Polisi yang ditemui Bian sangat marah begitu tahu cerita tersebut. “Padahal, kau bisa menangkap pembunuh tersebut! Laki-laki itu lewat begitu saja, padahal peluangmu besar untuk menangkapnya yang mungkin ingin mengambil sesuatu yang ia tinggalkan di TKP. Kau bodoh!” seru sang polisi.

Bian terdiam, tubuhnya bergetar. Secara logis ia tidak bisa bangun dan membentak sang polisi bahwa ia lebih mementingkan rasa cintanya pada sang pria asing ketimbang kenyataan bahwa sang pria asing adalah dalang di balik pembunuhan keji ini. Tapi justru karena itulah, Bian semakin terluka dan merasa berdosa, menyimpan cinta pada pembunuh keji.

“Dia mungkin kabur ke luar kota. Tim sudah dikirim untuk menyelidikinya. Hasil autopsi akan keluar tiga hari lagi. Bersiaplah, Bian.” Sang petugas meninggalkan Bian.

Bian melangkah keluar. Ia benar-benar patah hati. Sayangnya, cintanya tidak berdasar pada fakta apapun. Ia jatuh cinta tanpa syarat. Bukankah manusia nyatanya seperti itu? Manusia bisa cinta pada siapa saja. Orang asing di kereta. Orang asing di trotoar jalan. Sahabat mereka sendiri. Manusia tidak pernah bisa memilih, siapa yang akan mereka cintai. Hati manusia adalah mahluk liar. Saat ia memiliki keinginan, sulit untuk mencernanya dengan logika.

Mereka semua dibunuh, dengan begitu cepat seperti tertidur. Dengan peluru menembus kulit mereka. Bian tidak mampu membayangkan manusia jahat macam apa yang tega membunuh orang-orang yang tidak bersalah ini. Kacaunya, ia cinta laki-laki itu hanya karena tatapan mata yang dilihatnya saat di taman apartemen. Saat keduanya digiring ke kantor polisi sebagai saksi mata bunuh diri seorang wanita.

Polisi berhasil mengetahui bahwa kedua wanita yang terbunuh telah dibunuh di sebuah apartemen di pinggir kota. Lalu, sang pelaku membawa mereka dengan tas besar dan menyimpan jasadnya di kamar apartemen tempat jasad ketiganya ditemukan. Bian menghela napas mengetahui faktanya. Manusia yang keji! Sungguh tidak pantas untuk dicintai.

Akan tetapi, pikir Bian, bukankah ada yang dapat diambil? Bahwa jatuh cinta adalah perasaan yang sangat abstrak, dan cinta datang dengan sangat buta. Menyambar begitu cepat. Cinta sangat sulit untuk dipahami, dan semakin kita berusaha memahami, semakin bingung kita dibuatnya.

Ketika kita berusaha mencari jawaban dari setiap pertanyaan, maka pertanyaan-pertanyaan baru akan muncul.

****

Bian, aku minta maaf. Aku belum pernah memberikan namaku padamu. Tapi, aku harus segera pergi, karena aku tidak bisa tinggal lebih lama lagi. Bian, kau sedang dimata-matai. Jangan tanya mengapa. Kau tahu bahwa kemungkinanmu mendapati seorang wanita didorong dari lantai 25 adalah 1 banding 1000. Begitu juga dengan kemungkinan kita bertemu, dan aku jatuh cinta padamu. Mana ada yang mengira bahwa aku bisa jatuh cinta padamu? Kau adalah kelinci di dalam lubang, tertutup dan terisolasi. Sangat penyendiri. Pertemuan kita, bisa dibilang keajaiban.

Tapi keajaiban tidak selalu berakhir indah. Psikopat berdarah dingin bisa melakukan apapun untuk tetap berlari dari kejaran aparat berwajib. Maka, setelah wanita itu didorong jatuh dari lantai 25, dua wanita sahabatnya juga harus menemui ajal. Setelah itu apa?

Tentu saja aku, Bian. Pria yang berada di taman. Memandang tubuh wanita itu jatuh disaat orang lain lengah. Aku saksinya. Pembunuh itu tahu dan mengincarku. Aku diincar olehnya. Aku berusaha lari. Terlambat. Ia menembak kakiku. Dengan panik, aku meraih telepon genggamku sambil menyeret tubuhku sendiri. Lalu, buku puisi darimu jatuh ke lantai. Membuka halaman yang kutandai. Aku memandangnya begitu lama. Bian…tampaknya aku tidak akan pernah punya kesempatan. Sungguh, Bian.

Setelah itu, aku merasakan peluru menembus dadaku. Dan semuanya gelap. Dua puluh empat jam kemudian, aku merasa ringan, aku terbangun dan mendapati diriku memandang seisi apartemenku. Polisi yang masuk untuk memeriksa dua wanita yang terbaring di lantai. Seorang polisi yang mendekati jasad laki-laki yang terbaring dengan dua bekas luka.

Itu aku.

(Tamat)

Carissa Namira Alifia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here