“Wanita itu sudah tiada, dan ia tinggal sendiri tanpa keluarga atau teman. Sulit untuk mengetahui fakta lain tentangnya,” kata Bian. “Aku mencoba serasional mungkin, jadi, maaf. Kurasa kalian harus menutup kasus bunuh diri sang wanita. Tidak ada petunjuk lain.”

“Tapi, kita tidak bisa menutup kasus tanpa pemecahan masalahnya!” jerit si koroner, membuat orang-orang menoleh. Bian mundur selangkah, tersentak. “Kita tidak bisa menutupnya begitu saja. Walaupun ia sebatang kara semasa hidupnya. Dan kau, Bian. Jangan bicara apa-apa soal pembunuhan tiga orang ini. Jangan, kepada siapapun di apartemenmu apalagi di luar,” pesannya.

“Aku tidak punya teman. Itu tidak masalah,” sambar Bian. “Tapi, kau harus tahu, aku jatuh cinta pada pria yang tinggal di kamar apartemen itu. Ia memiliki buku puisiku dan aku memiliki piringan hitamnya.”

“Maksudmu, saksi mata bunuh diri wanita tempo hari? Aku yakin sekali ia memiliki hubungan dalam kasus ini. Jelaskan ciri-cirinya pada polisi dan pencarian akan dilakukan,” tukas si koroner.

“Aku akan melakukannya,” jawab Bian.

“Hati-hati, Bian. Otak dan hati harus sejalan,” kata si koroner.

Tanpa Bian sadari, pertemuan sederhananya bisa membantu investigasi polisi. Koroner tersebut melaporkan bahwa Bian pernah bertemu dengan tersangka pertama. Seorang saksi mata kejadian bunuh diri seorang wanita yang cukup mencurigakan, karena terjadi selang beberapa hari dengan pembunuhan tiga orang di apartemen yang sama.

****

Perempuan itu seperti kelinci. Ia tidak akan terpancing keluar dari lubang persembunyiannya tanpa dipancing. Dan aku rasa, aku berhasil memancing gadis bernama Bian itu keluar. Ia berjalan menuju apartemenku, membawa piringan hitamku. Namun, saat ia mengetuk-ngetuk pintu apartemenku, tidak ada jawaban. Ia terus menunggu, Bian bahkan mengintip dari lubangnya. Tapi, tidak ada yang keluar dan mengajaknya masuk.

Bian, aku tahu aku tidak akan menarik hatimu. Adalah sebuah khayalan bila seorang gadis cantik sepertimu mencintai aku. Tapi, aku berhasil memberikan hatiku padamu. Dari situlah aku selalu membayangkan dicintai olehmu, walau aku tahu itu hanya khayalan dan aku hanya bisa berharap, semoga kau mendapati pesan di dalam piringan hitam itu. Aku hanya ingin kau memahami pesannya.

****

Bian kembali ke apartemennya yang remang sembari memeluk lututnya. Ia duduk di atas mesin cuci. Lagu dari piringan hitam pemberian si pria asing mengalun. Mau bagaimana juga, Bian tidak bisa melepaskan pikiran tentang si pria asing. Bian berpikir dirinya pasti gila mengira lirik dari lagu yang tengah ia dengarkan sekarang adalah pesan yang ingin disampaikan si pria asing padanya.

If I get there before you

I will wait at the gate

I should tell you, I adore you

You walk by, I walk in late.

Bian tergopoh mengambil telepon genggamnya, menerima panggilan dari polisi yang menginterogasinya tadi siang.

“Besok, jam 11? Baik,” jawab Bian. Setelah telepon itu, Bian segera merebahkan diri di kasurnya, tidur. Akan tetapi, Bian teringat sesuatu. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menunggu sang pria asing lewat suara langkah kaki. Maka, Bian tidak tidur dan berjalan menuju dapurnya. Bian menyeduh kopi sembari menunggu pria yang dicintainya datang. Lama sekali. Bian lelah menunggu. Kepalanya sudah oleng, Bian sebentar lagi jatuh tertidur di atas kompor.

Tuk…tuk…tuk

Bian nyaris berseru histeris. Gadis itu berlari ke ambang pintu, menarik gagang pintu dan bersiap menyambut siapapun yang muncul. Dengan perasaan begitu senang, Bian berjalan keluar, berdebar-debar. Sesampainya di depan, Bian hanya bisa jatuh, terduduk. Kecewa karena tidak ada siapapun yang datang. Bian merasa patah hati. Laki-laki itu mungkin tidak akan datang.

Perasaannya kalut. Tidak ada wujud, suhu, aroma, atau suasana untuk dirasakan. Bian memeluk lututnya. Tidak mungkin pria itu ada di sini sekarang. Ia tidak melihat, mendapati, atau merasakan apapun tentang keberadaan sang pria saat ini, di depannya. Di depan kamar apartemennya.

I saw you

And I knew I want nothing more

And nothing different

Nothing more

Nothing different

****

(Bersambung)

Carissa Namira Alifia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here