Sabtu, Desember 5, 2020

Raden Saleh bukan “Anak” Belanda, Tapi Pahlawan Nasional

Sabtu, 10 November 2018, pagi, persis di Hari Pahlawan, sekumpulan orang berkumpul di makam Raden Saleh di Bondongan, Empang, Bogor, Jawa Barat. Penggiat budaya, pengamat sejarah, guru-guru, warga, sebanyak 60-an orang meniatkan berkumpul di sana, berdoa dan memberi penghormatan bagi maestro seni lukis Indonesia, Raden Saleh. Bendera Merah Putih dibentangkan di monumen makam, dekat dengan makam Raden Saleh Sjarif Bustaman dan istrinya Raden Ayu Danurejo.

Sebenarnya, banyak yang tidak tahu letak makam Raden Saleh, bahkan bagi kebanyakan warga Bogor. Menurut Dayan D. Layuk Allo, penggiat budaya dan sejarah Bogor, penyelenggara acara, makam Raden Saleh ditemukan pada 1923 secara tak sengaja oleh Mas Adoeng Wiraatmadja, mantan jaksa, dengan kondisi tertutup ilalang di dekat rumahnya. Ternyata, makam Raden Saleh berada di makam wakaf keluarga Adoeng. Lalu, Adoeng membersihkan dan merawatnya. Kemudian, dilanjutkan keluarga Isun Sunarya yang masih kerabatnya.

Pada zaman kemerdekaan, kabar keberadaan makam Raden Saleh akhirnya sampai ke telinga Bung Karno. Segera Bung Karno melihatnya dan memerintahkan arsitek Friedrich Silaban merancang untuk diperbaiki agar lebih indah. Pada 1953, pemerintah memugar makam Raden Saleh. Silaban merancangnya bersamaan dengan merancang Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Pada masa kini, Galeri Nasional mempercantik lagi serta menambahkan bangunan semacam pendopo kecil yang bisa dimanfaatkan untuk belajar, diskusi, budaya, seni, dan sejarah.

related

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

video

Popular

Pesantren Terapung – Nyantrik di Kapal

"Pesantren Terapung." Malam itu saya kebagian "ronda" di atas Rainbow Warrior yang sedang menyusuri Laut Jawa. Salah satu tugas "night watch" adalah menemani nahkoda melihat...

Memang “Pemerintahan Belanda” ada di Indonesia? Tidak. Yang ada “Perusahaan!”

Di Indonesia, selama ini yang diketahui dalam sejarah, setelah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie— perusahaan yang menjajah Nusantara karena rempah-rempah) bangkrut-- masuk Prancis dan Inggris--...

Batik Lingkungan Hidup

Tatang Elmi Wibowo berkulit coklat dan berambut ikal. Usianya 41 tahun. Hari itu, akhir Februari 2018, di galeri miliknya Leksa Ganesha, Dusun Tembi, Kecamatan...

Pasarnya Petani Kota Jakarta

Di Jakarta ada petani? Ya, betul, bahkan ada pasarnya! Datang saja ke Gudang Sarinah Ekosistem setiap Minggu, pekan pertama setiap bulan. Di sinilah para...

Petisi konyol, antara Dilan dan Pram, ehh Minke

Dilan Iqbaal Ramadhan jadi Cameo lagi Senang rasanya film Bumi Manusia di produksi dan nantinya akan di putar di bioskop, sehingga saya gak perlu menghabiskan...

Sudut Pandang Lakon dan Penonton

Ngeri ngeri sedap kritikus Film Sejak mula, membangun kisah para penderes nira kelapa di Ketanda Banyumas dalam sebuah karya film, selalu ada kecemasan kecemasan yang...

Menanam dan Memanen Air di Senjoyo

Bagi Ahmad Bahruddin, mata Air Senjoyo adalah hidup dan mati dirinya. Puluhan tahun lalu, air irigasi di kampungnya Kalibening, Kota Salatiga terlihat jernih dan...