Sabtu, Desember 5, 2020

Petisi konyol, antara Dilan dan Pram, ehh Minke

Dilan Iqbaal Ramadhan jadi Cameo lagi

Senang rasanya film Bumi Manusia di produksi dan nantinya akan di putar di bioskop, sehingga saya gak perlu menghabiskan waktu membaca buku karya Pram yang me-legenda itu. Tambah senang karena jempol netizen sibuk komentarin film Bumi Manusia yang cameo-nya Iqbaal Ramadhan sang Dilan.

Dari semua postingan dan komentar yang muncul di medsos, hampir rata “nyonyor” sama “Dilan” idola generasi jaman now. Sampai sampai jempolku ikut komentar di postingan teman yang Cinta Mati sama buku Bumi Manusia-nya Pram. Dia mengunggah capture screen sebuah akun medsos yang Setengah Gila sama “Dilan” dengan caption “IQRA’!!” karena akun tersebut posting begini “Lagian Pramoedya itu siapa sih? Cuman penulis baru terkenal kayaknya.. masih untung dijadiin film, dan si Iqbal mau meranin karakternya.. biar laku bukunya”, tanpa pikir panjang jempolku bergerak “Asli ngakak salto duduk”. Karena tidak paham, teman saya jempolnya nyamber “Biasa baca tere liye soalnya”, waduh, makin “nyonyor” bawa bawa orang lain.

Iya dong, baca caption dan gambar yang di posting ditambah komentar “nyonyor” bikin saya akrobat ditempat kayak pemain sirkus. Akun teman saya yang sudah kadung Cinta Mati sama Bumi Manusia, dengan nada keras dan tebal pakai tanda seru pula, menyuruh “IQRA’!!” BACALAH’!!, sedangkan gambar postingnya adalah status generasi jaman now yang Setengah Gila sama “Dilan Iqbaal Ramadhan” dan belain cameo-nya di film Bumi Manusia yang lagi di “bully” netizen. Karena di akun media sosial saya banyak teman aktivis, maka sesama aktivis menyahut postingan yang lain alias ikutan mem“bully”.

Ini-lah yang kumaksud dengan banyak manusia yang tidak adil sejak dalam pikiran, “jiahh sok jadi Pram lagi”.

 

 

Semua idola, idola semua

Pram dan Minke adalah idola para pembaca buku garis keras, maksudnya pembaca yang merasa anti orde baru, aktivis, organisatoris yang sembunyi sembunyi baca buku Bumi Manusia karena dilarang Pemerintah Suharto, karena jaman itu mau baca Bumi Manusia saja sudah drama bingits. Selain dilarang dibaca, bukunya Pram ini juga dicari-cari dan dimusnahkan kalau ditemukan sama Orde Baru lewat keputusan Jaksa Agung, sebab Pak Harto merasa kecolongan karena buku Eks Tapol Pulau Buru ini sempat terbit dan sukses sampai 10 kali dicetak ulang.

Jadi, paham ya kenapa banyak netizen yang jempolnya keriting gara gara “Minke” diperankan “Dilan”.

Nah, Dilan dan Iqbaal adalah idola anak saya dan teman temannya, kebetulan anak anak saya umurnya 10 tahun, 9 tahun dan 6 tahun. Mereka sudah dua tahun tidak nonton TV karena TV di rumah rusak dan sengaja enggak saya betulin. Situasi ini yang akhirnya membuat mereka menyesuaikan diri menonton youtube dengan kawalan saya pas nonton. Al-hasil, anak anak saya punya idola baru, Naura dan Genk Juara-nya, Keluarga Gen Halilintar, Super Wing dan masih banyak lagi termasuk Cowboy Junior yang sudah bubar.

Iqbaal punya tempat tersendiri buat dua anakku yang mulai beranjak remaja, persiapan memasuki masa akil baligh. Mereka tumbuh bersama Iqbaal anggota “Coboy Junior” yang menjadi Rusdi di Film Pramuka “Lima Elang”, film tentang kesetiakawanan dan kebetulan anak anak lagi getol kegiatan alam bebas. Lalu, anak anak mengikuti Iqbaal di Film Dilan yang sebelum saya meng-iyakan nonton bareng mereka, ku-screening dulu ala ayah dari anak anak, dan waktu nontonnya pun betul betul saya kawal.

Sekarang ini, mereka sudah mendengar “Dilan Iqbaal Ramadhan” mau main film lagi. Senangkah mereka..? Pasti senang lah idolanya akting lagi, saya juga makin senang kalau akhirnya mereka baca bukunya Pram Bumi Manusia agar punya sikap “adil sejak dalam pikiran”.

Jadi, ngerti ya kenapa saya ngakak sambil salto duduk pas baca timeline media sosial yang isinya penuh “nyonyoran” Film Bumi Manusia yang cameo-nya “Dilan Iqbaal Ramadhan”. Dan satu lagi, saya sepakat “Dilan Iqbal Ramadhan” jadi cameo di Film Bumi Manusia demi anak anak saya agar kelak mereka membaca buku sastra Bumi Manusia-nya Pram yang lagi lagi “adil sejak dalam pikiran”.

 

 

Kepongahan para penikmat sastra

Karya tulisan dalam buku adalah tumpahan gagasan dan imajinasi manusia yang paling sederhana dibuat, apalagi tulisan tulisan fiksi dalam buku yang menjadi wahana para penulis, pastinya bebas untuk mengungkapkan apa pun, sepanjang apa pun, seramai apa pun tokoh-tokohnya, dengan setting waktu sebebas bebasnya, mulai dari kuno sampai masa depan.

Situasi ini berbanding terbalik dengan karya film yang membutuhkan banyak modal, banyak orang dan banyak waktu untuk memproduksinya, tapi terbatas cara menikmatinya, paling lama hanya 3 jam.

Oleh karena itu, biasanya tulisan punya “kasta”, yang paling tinggi disebut buku tulisan karya “sastra” yang sedikit penikmatnya karena tidak populer di masyarakat awam, hanya para pecinta “sastra” saja yang menikmati. Menjadi menarik ketika karya “sastra” dibuat film-nya, sebab disinilah kepongahan penikmat sastra muncul, mereka selalu tidak terima jika film yang diangkat dari karya “sastra” di film-kan dengan cara-anu, oleh si-anu dan pemainnya-anu. Padahal, dimana-mana film yang diproduksi yang ceritanya berangkat dari buku karya sastra, selalu ada bagian cerita yang tidak tertangkap oleh kamera. Soal ini tentunya sudah disepakati dulu antara penulis buku karya “sastra” dan sineas yang akan memproduksi film dari buku karya sastra.

Contohnya, film “Sang Penari” yang “terinspirasi” dari buku sastra Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Kata terinspirasi punya kata dasar inspirasi, yang tentunya berbeda dengan kata diadaptasi yang punya kata dasar adaptasi. Sederhananya begini, buku Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari menjadi inspriasai Ifa Isfansyah untuk memproduksi film yang diberi judul Sang Penari. Tapi, jika kemudian penikmat buku sastra Ronggeng Dukuh Paruk merasa cerita dalam film Sang Penari tidak pas sama cerita di bukunya Ahmad Tohari, itu bukan jadi soal dalam film Sang Penari, sebab Ifa sudah memilih kata inspirasi. Menariknya, pilihan kata inspirasi ini atas saran Ahmad Tohari sendiri yang menempatkan bukunya sebagai inspirasi saja. Ini-lah yang bikin Ifa dan tim produksi terbebas dari imajinasi Ahmad Tohari dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Otomatis, ruang tafsir buku sebagai inspirasi film menjadi terbuka lebih luas dan bebas.

Jadi, maklum ya kepongahan para penikmat sastra yang cinta mati sama buku sastra.

 

 

Film dokumenter dan riset

Sebagai tukang suting keliling kampung, saya kok lebih suka membuat film dokumenter cinema veritee dengan bahan riset kuantitatif dan kualitatif. Biasanya cerita yang saya tampilkan adalah pendekatan baru dari hasil riset, karena buat saya film dokumenter sebagai wahana lain untuk menumpahkan gagasan dan pemikiran, yang mewarnai cerita dari sekian banyak cerita tulisan yang ada.

Kebetulan saya sedang produksi Cinema Veritee Film Dokumenter Pendek Celengan Bambu Seribu yang mengangkat perjuangan kemandirian ekonomi para petani penderes nira kelapa di Ketanda Sumpiuh, Banyumas Jawa Tengah. Film ini sudah memasuki babak akhir post produksi.

Jadi, semua pembaca cerita “Celengan Bambu Seribu: Petite Historie dari Ketanda” yang ditulis aktivis Kopkun, siap siap kecewa kalau ceritanya Film Dokumenter Celengan Bambu Seribu yang saya produksi bakal beda dan pakai pendekatan lain, karena saya hidup dari imajinasi saya sendiri. Jangan sampai kekecewaan itu seperti para penikmat sastra Bumi Manusia yang sampai bikin petisi menolak “Dilan Iqbaal Ramadhan” memerankan “Minke” dalam  Bumi Manusia.

 

Raul Akamsi

Tukang Suting Keliling Kampung

related

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

video

Popular

Pesantren Terapung – Nyantrik di Kapal

"Pesantren Terapung." Malam itu saya kebagian "ronda" di atas Rainbow Warrior yang sedang menyusuri Laut Jawa. Salah satu tugas "night watch" adalah menemani nahkoda melihat...

Memang “Pemerintahan Belanda” ada di Indonesia? Tidak. Yang ada “Perusahaan!”

Di Indonesia, selama ini yang diketahui dalam sejarah, setelah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie— perusahaan yang menjajah Nusantara karena rempah-rempah) bangkrut-- masuk Prancis dan Inggris--...

Batik Lingkungan Hidup

Tatang Elmi Wibowo berkulit coklat dan berambut ikal. Usianya 41 tahun. Hari itu, akhir Februari 2018, di galeri miliknya Leksa Ganesha, Dusun Tembi, Kecamatan...

Pasarnya Petani Kota Jakarta

Di Jakarta ada petani? Ya, betul, bahkan ada pasarnya! Datang saja ke Gudang Sarinah Ekosistem setiap Minggu, pekan pertama setiap bulan. Di sinilah para...

Petisi konyol, antara Dilan dan Pram, ehh Minke

Dilan Iqbaal Ramadhan jadi Cameo lagi Senang rasanya film Bumi Manusia di produksi dan nantinya akan di putar di bioskop, sehingga saya gak perlu menghabiskan...

Sudut Pandang Lakon dan Penonton

Ngeri ngeri sedap kritikus Film Sejak mula, membangun kisah para penderes nira kelapa di Ketanda Banyumas dalam sebuah karya film, selalu ada kecemasan kecemasan yang...

Menanam dan Memanen Air di Senjoyo

Bagi Ahmad Bahruddin, mata Air Senjoyo adalah hidup dan mati dirinya. Puluhan tahun lalu, air irigasi di kampungnya Kalibening, Kota Salatiga terlihat jernih dan...