Sabtu, Desember 5, 2020

Kurikulum Ekonomi Perusahaan di Kampus Terlambat?

Dalam tahun ini, saya mendapatkan kesempatan baik berkeliling ke kampus-kampus untuk promosikan model perusahaan yang dimiliki konsumen, produsen, dan pekerjanya.

Modelnya ada yang dimiliki konsumen seperti dalam model kepemilikkan hipermarket NTUC Fair Price di Singapura. Perusahaan ini menjadi perusahaan ritel terbesar di negara ini.

Kemudian, ada model bank yang dimiliki nasabahnya dan jadi bank terbaik di Kanada, seperti Desjardin Group yang asetnya empat kali lipat dari Bank BRI.

Ada model pabrik yang dimiliki pekerjanya yang dimiliki oleh 80 ribu pekerjanya dan menjadi perusahaan terbesar di negara bagian Basque, Spanyol. Saya juga berikan contoh-contoh lain seperti Perusahaan Fonterra yang dimiliki oleh 10.500 orang peternak dan kuasai pangsa pasar produk turunan susu hingga 30 persen di negara ini.

Selain itu, saya juga sampaikan contoh lain dari model kepemilikkan perusahaan listrik milik pelanggannya yang masif di desa-desa di 51 negara bagian Amerika Serikat. Termasuk Rumah Sakit terbesar di kota Washington, Group Health Cooperative (GHC).

Saya juga sampaikan kalau model perusahaan yang dimiliki konsumen, pekerja, dan produsennya sekaligus seperti I COOP Korea yang sekarang sedang bertumbuh pesat.

Apa yang saya sampaikan di atas adalah hanya sebagian saja. Ada juga perusahaan startup yang juga dimiliki para pekerjanya, seperti perusahaan fotografi Stocksy, misalnya.

Satu hal lagi– ini yang membuat saya tercengang– ternyata banyak mahasiswa ekonomi sekalipun yang mengikuti kesempatan berdiskusi, ternyata tidak banyak yang tahu, kalau mau dibilang tidak ada. Padahal jurnal-jurnal ilmiah, media masa, website dari perusahaan-perusahaan ini begitu mudahnya diakses. Silahkan coba saja ketik nama-nama perusahaan di atas.

Satu hal lagi yang mencengangkan adalah ternyata para mahasiwa itu juga tidak paham tata kelola dari model perusahaan canggih ini. Seperti misalnya, dalam pengambilan keputusan perusahaan yang berikan kesempatan yang sama dari setiap orang.

Tambah heran lagi ketika ternyata perusahaan itu juga sudah mulai berkembang di tanah air seperti yang saya rintis bersama teman-teman seperti KOPKUN.COM di Purwokerto, misalnya. Atau, seperti bank milik nasabah yang pemiliknya sekarang sudah ada tiga juta orang dan 30 triliun asetnya di hampir setiap provinsi di Indonesia.

Model perusahaan ini sudah berkembang di negara lain seperti negara tetangga kita Singapura, juga di China, Eropa, Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Afrika, hingga India.

Saya katakan, ini adalah perusahaan yang sudah berkembang pesat dari sejak 150 tahun silam. Mereka tambah heran lagi!

Ini pertanda serius bahwa kampus selama ini tidak pernah memiliki kemajuan dalam memperbaiki kurikulum pendidikannya. Mereka tidak pernah meng-upgrade modul-modul ajar dari mata kuliah yang ada. Sudah pasti di SMA atau SMK pasti sama.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Padahal konsep perusahaan seperti ini kan adalah model perusahaan yang sesuai dengan sistem ekonomi yang dikehendaki oleh Konstitusi kita, UUD 1945? Sistem Demokrasi Ekonomi? Apakah profesor-profesor di kampus itu tidak mampu mengikuti perkembangan zaman? Tidak. Saya kira tidak mungkin! Lalu, apakah pejabat di Kementerian Pendidikan itu apakah tidak pernah meng-update pengetahuan? Tidak, saya kira tidak! Saya yakin karena memang kita tidak menginginkannya.

Purwokerto, 19 September 2018

Suroto

Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES)

related

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

video

Popular

Pesantren Terapung – Nyantrik di Kapal

"Pesantren Terapung." Malam itu saya kebagian "ronda" di atas Rainbow Warrior yang sedang menyusuri Laut Jawa. Salah satu tugas "night watch" adalah menemani nahkoda melihat...

Memang “Pemerintahan Belanda” ada di Indonesia? Tidak. Yang ada “Perusahaan!”

Di Indonesia, selama ini yang diketahui dalam sejarah, setelah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie— perusahaan yang menjajah Nusantara karena rempah-rempah) bangkrut-- masuk Prancis dan Inggris--...

Batik Lingkungan Hidup

Tatang Elmi Wibowo berkulit coklat dan berambut ikal. Usianya 41 tahun. Hari itu, akhir Februari 2018, di galeri miliknya Leksa Ganesha, Dusun Tembi, Kecamatan...

Pasarnya Petani Kota Jakarta

Di Jakarta ada petani? Ya, betul, bahkan ada pasarnya! Datang saja ke Gudang Sarinah Ekosistem setiap Minggu, pekan pertama setiap bulan. Di sinilah para...

Petisi konyol, antara Dilan dan Pram, ehh Minke

Dilan Iqbaal Ramadhan jadi Cameo lagi Senang rasanya film Bumi Manusia di produksi dan nantinya akan di putar di bioskop, sehingga saya gak perlu menghabiskan...

Sudut Pandang Lakon dan Penonton

Ngeri ngeri sedap kritikus Film Sejak mula, membangun kisah para penderes nira kelapa di Ketanda Banyumas dalam sebuah karya film, selalu ada kecemasan kecemasan yang...

Menanam dan Memanen Air di Senjoyo

Bagi Ahmad Bahruddin, mata Air Senjoyo adalah hidup dan mati dirinya. Puluhan tahun lalu, air irigasi di kampungnya Kalibening, Kota Salatiga terlihat jernih dan...