Senin, Januari 25, 2021

Dawam Rahadjo dan Demokrasi Ekonomi

Ingatan Sahabat

Krinnggg…!!!pagi itu sekira jam 8.00 nan. Lima belas tahunan yang lalu. Saya terima telepon dengan nomor asing. Kaget bukan main, saya ditelpon oleh Profesor Dawam Rahardjo, salah satu tokoh pemikir ekonomi yang saya kagumi sejak saya masih kuliah.

Sangat mengagetkan dan entah darimana beliau mendapat nomor saya. Tapi yang jelas itulah pembicaraan saya pertama secara langsung dengan Profesor Dawam yang sering saya panggil Mas Dawam. Panggilan yang saya suka sebagaimana saya ikut-ikutan saja seperti kolega senior saya lainya.

Pagi itu Mas Dawam tiba-tiba saja mengenalkan dirinya. Saya langsung menyambutnya dengan hati gembira seperti bicara dengan idola.

Pembicaraan dimulai dengan pertanyaan beliau tentang koperasi pada saya. Dengan nada menguji beliau sedikit bertanya “kenapa anda menyukai koperasi?”. Tegas dan terang saya katakan “karena itulah konsep demokrasi ekonomi!. Sistem ekonomi sesuai Konstitusi”.

Saya terangkan panjang dan lebar tentang apa itu demokrasi ekonomi seperti yang saya pahami. Saya bumbu bumbui dengan pandangan-pandangan para ahli dan tak lupa Bung Hatta sebagai salah satu tokoh peletak dasar konsep demokrasi ekonomi di Konstitusi. Sebetulnya dalam hati juga berharap agar beliau jangan sampai kecewa mendengarkan jawaban saya. Seperti seorang mahasiswa yang sedang hadapi yudisium saja di depan Profesor pengujinya.

Seperti pembicaraan selanjut-selanjutnya setelah itu. Mas Dawam kemudian selalu menyanjung dengan jawaban: “betul!”. Lalu beliau memberikan penjelasan tambahan panjang lebar tentang apa itu konsep demokrasi ekonomi.

Entah kenapa setiap alur pembicaraan saya dengan beliau menjadi asyik dan kemudian mengalir sampai dengan handphone di tangan terasa panas. Seringkali sampai dengan berjam jam kami diskusi di telpon dan kemudian selalu diakhiri dengan janji ketemu di kantor.

Tidak saja melalui handphone tapi juga pertemuan langsung. Kami bisa berdiskusi panjang lebar sampai lupa waktu. Sesekali sambil tertawa lebar mengolok seseorang yang kita sedang gunjingkan atau apapun itu tentang cerita yang lucu. Kalau di kantor selalu saya lihat Mas Dawam terlihat sesekali sambil mengunyah snack stick keju kesukaanya.

Setiap diskusi yang selalu kami bahas tak lepas dari demokrasi ekonomi, pancasila, dan konstelasi ideologi-ideologi dunia. Tentang Islam, konsep ekonomi islam, toleransi umat beragama, koperasi terkadang Mahabarata dan sesekali sinetron. Mengenai yang terakhir saya kurang begitu suka. Tidak tau dan selalu mengiyakan saja.

Mas Dawam setelah itu menjadi teman diskusi yang intensif sebelum sering jatuh sakit sekira setahun lalu. Sesekali saya bertelepon yang sering nyasar ke handphone Ibu Dawam atau Mbak Mala sekretaris pribadi beliau yang sangat setia.

Jejak Perjuangan Demokrasi Ekonomi

Dalam kesempatan diskusi, saya juga sempat tanyakan mengenai pergulatannya di Panitia Ad Hoc Amademen UUD 1945 tentang Pasal Ekonomi yang dulu sempat menyatakan walk out bersama Prof Mubyarto. Beliau dengan nada tinggi seperti marah dengan murid-muridnya sendiri seperti : Sri Mulyani (Menkeu), Sri Adiningsih (Ketua Watimpres), Didik Rachbini (Dosen) dan Syahril Sabirin (Mantan Gurbernur BI) sebagai anggota Panitia Ad Hoc yang dianggap mau memreteli substansi demokrasi ekonomi dari Konstitusi.

Entah kenapa, semenjak saya undang beliau diskusi di kampung saya Purwokerto yang ditemani Stafnya di Universitas Proklamasi Mas Tarli Nugroho, beliau begitu bertambah gairah membahas masalah koperasi. Itu mungkin karena kami berdua sepakat bahwa demokrasi ekonomi itu manifestasinya ya koperasi itu. Bahkan kami berdua sepakat bahwa “konsep koperasi itu adalah konsep post kapitalisme dan post revolusioner”. Bahkan beliau begitu yakin abad 21 ini harusnya menjadi abad koperasi.

Kami sering ketemu dengan beliau dalam sesi diskusi terutama di Ibnoe Soedjono Center setelah itu. Yayasan yang didirikan untuk tujuan promosikan pemikiran Alm Ibnoe Soedjono mentor saya. Dalam beberapa kali diskusi sampai saya kaget karena nama saya disebut oleh beliau sebagai penganut satu aliran pembangunan koperasi dalam ketegorisasi sebagai universalis sosialis. Satu pandangan yang ditulisnya dalam judul “aliran-aliran pemikiran pembangunan koperasi di Indonesia”.

Mas Dawam bukan hanya seorang penguji pemikiran. Saya beberapa kali kaget karena tiba-tiba saya diminta datang untuk promosikan pemikiran saya dengan coba kawin silangkan antara koperasi dan konsep ekonomi Islam.

Dimulai dengan perkenalkan saya dalam diskusi di Universitas Asyafiah Jakarta Timur yang pada waktu itu diskusinya dipimpin langsung oleh Alm Tuti Alawiah. Kemudian diperkenalkan dengan teman Pengurus PP Muhamadiyah. Kami sempat intensif diskusi bagaimana mengkonsep gagasan bank sosial islam yang kemudian berujung pada diskusi saling berbalas makalah dengan beliau.

Saking intensifnya pergaulan saya dengan Prof Dawam untuk bicarakan konsep konsep, saya pernah diundang diskusi oleh Mas Adi Sasono di kantornya sekira setengah tahunan sebelum meninggal. Beliau sempat berkelakar, “jangan terlalu intens dengan Mas Dawam, nanti jadi Profesor, hahahaha”.

Mas Dawam menurut saya adalah pemikir demokrasi ekonomi yang terang, benang merah pemikiranya tentang demokrasi ekonomi sangat tegas. Beliau juga adalah sedikit dari ekonom yang mau menggali pemikiran konsep ekonomi dengan dasar pijak ilmiah dan kontekstual dengan persoalan bangsa.

Itu kenapa beliau sangat marah ketika ada banyak ekonom sebut konsep welfare state sebagai konsep ekonomi konstitusi, “keblinger sekali” kata Mas Dawam, “welfare state itu ujung dari sistem kapitalisme historis, ketemu presedennya di Eropa dan sangat tidak pas bila di terapkan di Indonesia dan juga bertentangan dengan konsep demokrasi ekonomi, neo kapitalisme” ujarnya, “sistem yang dimana menempatkan negara, yang tadinya sebagai penjaga malam jadi pembersih toilet, konsep yang sebabkan bangsa ini sekarang ini sudah telanjang diperkosa bangsa lain dengan sangat telanjang”

Selamat jalan Mas Dawam, damailah di surga. Sampai ketemu nanti.

Dili, 31 Mei 2018

Suroto
( Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis – AKSES)

related

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

video

Popular

Pesantren Terapung – Nyantrik di Kapal

"Pesantren Terapung." Malam itu saya kebagian "ronda" di atas Rainbow Warrior yang sedang menyusuri Laut Jawa. Salah satu tugas "night watch" adalah menemani nahkoda melihat...

Memang “Pemerintahan Belanda” ada di Indonesia? Tidak. Yang ada “Perusahaan!”

Di Indonesia, selama ini yang diketahui dalam sejarah, setelah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie— perusahaan yang menjajah Nusantara karena rempah-rempah) bangkrut-- masuk Prancis dan Inggris--...

Batik Lingkungan Hidup

Tatang Elmi Wibowo berkulit coklat dan berambut ikal. Usianya 41 tahun. Hari itu, akhir Februari 2018, di galeri miliknya Leksa Ganesha, Dusun Tembi, Kecamatan...

Petisi konyol, antara Dilan dan Pram, ehh Minke

Dilan Iqbaal Ramadhan jadi Cameo lagi Senang rasanya film Bumi Manusia di produksi dan nantinya akan di putar di bioskop, sehingga saya gak perlu menghabiskan...

Pasarnya Petani Kota Jakarta

Di Jakarta ada petani? Ya, betul, bahkan ada pasarnya! Datang saja ke Gudang Sarinah Ekosistem setiap Minggu, pekan pertama setiap bulan. Di sinilah para...

Sudut Pandang Lakon dan Penonton

Ngeri ngeri sedap kritikus Film Sejak mula, membangun kisah para penderes nira kelapa di Ketanda Banyumas dalam sebuah karya film, selalu ada kecemasan kecemasan yang...

Menanam dan Memanen Air di Senjoyo

Bagi Ahmad Bahruddin, mata Air Senjoyo adalah hidup dan mati dirinya. Puluhan tahun lalu, air irigasi di kampungnya Kalibening, Kota Salatiga terlihat jernih dan...