Pelaku pembunuhan belum diketahui. Korban ada tiga orang. Semuanya terbaring di lantai rumah dengan lokasi yang berbeda-beda. Lantai kamar mandi, lantai dapur, dan lorong kamar, semuanya menjadi tempat mereka terkapar. Tempat Kejadian Perkara (TKP) belum boleh dimasuki siapapun kecuali petugas kepolisian yang memakai sarung tangan agar barang-barang di TKP tidak rusak atau berubah. Beberapa foto diambil, setelah itu tiga korban dibawa ke rumah sakit untuk diidentifikasi. Polisi pemimpin investigasi itu memanggil bawahannya, dan ia berkata,

“Jangan sampai ada seorang pun yang tahu. Seisi apartemen ini juga tidak boleh ada yang tahu.

“Siap, komandan.” Jawab bawahannya.

Pintu ditutup, para polisi dan petugas medis meninggalkan apartemen. Sepi, seolah tidak ada bekas-bekas dari pembunuhan yang terjadi. Garis polisi bahkan tidak terpasang.

***

Seorang gadis yang tinggal di lantai tiga apartemen tidak bisa tidur selama tiga malam lamanya. Pasalnya, ia belum mengembalikan sebuah piringan hitam kepada pria yang ditemuinya tempo hari. Ia merasa tidak enak belum mengembalikan, maka ia berusaha mencari kediaman laki-laki itu.

“Aku tinggal di lantai apartemen yang sama denganmu. Hanya berbeda lima kamar,” terangnya. Pertanyaannya adalah, bagaimana pria itu mengetahui kamar apartemen si gadis? Mereka tidak saling mengenal, keduanya hanya saksi mata dari kejadian bunuh diri di kompleks apartemen mereka.

Si gadis tengah berjalan dengan payung pada saat itu. Sang pria asing sedang ada di taman apartemen. Karena mereka berdua ada di saat seorang wanita terjun dari lantai 25, keduanya dibawa ke kantor polisi sebagai saksi mata. Dari situlah mereka saling mengenal. Keduanya pergi makan siang bersama setelah dari kantor polisi, kemudian bertukar barang. Piringan hitam untuk si gadis, buku puisi untuk sang pria.

Sebenarnya, sang gadis memberikan buku puisi itu karena ada pesan yang ingin ia sampaikan, dan ia harap pria itu menyadarinya. Kali ini, ia tengah menghitung empat pintu apartemen, ia tahu pada pintu kelima ia harus berhenti, lalu mengetuknya karena itulah rumah sang pria.

Dan di sinilah ia berada. Si gadis mengetuknya, menunggu jawaban. Berpikir mungkin pemilik rumahnya sedang tidur, gadis itu mengintip dari lubang pintu. Oh, pemandangan yang normal sekali. Lorong yang dilapisi karpet merah, sepasang meja dan kursi yang menghadap pada jendela, dan lampu yang menyala redup.

Gadis itu melangkah mundur. Mungkin pria itu sedang pergi, aku akan menunggu di apartemenku dan mengintip dari lubang pintu setiap ada langkah kaki. Pikirnya. Maka, ia berbalik dan meninggalkan apartemen tersebut. Yang gadis itu tidak ketahui adalah, di atas karpet merah itu, ada sebuah buku puisi. Dan tulisan yang tertera pada halaman yang terbuka adalah,

It was many and many a year ago,

In a kingdom by the sea,

That a maiden there lived whom you may know

By the name of Annabel Lee;

And this maiden she lived with no other thought

Than to love and be loved by me.

****

Profil korban berhasil diketahui. Penyebab kematian berhasil diketahui. Seorang wanita 40 tahun, pekerja sosial. Dibunuh dengan satu tembakan pada jantungnya. Seorang wanita, 22 tahun, mahasiswa. Dibunuh dengan satu tembakan pada jantungnya. Dan seorang pria, 33 tahun, dibunuh dengan dua tembakan; di kakinya dan di jantungnya. Ketiganya tidak punya hubungan kekerabatan. Semuanya bukan penghuni apartemen ini, dan mereka tinggal di lokasi yang berbeda-beda. Tidak teridentifikasi pola kekerabatan atau hubungan antara ketiganya.

Gadis itu bernama Bian. Ia tengah melihat-lihat poster orang hilang saat seorang koroner menghampirinya.  “Apa yang terjadi kemarin?” Tanya koroner itu.

“Kemarin? Tidak ada. Kemarinnya lagi? Tidak ada. Kalau kau bicara tentang seminggu yang lalu, lantas ada yang bisa kujelaskan. Beberapa hari kemarin tidak ada apapun yang terjadi,” jawab Bian.

“Baiklah. Pada hari apa seorang wanita melompat dan mengakhiri hidupnya?” tanya si koroner.

“Seminggu yang lalu. Sekarang hari Jumat, berarti Jumat yang lalu,” jawab Bian. “Aku sudah ditanyai polisi dan sekarang aku khawatir tidak bisa menjelaskan apa-apa lagi.”

“Aku hanya ingin mengetahui polanya. Pelaku dari pembunuhan ini sangatlah rumit pikirannya. Seperti sebuah labirin, dia membuatku dan semua investigator terperangkap. Apakah ia ada hubungannya dengan wanita yang tempo hari bunuh diri, aku ingin tahu,” jelas si koroner. (Bersambung)

Carissa Namira Alifia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here