Sabtu, Desember 5, 2020

Memang “Pemerintahan Belanda” ada di Indonesia? Tidak. Yang ada “Perusahaan!”

Di Indonesia, selama ini yang diketahui dalam sejarah, setelah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie— perusahaan yang menjajah Nusantara karena rempah-rempah) bangkrut– masuk Prancis dan Inggris– VOC diambil alih oleh Pemerintah Belanda. Lalu, penjajah Jepang. Dan, Indonesia merdeka. Tetapi, tidak pernah diketahui, siapa sebenarnya yang berkuasa dan mengatur Indonesia saat zaman penjajahan Belanda setelah VOC.

Ya, setelah VOC, ada sejarah yang putus, hilang. “Tidak pernah diceritakan siapa institusi yang ada di Indonesia yang mengatur semua penjajahan ini, yaitu: NHM (Nederlandsche Handel-Maatschappij), bahasa Indonesianya Perusahaan Dagang Belanda, kepunyaan raja,” kata Budi Trinovari, Kepala Museum Mandiri ketika ditemui pada acara launching Ruang Introduksi Munasain (Museum Nasional Sejarah Alam Indonesia), Bogor pada pertengahan Mei 2018.

Betul, NHM adalah sebuah perusahaan yang ternyata pemilik modalnya adalah Raja Willem I. Buyut Ratu Beatrix ini memiliki saham NHM tanpa tangan orang lain, alias langsung dimiliki atas namanya sendiri. Ceritanya, NHM ingin mengambil alih peran VOC yang sedemikian berjaya “berbisnis” di Nusantara. Kemudian, didirikanlah NHM di ‘s-Gravenhage (Den Haag), Nederland (Belanda), dengan Surat Keputusan Raja Nomor 163, 29 Maret 1824.

Sekitar setahun setelah itu, NHM membuka kantor di Batavia, Hindia Belanda (nama Indonesia saat penjajahan Belanda) didirikanlah yang namanya Factorij, Nederlandsche Handel-Maatschappij (saat ini gedungnya menjadi Museum Mandiri). NHM menjadi semacam tangannya raja. NHM Kantor Pusatnya di Amsterdam, Belanda, tapi untuk perdagangan dunia diaturnya dari Batavia tadi. Setelah Batavia, cabang NHM menyebar, mulai dari Singapura, Penang (Malaysia), Hongkong, Calcutta (India), Rangoon (Birma), Arab Saudi, New York (Amerika Serikat), Shanghai (Cina), hingga Suriname.

Tampaknya cita-citanya Jan Pieterszoon Coen (menjadikan Batavia pusat perdagangannya Belanda di dunia) benar-benar dieksekusi oleh NHM. Bahkan semakin melebar, mereka membuat lagi perwakilan setingkat di bawah Batavia ada di Paramaribo, Suriname– karena itulah, sejak 1875 banyak orang Jawa dan orang Banten (Lebak) dikirim ke sana menjadi budak untuk membangun perkebunan kopi dan gula, dengan pertimbangan bahwa orang Jawa dan Banten yang mengerti dan jago menanam komoditas tersebut.

Sejak berdiri itulah, selama ratusan tahun NHM memonopoli Nusantara. Kalau dulu VOC hanya memonopoli pelabuhan dan perdagangan, modelnya seperti pengumpul. Kalau NHM ditambah jadi produsen. Juga, NHM yang kasih uang, modal. “NHM awalnya bukan bank, tapi yang punya duit dia. Dia boleh ngeluarin kredit. NHM yang biayai semua,” kata Budi.

Pada 1874 NHM berubah jadi bank. Menurut Budi, hal ini ada hubungannya dengan Max Havelaar. Setelah diprotes oleh Max Havelaar, terjadilah politik etis di Belanda. Akhirnya NHM berubah menjadi bank. “Pas menjadi bank itu, Willem I menjual beberapa sahamnya, sekadar untuk menggugurkan kewajiban sebagai bank saja,” ujar Budi.

De Javasche Bank (yang sekarang jadi Bank Indonesia atau BI) pun saham dan yang bangun adalah NHM, untuk sirkulasi uang di Jawa. Karena mereka butuh bank sirkulasi di sini. Selain itu, bank-bank besar di Hindia Belanda, ada NIHB (Nederlandsch-Indische Handlesbank) yang kemudian saat Indonesia merdeka menjadi Bank Bumi Daya. Terus ada lagi, de Escompto Bank yang khusus untuk Hindia Belanda, yang kemudian menjadi Bank Dagang Negara. NHM kemudian menjadi Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) urusan ekspor impor, lalu menjadi Bank Ekspor Impor. Tiga bank besar itulah yang kemudian menjadi Bank Mandiri. “Dengan demikian, cerita perekonomian Hindia Belanda sebetulnya ada di Museum Mandiri. Jantungnya ada di sini. Semua yang sekarang jadi BUMN (Badan Usaha Milik Negara) itu, hulunya di NHM,” ujar Budi.

Waktu NHM masuk Nusantara, rempah-rempah harganya di dunia mulai agak turun. “Pertanyaannya, kenapa Belanda waktu itu ganti masuk ke Cultuurstelsel (Tanam Paksa. Catatan: berlangsung pada 1830-1870)? Kenapa mereka tega benar menewaskan banyak orang, kelaparan, di Jawa, memaksa tanaman mereka diganti dengan tanaman komoditas itu?” kata Budi. Empat komoditas yang menjadi andalan NHM: kopi, gula, indigo, dan opium.

Sebagai contoh berjayanya empat komoditas tersebut, pada 1800-an harga gula cara mengukurnya kurang lebihnya sama dengan emas. “Jadi, yang mereka jual adalah opium, kopi, gula, dan indigo. Semuanya adalah barang-barang prestise di Eropa. Itu harganya sama dengan emas,” ujar Budi.

Kopi, gula, dan indigo tanamannya ada di Indonesia, sedangkan opium diambil dari luar Nusantara, dari Afganistan, Iraq, dan Persia (Iran). Lalu, dibawa ke Indonesia, diolah di sini (pabriknya di belakang RSCM, Jakarta sekarang). “Tapi, kalau tanaman-tanaman lain, kalau saya lihat dari pergerakan tanamannya, NHM memang membiayai itu. Membiayai membuat perkebunan kopi, gula, dan indigo,” imbuh Budi.

Indigo adalah bahan untuk membuat warna biru pada tekstil (lihat biru pada batik dan biru jeans). Sekarang indigo tidak ada harganya, tapi dulu indigo adalah barang paling prestise. Dahulu kala di Eropa, kalau seseorang memakai baju warna biru indigo itu pasti bangsawan.

Indigo ini tanaman asli Indonesia. Adanya di daerah Bagelen— wilayah Purworejo sampai dengan perbatasan Yogyakarta. Penanaman Indigo itu dipaksa. Soalnya, Indigo kalau ditanam, tanahnya akan rusak, haranya mati. Indigo itu tanaman yang membutuhkan sangat besar tenaga kerja di dalam produksinya, kalau tidak pakai perbudakan maka akan rugi, tidak efisien. Pada catatan NHM, laporan tahunan, bahwa penjualan indigo lebih tinggi dari penjualan timah, teh, dan damar.

Komoditas lain, misalnya kopi, “Saya baru temukan bahwa satu agen (kantor perwakilan, penjualan, perdagangan) NHM di Semarang, dari hasil kopi saja, dalam enam bulan, kalau dikonversi ke emas, maka nilai dengan uang sekarang sekitar Rp4 triliun,” ujar Budi. Itu baru satu agen. Agen lainnya ada di Semarang, Batavia, hingga Surabaya.

Budi mengetahui ini semua ketika menemukan banyak catatan lengkap di bekas Kantor Utama NHM di Jakarta (dulu Batavia)— yang sekarang menjadi Museum Mandiri. “Untungnya catatan-catatan NHM masih ada, ketinggalan di Museum Mandiri. Saya baca itu. Dalam Bahasa Belanda lama,” ujar Budi. Terdapat ribuan catatan. Bisa dikatakan, Buku Besar pertama di Indonesia ada di situ. “Ya, catatan perdagangannya mereka. Itu sebenarnya secret, confidential kerajaannya mereka. Saya kaget, kok selama ini tidak pernah ada yang tahu. Itu tidak pernah dibuka.” imbuh Budi. Belanda memang hebat dalam membuat catatan, semua lengkap, dibuat dalam satu bundel-satu bundel.

“Buku besarnya ada di ruangan saya. Ini salah satu contoh… (sambil menunjukkan foto catatan lama di handphone)… indigo adanya di Bagelen. Bagelen itu ada catatannya, di buku tahunannya mereka. Tapi, ini yang orang tidak pada menyangka: opium, bahwa opium sudah jadi rekening tersendiri pada waktu itu. Artinya apa? Ini perdagangannya besar dulu di sini,” ujar Budi.

Ini semua yang bikin kaya raya Belanda.

Jadi, yang selama ini kita tahu, VOC bangkrut, lalu diambil alih pemerintah Belanda bukan? Juga, yang sering kita ketahui adalah Gubernur Jenderal yang jadi pimpinan tertinggi pemerintahan Belanda di Hindia Belanda selama ini? (Catatan: Zaman VOC pun ada jabatan Gubernur Jenderal). “Sering disebut Pemerintahan Belanda.. memang Pemerintahan Belanda ada di Indonesia? Siapa institusi yang menjadi perwakilan raja? Ya, NHM! Orang policy-nya si Gubernur Jenderal kalau tidak di-endorse (didukung, disahkan) oleh NHM itu tidak boleh jalan. Jadi, sebetulnya otaknya raja ada di NHM. Nah, dia itu yang mengatur.. set.. set.. set…,” kata Budi.

Karena itulah, menurut Budi, penelitian-penelitian yang dilakukan di Indonesia dibiayai oleh NHM semua, mulai dari penelitian kopi hingga gula. “Misalnya, ada sebuah perusahaan yang akan membangun pabrik gula. Kalau NHM bilang tidak cocok di daerah situ, maka tidak dikasih duit sama dia, maka tidak jalan. Semua dimonopoli oleh NHM,” imbuh Budi.

Jadi sebenarnya, yang mengatur Gubernur Jenderal adalah NHM. Gubernur Jenderal ini membantu NHM untuk membuat dan menjalankan policy, politik, untuk mendukung kegiatan bisnis NHM. “Cultuurstelsel itu sebenarnya NHM. Orang selalu bilang Cultuurstelsel itu Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. van den Bosch itu wayang kok,” kata Budi. NHM (Nederlandsche Handel-Maatschappij), perusahaan yang berkuasa, bukan Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Ring a bell dengan kondisi Indonesia zaman now?

Ardi Bramantyo

related

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

video

Popular

Pesantren Terapung – Nyantrik di Kapal

"Pesantren Terapung." Malam itu saya kebagian "ronda" di atas Rainbow Warrior yang sedang menyusuri Laut Jawa. Salah satu tugas "night watch" adalah menemani nahkoda melihat...

Memang “Pemerintahan Belanda” ada di Indonesia? Tidak. Yang ada “Perusahaan!”

Di Indonesia, selama ini yang diketahui dalam sejarah, setelah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie— perusahaan yang menjajah Nusantara karena rempah-rempah) bangkrut-- masuk Prancis dan Inggris--...

Batik Lingkungan Hidup

Tatang Elmi Wibowo berkulit coklat dan berambut ikal. Usianya 41 tahun. Hari itu, akhir Februari 2018, di galeri miliknya Leksa Ganesha, Dusun Tembi, Kecamatan...

Pasarnya Petani Kota Jakarta

Di Jakarta ada petani? Ya, betul, bahkan ada pasarnya! Datang saja ke Gudang Sarinah Ekosistem setiap Minggu, pekan pertama setiap bulan. Di sinilah para...

Petisi konyol, antara Dilan dan Pram, ehh Minke

Dilan Iqbaal Ramadhan jadi Cameo lagi Senang rasanya film Bumi Manusia di produksi dan nantinya akan di putar di bioskop, sehingga saya gak perlu menghabiskan...

Sudut Pandang Lakon dan Penonton

Ngeri ngeri sedap kritikus Film Sejak mula, membangun kisah para penderes nira kelapa di Ketanda Banyumas dalam sebuah karya film, selalu ada kecemasan kecemasan yang...

Menanam dan Memanen Air di Senjoyo

Bagi Ahmad Bahruddin, mata Air Senjoyo adalah hidup dan mati dirinya. Puluhan tahun lalu, air irigasi di kampungnya Kalibening, Kota Salatiga terlihat jernih dan...