Sabtu, Desember 5, 2020

Frans dan Gala, Nasionalisme dari Tepi Nusantara

Ramai ramai pasang bendera

Baiklah, hari ini tanggal 18 Agustus 2018, tepat dua hari setelah Indonesia Merdeka 73 tahun silam. Kemarin, hingar bingar peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia di “Upacarakan”, dan seperti biasa, hampir seluruh rakyat Indonesia merayakannya.

Di selatan Jakarta, pas 73 tahun Indonesia Merdeka (16 Agustus 2018), media sosial ramai dengan video penghuni Apartemen Kalibata City yang sewot karena bendera Indonesia yang di pasang di balkon, diminta dicopot pihak pengelola. Warganet ramai. Masalah kemudian diluruskan pengelola Apartemen. Soal nasionalisme disini, saya tidak bisa komentar.

Foto: Capture Screen Video Gala panjat tiang bendera

Yohanes Andi Gala pelajar kelas 7 SMPN Silawan, Mota’ain, Belu, Nusa Tenggara Timur, membuat heboh peringatan 17 Agustus 2018. Aksinya dalam video yang tersebar, tak henti hentinya nongkrong di linimasa layar telepon seluler. Gala, barangkali namanya mirip dengan “galah”, tak pernah ragu memanjat tiang bendera pas upacara kemarin, hanya untuk mengikat tali yang lepas, agar upacara pengibaran bendera merah putih bisa diteruskan hingga selesai. Hebatnya lagi, Gala adalah anak dari orang tua yang memilih Republik Indonesia saat “Jajak Pendapat” Timor Timur tahun 1999.

Demi Republik, ini-lah nasionalisme dari tepian nusantara. Dan Gala mungkin belum pernah mendengar cerita, kalau 73 tahun lalu, ada anak muda yang juga berani ambil resiko demi republiknya.

 

Foto: IPPHOS Remastered 2013

Frans Mendur ambil resiko

Begini kisahnya. Frans Mendur remaja tak pernah mengira, kenekatannya naik ke atas kapal penumpang rute Bitung-Surabaya untuk menyusul sang kakak Alex Mendur ke Pulau Jawa di usia 14 tahun, di kemudian hari mengantarnya membuat sejarah bangsa Indonesia.

Perjalanan di tahun 1928 ke Surabaya ini membuat Frans tidak jelas nasibnya, untuk tidak menyebut jadi “gelandangan”. Frans kemudian diangkat anak oleh keluarga Sumarto. Dan beberapa tahun kemudian dijemput kakaknya Alex Mendur untuk diajak merantau ke Jakarta.

Beruntungnya, pada tahun 1935, Frans sudah di Jakarta menjadi pewarta foto lepas untuk beberapa media seperti; De Java Bode, surat kabar mingguan Wereldnieuws en Sport in Beeld, dan harian nasional Pemandangan. Semuanya berkat belajar foto dari Alex Mendur sang kakak yang ternyata selama ini di Jakarta bekerja sebagai pewarta foto di De Java Bode juga. Alex adalah satu – satunya fotografer asli bangsa Indonesia di media berbahasa Belanda pada tahun 1932. Alex belajar fotografi pada Anton Nayoan, seniornya di harian De Java Bode dan Bataviaasch Nieuwsblad.

Pas penjajahan Jepang, Frans menjadi pewarta foto lepas untuk Djawa Shimbun Sha, dan untuk surat kabar Asia Raja di tahun 1945. Sedangkan Alex bekerja sebagai kepala bagian fotografi di kantor berita Domei milik Jepang. Kabar proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah didengar Alex dan Frans sejak sekutu mengebom Hirosima dan Nagasaki, namun masih simpang siur;

Dari hasil penelusuran artikel di Harian Merdeka pada bulan Februari 1946, Frans menyampaikan;

”Saya sendiri semula tidak percaya ketika seorang rekan wartawan Jepang dari Jawa Shimbun Sya pada tanggal 16 Agustus 1945 malam memberitahukan kepada saya bahwa keesokan hari tanggal 17 Agustus 1945 akan dilakukan ‘Proklamasi Kemerdekaan Indonesia’ bertempat di rumah kediaman Bung Karno. Dalam keraguan saya pun berangkat jam 5 pagi menuju ke Pegangsaan Timur bersama rekan saya saudara Basir Pulungan dengan mengendarai mobil yang saya pinjam dari rekan wartawan Jepang tersebut. Gemuruh sorakan “Hidup” dan “Indonesia Merdeka Sekarang” memecah telinga ketika jam menunjukkan pukul 9.50 pada saat mana Dwitunggal Bung Karno/Hatta dengan diiringi tokoh-tokoh lainnya keluar dari ruangan perundingan menuju ke ruang depan tempat upacara, dimana telah tersedia alat pengeras suara.”

Frans bersama kakaknya, Alex Mendur langsung memotret proklamasi dan mereka tidak ingin ketinggalan hari bersejarah ini. Foto mereka eksklusif, detik-detik proklamasi kemerdekaan Indonesia terekam dan menjadi bukti Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sayangnya, Alex tertangkap tentara Jepang dan foto hasil jepretannya “dirampas”. Frans berhasil lolos dari “operasi” tentara Jepang dan menyembunyikan negatif fotonya didalam tanah didekat pohon di halaman belakang kantor harian Asia Raya tempatnya bekerja.

 

Foto: IPPHOS Remastered 2013

IPPHOS yang pertama

Jepretan kamera Frans menjadi bukti sejarah, foto foto Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang terbit pertama kali di Harian Merdeka pada Februari 1946, setengah tahun setelah Republik Indonesia merdeka.

Hanya sebentar, cuma delapan bulan bekerja di harian Merdeka, Frans dan Alex mundur lalu mengajak Justus Umbas dan Frans “Nyong” Umbas juga Alex Mamusung serta Oscar Ganda mendirikan IPPHOS (Indonesian Press Photo Service), ini-lah kantor berita foto independen pertama di Indonesia, yang berdiri pada 2 Oktober 1946.

Jika kalian ingin melihat dengan jelas, lewat sebuah gambar yang bercerita tentang Proklamasi Kemerdekaan dan Sejarah Diplomasi juga perang mempertahankan Republik Indonesia setelah 17 Agustus 1945, silahkan cari Buku Photo IPPHOS Remastered. Karena di tahun 2012, Oscar Matuloh mewakili Kantor Berita Antara bersama Yayasan Bung Karno melakukan penelitian untuk mencari dan melacak kembali foto Proklamasi, hasilnya Oscar menemukan 13 jepretan Frans Mendur lainnya. Dan kemudian menerbitkan karya karya IPPHOS Remastered di tahun 2013.

Tabik,

Amrul Hakim

related

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

video

Popular

Pesantren Terapung – Nyantrik di Kapal

"Pesantren Terapung." Malam itu saya kebagian "ronda" di atas Rainbow Warrior yang sedang menyusuri Laut Jawa. Salah satu tugas "night watch" adalah menemani nahkoda melihat...

Memang “Pemerintahan Belanda” ada di Indonesia? Tidak. Yang ada “Perusahaan!”

Di Indonesia, selama ini yang diketahui dalam sejarah, setelah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie— perusahaan yang menjajah Nusantara karena rempah-rempah) bangkrut-- masuk Prancis dan Inggris--...

Batik Lingkungan Hidup

Tatang Elmi Wibowo berkulit coklat dan berambut ikal. Usianya 41 tahun. Hari itu, akhir Februari 2018, di galeri miliknya Leksa Ganesha, Dusun Tembi, Kecamatan...

Pasarnya Petani Kota Jakarta

Di Jakarta ada petani? Ya, betul, bahkan ada pasarnya! Datang saja ke Gudang Sarinah Ekosistem setiap Minggu, pekan pertama setiap bulan. Di sinilah para...

Petisi konyol, antara Dilan dan Pram, ehh Minke

Dilan Iqbaal Ramadhan jadi Cameo lagi Senang rasanya film Bumi Manusia di produksi dan nantinya akan di putar di bioskop, sehingga saya gak perlu menghabiskan...

Sudut Pandang Lakon dan Penonton

Ngeri ngeri sedap kritikus Film Sejak mula, membangun kisah para penderes nira kelapa di Ketanda Banyumas dalam sebuah karya film, selalu ada kecemasan kecemasan yang...

Menanam dan Memanen Air di Senjoyo

Bagi Ahmad Bahruddin, mata Air Senjoyo adalah hidup dan mati dirinya. Puluhan tahun lalu, air irigasi di kampungnya Kalibening, Kota Salatiga terlihat jernih dan...