Sabtu, Desember 5, 2020

Menjadi Indonesia (1)

Bali. Setelah hidup, tinggal, dan diizinkan berkarya kurang lebih selama satu tahun di tanah para dewa ini, saya belajar dan menemukan banyak hal. Keistimewaan menjadi bagian dari Indonesia. Negeri yang didengungkan dari sekolah dasar hingga saat ini sebagai negeri yang besar. Dahulu, saya berpikir negeri ini besar karena pulau nya yang sangat banyak, 17.000 katanya. Tersebar dari Sabang sampai Merauke. Bahkan dalam lagu-lagu nasional yang biasanya selalu saya dengar di pagi hari sebelum bel masuk tanda pelajaran akan dimulai, kekayaan Indonesia diceritakan melalui lirik-liriknya.

Jujur saja, saya dulu belum menemukan “kebanggan” menjadi Indonesia. Sampai satu demi satu saya diperkenalkan oleh manusia-manusia luar biasa yang sungguh mencintai negeri ini. Contohnya saja, mantan bos sekaligus sosok yang memperkenalkan saya pada banyak orang hebat, yaitu mas Bob Singadikrama. Melalui dirinya, saya bisa merasakan betapa ia sungguh mencintai negeri ini. Negeri yang dalam pikiran saya ketika itu penuh dengan banyak konflik, permasalahan politik yang saya tidak pernah “mau” mengerti, korupsi, ketimpangan sosial dan segudang masalah lainnya. Saya lupa, bahwa kekayaan alam dan budaya nya adalah juga bagian dari Indonesia yang patut dibanggakan.

Saya sering mendengar betapa Indonesia sungguh kaya dengan budaya, bahasa daerah, keberagaman sumber daya alam yang luar biasa. Tapi entah apa yang salah dengan cara kerja otak saya. Saya tidak betul-betul mampu memahami dan menyesapinya. Sampai pada akhirnya, saya banyak melakukan perjalanan untuk menyusuri negeri ini satu persatu. Bukan dengan tujuan mengenal Indonesia sebetulnya, lebih kepada pemuasan diri untuk mampu berpetualang. Indonesia, bangsa ini, saya yakini punya cara sendiri untuk memperlihatkan “kehebatan” dirinya pada setiap orang, termasuk saya.

Kumpulan perjalanan tersebut masih berceceran. Saya hanya berusaha membuat pengalaman dan kenangan sebanyak mungkin dari tempat, waktu, dan cara yang berbeda. Saya sadar saya mulai melihat sisi lain Indonesia ketika bekerja di Ubud. Saya bekerja di sebuah resort, tugas saya menyenangkan, menyeduhkan kopi untuk tamu yang datang. Tamu yang berasal dari berbagai negara di seluruh dunia. Banyak percakapan yang saya rekam dan kumpulkan. Saya kemudian menyadari, ada banyak jiwa yang membuat mereka jatuh cinta pada Indonesia melalui tanah para dewa ini.

Bali, sudah menjadi tujuan wajib dalam kegiatan “study tour” sekolah pada akhir semester bagi orang-orang yang tinggal di seantero Jawa. Sayangnya, hal itu tidak berlaku bagi saya, yang bersekolah nun jauh di sebuah kota di Sumatera sana. Bahkan ketika melanjutkan kuliah di Jogja pun, saya tidak mampu menyempatkan berkunjung ke pulau ini.

Semesta lagi-lagi meyakinkan saya bahwa “ada waktu yang tepat untuk suatu hal terjadi”. September 2017 menjadi perjalanan pertama saya ke pulau Bali. 7 hari lamanya perkenalan saya di kunjungan pertama. Melihat sekilas, dan selalu takjub pada langit biru yang ditawarkan di pulau ini. Beberapa bulan kemudian, tepatnya bulan Desember, saya pindah ke pulau ini. Perjalanan saya mengenal Indonesia dimulai.

Saya adalah perempuan yang mengenakan kerudung. Simbol dari pemeluk islam, agama yang mendominasi Indonesia, tapi Indonesia bukan negara Islam. Bali merupakan tempat dimana mayoritas adalah pemeluk Hindu. Saya menjadi minoritas untuk pertama kali dalam pengalaman 25 tahun saya hidup di bangsa yang “Bhineka Tunggal Ika”. Deg-degan ? tentu. Apalagi dengan latarbelakang saya yang selalu hidup dan penuh dengan nasihat agama untuk menjadi seorang muslim yang baik. Setelah saya ingat, saya belum sepenuhnya belajar untuk menjadi seorang “Indonesia” yang baik.

Cara saya belajar untuk menjadi “Indonesia” yang baik ternyata dibantu oleh teman-teman lain yang bukan warga Indonesia. Kopi, menjadi salah satu alat untuk memperkenalkan negeri, yang saat ini sudah saya yakini secara sadar dan (semoga) utuh sebagai negeri yang kaya. Saya suka sekali bercerita pada orang-orang yang saya temui tentang keberagaman kopi Indonesia, dan juga tentu saja keindahan alam dan budaya nya. Juga bahasa daerah dan berbagai makanan khasnya.

Sampai pada satu waktu, ketika saya menemani seorang teman dari Jerman ia berkata “ You are a good Indoneisan” karena kami banyak bertukar cerita mengenai Indonesia secara umum dan sistem pendidikan yang masih harus banyak berbenah secara khusus. Ketika ia berkata demikian, saya sadar ada sepotong Indonesia yang saya bawa dan perkenalkan dari tutur kata, tingkah laku, ide, sikap dan cerita yang saya sampaikan.

Satu pengalaman saya menjadi Indonesia yang saya simpan dengan rapi, saya coba awetkan dalam bentuk tulisan.

Ubud, 03 November 2018

6 : 47 AM.

Anisa Sari Asih

related

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

video

Popular

Pesantren Terapung – Nyantrik di Kapal

"Pesantren Terapung." Malam itu saya kebagian "ronda" di atas Rainbow Warrior yang sedang menyusuri Laut Jawa. Salah satu tugas "night watch" adalah menemani nahkoda melihat...

Memang “Pemerintahan Belanda” ada di Indonesia? Tidak. Yang ada “Perusahaan!”

Di Indonesia, selama ini yang diketahui dalam sejarah, setelah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie— perusahaan yang menjajah Nusantara karena rempah-rempah) bangkrut-- masuk Prancis dan Inggris--...

Batik Lingkungan Hidup

Tatang Elmi Wibowo berkulit coklat dan berambut ikal. Usianya 41 tahun. Hari itu, akhir Februari 2018, di galeri miliknya Leksa Ganesha, Dusun Tembi, Kecamatan...

Pasarnya Petani Kota Jakarta

Di Jakarta ada petani? Ya, betul, bahkan ada pasarnya! Datang saja ke Gudang Sarinah Ekosistem setiap Minggu, pekan pertama setiap bulan. Di sinilah para...

Petisi konyol, antara Dilan dan Pram, ehh Minke

Dilan Iqbaal Ramadhan jadi Cameo lagi Senang rasanya film Bumi Manusia di produksi dan nantinya akan di putar di bioskop, sehingga saya gak perlu menghabiskan...

Sudut Pandang Lakon dan Penonton

Ngeri ngeri sedap kritikus Film Sejak mula, membangun kisah para penderes nira kelapa di Ketanda Banyumas dalam sebuah karya film, selalu ada kecemasan kecemasan yang...

Menanam dan Memanen Air di Senjoyo

Bagi Ahmad Bahruddin, mata Air Senjoyo adalah hidup dan mati dirinya. Puluhan tahun lalu, air irigasi di kampungnya Kalibening, Kota Salatiga terlihat jernih dan...