini praktekkan gotong royong, tak akan ada mereka yang berpesta pora hamburkan makan dan minuman hingga ratusan miliar untuk pesta pernikahan, sementara banyak buruh-buruh di tempat kerja, di pabrik-pabrik, menderita karena gaji tak lagi mencukupi hidup sehari-hari.

Kalau gotong royong, kamu tak akan serakah menggusur mereka yang tinggal di bantaran kali. Tidak membabat hutan, mengalienasi mereka yang ada di hutan tempat nenek moyang mereka menggantungkan hidup sehari-hari, hanya demi kesenangan batinmu menumpuk numpuk hartamu!

Kalau kamu praktekkan gotong royong, tak akan ada anak negeri dari negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi ini yang hidup terus dibodohi, dikadali oleh segelintir elit bangsa ini.

Kalau gotong royong ada dalam hidup sehari-hari maka kamu tak akan hanya pidatokan statistik pertumbuhan ekonomi, sementara hidup rakyat banyak serasa tercekik setiap hari.

Kalau kamu mengerti gotong royong, maka tak akan ada penghisapan manusia atas manusia lagi.

Kalau kamu praktekkan gotong royong, pasti kamu tak akan meneras pajak bagi yang kecil dan lemah namun kamu bebaskan mereka yang kaya raya.

Kalau kamu praktekkan gotong royong, tak akan tumpuk hartamu untuk membangun istanamu sendiri.

Kalau kamu praktekkan gotong royong maka ekonomi gotong royong seperti koperasi– seperti amanat Konstitusi– sudah pasti maju pesat, tidak seperti saat ini.

Kamu tidak membutuhkan gotong royong. Kamu suka simpan uangmu untuk tujuan dilipatgandakan lewat spekulasi. Kamu hanya ingin belanjakan uangmu untuk kepuasan nafsumu sendiri.

Kamu tidak butuh gotong royong! Kamu hanya butuh hidup sendiri-sendiri! 

Suroto

Ketua AKSES (Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here