Kota Bogor, pagi hari, Selasa, 21 Desember 2021, sekitar 30 orang berkumpul di Saung Kiray, sebuah rumah makan dengan menu-menu tradisional Sunda. Acara utama pagi itu adalah menanam Pohon Samida. “Kami merasa sangat tertarik dan ingin berperan dalam mengungkap harta flora ini untuk diketahui masyarakat,” kata Ambar Lestari Kadarsan, pemilik dan pengelola Saung Kiray (nama Saung Kiray pun menyiratkan budaya dari kekayaan flora Nusantara: pondok yang atapnya dari daun kiray atau rumbia). Akhirnya, bibit Pohon Samida ditanam oleh dua peserta termuda di halaman tengah, dekat teras depan Saung Kiray. Di batang bibit tersemat pita merah putih.

Apa sebenarnya Pohon Samida? Kata Samida tertulis dalam baris ketujuh Prasasti Batutulis peninggalan Kerajaan Pajajaran. Prasasti tersebut dapat dilihat di Batutulis, Kota Bogor kiwari. Prabu Surawisesa, Putra Sri Baduga Maharaja yang menggantikan sebagai raja, memerintahkan membuat Prasasti Batutulis pada 1533, tepat 12 tahun mangkatnya Sri Baduga. 21 Desember merupakan hari dinobatkannya Prabu Surawisesa, pengganti Sri Baduga Maharaja (yang kerap dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi). Kalimat yang tertulis adalah untuk mengenang kebesaran raja yang pada masa pemerintahannya tersebut Kerajaan Pajajaran mencapai puncak kesejahteraan, kejayaan.

 “… la, gugunungan, ngabalay, nyinyan samida, nyinyan sang hiyang talaga (wa)rna mahawijaya… “

Upaya terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia salah satunya dilakukan oleh Hasan Djafar, arkeolog, ahli epigrafi, dan sejarah kuno– dikutip dari makalah pada Workshop Pembinaan dan Pelestarian Sejarah dan Budaya Daerah, 2009– yaitu:

“… (berupa) gugunungan, memperkeras jalan, membuat samida, membuat Sang Hiyang Talaga (Wa)rna Mahawijaya… “ 

Dalam catatan kakinya, Hasan Djafar menjelaskan bahwa mungkin Samida merupakan hutan lindung yang kayu pohonnya digunakan dalam upacara. Dalam penutup makalah, Hasan menambahkan, “… membuat hutan larangan (samida)… “.

Pada 2019, Usep Soetisna, Botanis, menemukan kembali bahwa Samida adalah Pohon Plasa atau Palasa (dalam Bahasa Sunda) dan Ploso (dalam Bahasa Jawa) yang bernama latin Butea monosperma. Menurut mantan Kepala Kebun Raya Bogor ini, dalam Buku PROSEA, Plant Resources of South-East Asia 3, Dye and tannin-producing plants, disebutkan bahwa pohon ini banyak digunakan oleh pemeluk agama Hindu untuk upacara-upacara keagamaan.

Dalam diskusi yang berlangsung seusai penanaman bibit Pohon Samida, Usep Soetisna menjelaskan bahwa salah satu tambahan petunjuk adalah Kamus Marathi di India. Di sana disebutkan bahwa Samida adalah untuk pematik api pembakaran kayu atau kayu bakar. “Saya tidak harus menyebutkan pembakaran kayu untuk pembakaran mayat ya, karena kalau sekarang kita mengenalnya korek api kayu. Di India, di Nepal simbolis, kayu Palash ini adalah simbol untuk membuat api pemujaan Dewa Agni,” kata Usep.

Sedangkan potensi manfaat Pohon Samida, menurut Usep Soetisna banyak sekali. Salah satu contoh, otoritas rehabilitasi lahan bekas tambang di Konawe, Sulawesi Tenggara, sudah memasukkan Samida sebagai salah satu komponen untuk rehabilitasi lahan. “Informasi Samida untuk rehabilitasi lahan yang terdegradasi, termasuk DAS (Daerah Aliran Sungai), banyak di luar. Di Indonesia sendiri masih dilihat sebelah mata, karena belum ada yang mempraktekkan,” ujar Usep. Selain itu, dari Bunga Ploso bisa didapat madu dengan kualitas yang baik dan khas, Madu Bunga Ploso. Sedangkan di Australia sudah dihasilkan suplemen dari Bunga Palash.

Masih menurut Usep, di India sudah diriset manfaat dari Pohon Ploso, baik dari daunnya, kulit batangnya, kayunya, hingga akarnya. Getah dari Pohon Plasa dipakai untuk membiakkan Kutu Lak, yang menghasilkan produk sampingannya. Akar dan daunnya untuk obat aprodisiak dan obat diabet. Daunnya yang dilumatkan dengan air bisa untuk obat cacingan. Ada juga yang untuk obat radang paru-paru. “Akar Pohon Samida baik untuk mencengkeram batu, tanah, serta menyerap dan menangkap air,” kata Usep.

Daun Pohon Samida berbentuk membundar, berwarna hijau muda, transparan berpendar bila terkena sinar matahari, dengan serat-serat daun terlihat indah menyebar. Bunganya berwarna merah menyala, berbentuk menggantung dan membungkuk, dengan ujung naik yang lancip, seperti lidah api. (Bersambung)

Ardi Bramantyo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here