Sabtu, 10 November 2018, pagi, persis di Hari Pahlawan, sekumpulan orang berkumpul di makam Raden Saleh di Bondongan, Empang, Bogor, Jawa Barat. Penggiat budaya, pengamat sejarah, guru-guru, warga, sebanyak 60-an orang meniatkan berkumpul di sana, berdoa dan memberi penghormatan bagi maestro seni lukis Indonesia, Raden Saleh. Bendera Merah Putih dibentangkan di monumen makam, dekat dengan makam Raden Saleh Sjarif Bustaman dan istrinya Raden Ayu Danurejo.

Sebenarnya, banyak yang tidak tahu letak makam Raden Saleh, bahkan bagi kebanyakan warga Bogor. Menurut Dayan D. Layuk Allo, penggiat budaya dan sejarah Bogor, penyelenggara acara, makam Raden Saleh ditemukan pada 1923 secara tak sengaja oleh Mas Adoeng Wiraatmadja, mantan jaksa, dengan kondisi tertutup ilalang di dekat rumahnya. Ternyata, makam Raden Saleh berada di makam wakaf keluarga Adoeng. Lalu, Adoeng membersihkan dan merawatnya. Kemudian, dilanjutkan keluarga Isun Sunarya yang masih kerabatnya.

Pada zaman kemerdekaan, kabar keberadaan makam Raden Saleh akhirnya sampai ke telinga Bung Karno. Segera Bung Karno melihatnya dan memerintahkan arsitek Friedrich Silaban merancang untuk diperbaiki agar lebih indah. Pada 1953, pemerintah memugar makam Raden Saleh. Silaban merancangnya bersamaan dengan merancang Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pada masa kini, Galeri Nasional mempercantik lagi serta menambahkan bangunan semacam pendopo kecil yang bisa dimanfaatkan untuk belajar, diskusi, budaya, seni, dan sejarah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here