Bung Hatta pada 1951 mengatakan, koperasi adalah lawan tanding kapitalisme secara fundamental, mendasar. Kata-kata Bung Hatta ini sulit saya pahami ketika saya baru belajar koperasi pada 23 tahun silam.

Bagaimana tidak? Dalam kenyataan sehari-hari yang saya lihat, koperasi ini tak ubahnya sebuah usaha simpan pinjam kecil-kecilan, toko kelontong, dan usaha fotokopian di pojok kantor.

Tapi, setelah saya membaca dan melihat sendiri koperasi di berbagai belahan dunia, saya baru paham, bahwa secara teori dan kenyataan koperasi itu benar benar bisa menjadi lawan tanding korporat kapitalis.

Kenyataan dan optimisme itu setidaknya bisa saya lihat dari Koperasi Pekerja Mondragon atau Mondragon Worker Co-operative Group (MWCG).

MWCG ini adalah sebuah group koperasi yang bergerak di berbagai sektor bisnis, dari industri, keuangan, ritel, hingga pendidikan. Putaran bisnisnya sampai dengan 32 ribu trilyun rupiah dengan kekayaan sebesar 70 ribu trilyun.

Putaran bisnisnya kalau dibandingkan dengan ekonomi nasional Indonesia setara dengan tiga kali lipat Produk Domestik Bruto (PDB) kita. Demikian juga kekayaanya, kalau dibandingkan dengan keseluruhan kekayaan bank kita juga 3.5 kali lipatnya.

MWCG adalah bisnis terbesar di Basque, negara bagian utara Spanyol dan merupakan usaha nomor empat terbesar di Spanyol.

Koperasi Mondragon ini tentu bukan sebuah bisnis yang langsung besar. Tapi, dimulai dengan kegiatan yang sangat sederhana, dimulai dari usaha kecil-kecilan yang kemudian membesar perlahan-lahan selama 70 tahun. 

Koperasi raksasa ini dimulai pada 1941, ketika Spanyol remuk redam dilanda oleh perang saudara. Dimulai oleh lima orang anak lulusan “STM” dengan motivator dan supervisi seorang Pastur Ordo Jesuit, Jose Maria Arimendes.

Maria Arimendes yang ditugaskan di Kota Mondragon pada 1941, kemudian mendirikan sebuah sekolah teknik kecil atau STM pada 1943. Tujuannya adalah untuk mengisi tenaga kerja bagi perusahaan lokal.

Anak-anak didiknya dia bekali tentang kemanusiaan, partisipasi aktif, dan solidaritas yang merupakan bagian dari spirit ajaran sosial gereja. Selain pengetahuan dan ketrampilan teknis industri tentunya.

Ketika anak-anak STM ini lulus, tidak semua segera mendapatkan pekerjaan. Mereka lalu menanyakan pekerjaan pada Pastur. Lalu, pastur mengatakan kenapa harus mencari pekerjaan? Kenapa tidak ciptakan pekerjaan sendiri?

Dari beberapa anak lulusan STM yang menanyakan pekerjaan ini lalu disuruh Pastur untuk ciptakan produk peralatan rumah tangga yang memang dibutuhkan masyarakat. Kemudian, anak- anak STM ini memulai dengan membuat alat pemanas ruangan.

Usaha tersebut kemudian berkembang pesat. Mereka menanyakan kembali, bagaimana dengan kepemilikkan dari perusahaan tersebut? Pastur menjawab, “pemilik dari perusahaan ini ialah kalian para pekerjanya, dalam prinsip setiap orang kedaulatanya sama, satu orang satu suara, itulah koperasi pekerja namanya.”

Perkembangan MWCG ini memang tidak terlepas dari semangat yang berkembang di masyarakat Spanyol yang ingin merdeka dan berdaulat atas diri mereka sendiri, lalu membuat perubahan sistem bisnis dan sistem ekonomi nasional mereka.

Budaya Autarki, atau semacam budaya untuk memenuhi kebutuhan komunitas mereka sendiri secara mandiri turut memperkuat dan mempercepat perkembangan koperasi. Ini semacam tradisi Swadesi di India atau kalau di Indonesia mungkin semacam Berdikarinya Bung Karno. 

Koperasi Mondragon ini adalah perusahaan yang unik. Dari 80 ribuan keseluruhan pekerjanya ini, di dalam kartu nama mereka masing masing tertulis “I am the Boss” atau saya adalah bosnya perusahaan ini.

Jadi, jangan coba cari siapa bos dari perusahaan tersebut, karena dari jabatan office boy (OB), teknisi, sampai dengan presiden direkturnya, semua mengaku sebagai bos atau pemilik perusahaan.

Memang benar, mereka semua yang bekerja itu adalah bos dari perusahaan tersebut. Jabatan apapun, hak suara mereka sama: satu orang satu suara.

Tidak ada yang merasa rendah diri dengan jabatan mereka di perusahaan tersebut. Mereka semua bermental sebagai pemilik perusahaan. Mereka benar-benar mempraktekkan demokrasi dan kedaulatan manusia di tempat kerja dan kehidupan sehari hari.

Karena itu kenapa gaji mereka pun bisa ditetapkan hanya 1 : 6 kali lipat dari gaji tertinggi sampai dengan yang terendah. Tidak seperti korporat kapitalis di negeri kita yang gajinya antara presiden direktur dan office boy-nya bisa sampai 2.000-an kali lipat. Seperti misalnya, gaji direktur utama Bank BUMN di Indonesia sampai dengan 5 milyar rupiah, sementara OB-nya hanya 3 juta rupiah.

Koperasi raksasa Mondragon dan koperasi lainya seperti Koperasi Olah Raga– yang salah satu cabangnya adalah Barcelona Football Club– pada waktu terjadi krisis ekonomi di Spanyol pada 2008 juga telah berhasil jadi rompi pengaman bagi ekonomi Spanyol.

Bahkan perusahaan baja Amerika Serikat yang hancur berantakan karena krisis telah diselamatkan oleh Koperasi Mondragon dengan permintaan pertolongan penuh kerendahan diri secara resmi keluar dari mulut Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama, waktu itu.

MWCG bekerjasama dengan Serikat Perkerja Baja Amerika dan promotor gerakan Kepemilikkan Saham untuk Buruh di Ohio (Ohio Employee Share Ownership Center), Amerika Serikat, mendirikan koperasi pekerja. Sesuatu yang sulit dilakukan di Indonesia karena menurut Undang-undang (UU) Penanaman Modal kita bahwa setiap investasi asing diwajibkan berbentuk perseroan. Saya tidak paham apa yang ada di benak pemerintah dan DPR kita sebagai pembuat UU.

MWCG ini bergerak terus di seluruh dunia dan ada 122 kantor perwakilan pendukung untuk pengembangan koperasi di lebih dari 15 negara. Mereka mengembangkan koperasi di sektor industri dengan maksud untuk ciptakan suplai kebutuhan peralatan rumah rumah tangga hingga otomotif yang murah, karena langsung dikembangkan secara lokal.

Bisnis MWCG ini sekarang merambah terus ke hampir seluruh sektor. Bisnis keuangan, seperti Bank Laboral, Asuransi Seguros, dan Asuransi Sosial Lagun. Kemudian, industri, arsitektur, telekomunikasi, energi terbarukan, alat rumah tangga, alat olah raga, hingga elektronik. Di sektor ritel dibangun koperasi konsumen multipihak EROSKI yang awalnya merupakan merger dari 10 koperasi konsumen kecil. Di bidang pendidikan didirikan Universitas Mondragon.

Koperasi Mondragon ini besar juga karena nilai-nilai dan prinsip koperasi yang mereka pegang teguh dan jalankan secara serius. Seperti nilai kerjasama, partisipasi aktif, distribusi kekayaan dan pendapatan, inovasi, serta fokus pada perbaikan dan pengembangan.

Prinsip Koperasi Mondragon ini juga sama dengan prinsip koperasi yang baik di seluruh dunia. Mereka mengembangkanya dalam prinsip operasional: menerima keterbukaan, organisasi yang  demokratis, kedaulatan pekerja, modal hanya sebagai alat bantu, manajemen partisipatif, gaji yang bersolidaritas, kerjasama antar koperasi, komitmen untuk ikut lakukan transformasi sosial, universalitas, dan pendidikan.

Keberhasilan Koperasi Mondragon ini tidak hanya didukung oleh spirit kemandirian yang sangat ideologis, tapi juga tata kelola yang baik dan program kerja serta perencanaan jangka panjang yang mantap.

Seorang Noam Chomsky, sosiolog dan filsuf terkenal ini mengatakan bahwa Koperasi Mondragon adalah lawan nyata dari kapitalisme dalam praktek.

Joseph Stigliz, penerima Nobel Ekonomi, mengatakan, sebaiknya kita belajar dari sistem koperasi ini sebagai alternatif dari sistem kapitalisme yang hanya sisakan kesenjangan dan kerusakan lingkungan saat ini.

Koperasi Mondragon adalah bukti bahwa perusahaan yang dikelola secara demokratis bisa berjalan dan tumbuh besar. Koperasi benar-benar bukan hanya telah menjadi bukti bahwa ekonomi tumbuh dengan keadilan itu bisa terjadi, tapi juga mampu hargai dan tempatkan manusia secara manusiawi di atas kuasa atas modal.

Pada awal 2021, International Co-operative Alliance (ICA atau gerakan koperasi dunia) merilis 300 koperasi besar dunia. Mondragon adalah salah satunya. Dari 300 koperasi besar itu, 26 persennya dari Amerika Serikat yang kita tuduh kapitalis. Koperasi negara tetangga kita, seperti Singapura dan Malaysia juga masuk 300 koperasi besar tersebut. Sedangkan dari Indonesia tidak satupun yang masuk.

Ada salah pengertian dari sebagian kita, dikiranya koperasi bisa berkembang di negara kapitalis jadi kita disuruh ikut jadi penganut sistem kapitalis, atau setidaknya jadi penganut sistem kapitalis pinggiran.

Padahal dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan, mereka itu besar karena koperasi itu benar-benar diposisikan sebagai lawan tanding dari kapitalisme. Mereka benar benar menanamkan semangat untuk melawan korporat kapitalis, bukan disub-kontrakkan, atau dikempongi oleh korporat kapitalis yang terus menerus dibina(sa) dalam bentuk program bapak angkatlah, anak angkat, dan terakhir Program Kementerian Koperasi dan UKM dalam bentuk Kakak Angkat.

Suroto

Ketua AKSES (Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis) dan CEO INKUR Federation (Induk Koperasi Usaha Rakyat)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here