Senin, Januari 25, 2021

Raden Saleh bukan “Anak” Belanda, Tapi Pahlawan Nasional

Masih menurut Werner, Raden Saleh saat itu belum disebut nasionalis, karena ide nasionalisme Indonesia belum ada. Tetapi, jelas Raden Saleh adalah seseorang yang anti kolonial. “Ini bisa dilihat dalam karya-karyanya. Ada satu lukisan tentang penangkapan Diponegoro, ini jelas bahwa dia bukan ‘anak’ Belanda, bukan ‘anjing’ Belanda, dia orang Indonesia sejati,” kata Werner.

Raden Saleh, menurut Werner, adalah satu-satunya orang yang berbicara tentang Diponegoro di Eropa dengan cara  yang berbeda dengan Belanda. Bila Belanda selalu menyebut Diponegoro sebagai pemberontak atau kriminal, sedangkan Raden Saleh sebagai orang pertama yang berbicara tentang Diponegoro sebagai seorang Pahlawan Nasional.

Raden Saleh tidak berjuang secara fisik, tetapi, dia membangun percaya diri bangsa Indonesia. Semangat menunjukkan kepada penjajah Belanda bahwa anak Indonesia bisa berprestasi lebih baik dari penjajah, lewat seni lukis. “Jadi, bagaimana bisa disebut Raden Saleh sebagai ‘anak’ atau ‘anjing’ Belanda? Pasti sebaliknya!” kata Werner.

Sampai saat ini Raden Saleh belum mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional. Upaya untuk memberikan penghargaan tersebut terus dilakukan. “Kami tidak ragu lagi. Kami sudah berupaya untuk mengusulkan beliau menjadi Pahlawan Nasioal. Kita sudah berbicara dengan Dirjen ketika Bu Khofifah Indar Parawansa sebagai Menteri Sosial. Tapi, sampai saat ini belum diberikan,” kata Ace Sumanta, Budayawan Bogor.

related

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

video

Popular

Pesantren Terapung – Nyantrik di Kapal

"Pesantren Terapung." Malam itu saya kebagian "ronda" di atas Rainbow Warrior yang sedang menyusuri Laut Jawa. Salah satu tugas "night watch" adalah menemani nahkoda melihat...

Memang “Pemerintahan Belanda” ada di Indonesia? Tidak. Yang ada “Perusahaan!”

Di Indonesia, selama ini yang diketahui dalam sejarah, setelah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie— perusahaan yang menjajah Nusantara karena rempah-rempah) bangkrut-- masuk Prancis dan Inggris--...

Batik Lingkungan Hidup

Tatang Elmi Wibowo berkulit coklat dan berambut ikal. Usianya 41 tahun. Hari itu, akhir Februari 2018, di galeri miliknya Leksa Ganesha, Dusun Tembi, Kecamatan...

Petisi konyol, antara Dilan dan Pram, ehh Minke

Dilan Iqbaal Ramadhan jadi Cameo lagi Senang rasanya film Bumi Manusia di produksi dan nantinya akan di putar di bioskop, sehingga saya gak perlu menghabiskan...

Pasarnya Petani Kota Jakarta

Di Jakarta ada petani? Ya, betul, bahkan ada pasarnya! Datang saja ke Gudang Sarinah Ekosistem setiap Minggu, pekan pertama setiap bulan. Di sinilah para...

Sudut Pandang Lakon dan Penonton

Ngeri ngeri sedap kritikus Film Sejak mula, membangun kisah para penderes nira kelapa di Ketanda Banyumas dalam sebuah karya film, selalu ada kecemasan kecemasan yang...

Menanam dan Memanen Air di Senjoyo

Bagi Ahmad Bahruddin, mata Air Senjoyo adalah hidup dan mati dirinya. Puluhan tahun lalu, air irigasi di kampungnya Kalibening, Kota Salatiga terlihat jernih dan...