Setelah menguasai Tarakan, Tentara Jepang bergerak pada 20 Januari 1942 menuju kota selanjutnya: Balikpapan. Kota ini memiliki pelabuhan dengan tujuh buah dermaga. Di dekat pelabuhan tersebut terdapat instalasi pengolahan minyak sepanjang 3,5 kilometer yang setiap tahunnya menghasilkan bensin, minyak pelumas, minyak  tanah, dan parafin. Selain itu, Balikpapan juga menampung minyak bumi yang disalurkan melalui pipa-pipa, hasil dari pengeboran di Samboja, Sanga-Sanga, dan Mahakam utara.

Kota Balikpapan dipertahankan oleh garnisun KNIL dengan kekuatan 1.100 tentara di bawah komando Letnan Kolonel C. van den Hoogenband. Pasukan utamanya adalah infanteri. Didukung oleh lima kendaraan lapis baja dan dua meriam 75 mm yang ditarik truk. Juga, tiga baterai meriam pantai 75 dan 120 mm yang ditempatkan di pelabuhan. Dilengkapi dengan unit penangkis serangan udara dengan dua meriam 40 mm dan tiga seksi senapan mesin 12,7 mm. Plus, milisi yang berasal dari para pegawai Perusahaan Minyak Belanda, BPM.

Pada hari yang sama Jepang memberikan ultimatum kepada Belanda untuk tidak menghancurkan ladang-ladang minyak di Balikpapan. Bila dihancurkan akan dihukum mati. Ultimatum ini tidak digubris Belanda. Tiga hari kemudian, sebuah Armada Jepang yang terdiri dari 37 buah kapal muncul di perairan Balikpapan. Armada ini disambut oleh 12 pesawat terbang Glenn Martin Belanda. Jepang kehilangan sebuah kapal penjelajah berat, dua penjelajah ringan, dan sebuah pengangkut. Sedangkan tiga pesawat terbang Belanda rontok. Belanda mendapat bantuan dari Amerika Serikat oleh gugus tugas yang dipimpin Laksamana Glassford yang berangkat dari Teluk Kupang dengan dua kapal penjelajah dan empat kapal perusak.

Sedangkan dari Lapangan Udara Juata, Tarakan, Jepang meluncurkan jagoan udara (ace) Saburo Sakai dengan pesawat Zero-nya yang tergabung dalam Satuan Udara Tainan Kokutai. Dari Tarakan, Sakai memulai misi perang di medan tempur Indonesia. Penerbang yang malang melintang berperang di Cina hingga Pasifik Selatan ini sempat kehilangan sebelah matanya karena sambaran peluru penerbang Amerika Serikat. Sakai dan kawan-kawan bertempur melawan Benteng Terbang B-17 Amerika Serikat yang berangkat dari Jawa Timur. Satuan Udara Tainan Kokutai terlibat aktif dalam merebut Balikpapan dengan menyediakan perlindungan udara bagi Pasukan Angkatan Laut Jepang yang masuk ke kota ini.    

Pasukan Jepang di kaki gurita yang lain berhasil memecah konsentrasi dan menjepit kekuatan Belanda dan Sekutu. Ini disebabkan karena Manado telah diduduki serta gerak langkah pasukan Jepang di Malaya yang semakin maju dan mengancam kedudukan benteng terakhir Inggris di Singapura– untuk selajutnya Palembang terancam.

Dalam serangan ke Balikpapan, pada dini hari 24 Januari 1942, Tentara Jepang mendarat di Sepinggan, Balikpapan, tanpa perlawanan berarti dari Belanda. Satuan lainnya mendarat di Kali Sumber serta Wain, untuk memotong jalur mundur pasukan Belanda ke arah Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Kala fajar menyingsing, dengan cepat pasukan Jepang berhasil merebut Lapangan Udara Manggar, Balikpapan. Sebelumnya, gerakan tentara Jepang ini sempat melambat karena dirusaknya jembatan-jembatan di jalanan sepanjang pantai oleh Belanda. Setelah Manggar dikuasai, pasukan Jepang berhasil masuk dari utara Balikpapan ke dalam kota pada malam hari 25 Januari, tanpa melepaskan tembakan, karena pasukan Belanda telah mundur. Balikpapan menyerah. Balikpapan jatuh dalam 15 hari, terhitung sejak Pasukan Jepang pertama kali menyerbu Tarakan.  

Selanjutnya setelah menguasai Balikpapan, Tentara Jepang bergerak menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kemudian, menyeberang dan mendarat di Eretan, Indramayu, Jawa Barat. Jawa juga didarati dari dua titik tempat lainnya: Kragan (Jawa Tengah) serta Banten (Provinsi Banten)– sesuai dengan serangan tiga kaki Gurita seperti tersebut di atas. Di Jawa terletak pusat Pemerintahan Hindia Belanda dan pusat Komando Gabungan Sekutu ABDACom (American, British, Dutch and Australian Command). Hindia Belanda akhirnya takluk pada 8 Maret 1942– kurang lebih 90 hari dari saat Jepang mendarat di Tarakan.

Melihat sejarah, bila terjadi serangan pasukan asing terhadap Republik Indonesia, demikianlah cerita posisi wilayah “Calon Ibu Kota Baru”– yang berimpitan dengan Balikpapan. Kala itu Balikpapan jatuh dalam 15 hari, sedangkan “Calon Ibu Kota Baru”… ? (Tamat)

Ardi Bramantyo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here