Melihat sejarah, apa yang patut jadi pertimbangan kala Hindia Belanda (kini Indonesia) jatuh karena serbuan Bala Tentara Jepang? Salah satunya yaitu pintu masuk! Ya, pintu masuk pertama Tentara Jepang ke Indonesia adalah Tarakan di Kalimantan Utara. Dan, Tarakan tidak jauh dari Balikpapan, Kalimantan Timur, dekat daerah “Calon Ibu Kota Baru” Republik Indonesia.

Mari kita buka lembar catatan sejarah tentang Perang Dunia Kedua. Dalam Perang ini, Jepang bertempur dalam panggung Asia Pasifik, setelah berseteru dengan Barat (Sekutu) dalam ekonomi. Ambisi Jepang adalah untuk ekspansi, menguasai negara-negara di Asia menjadi Asia Timur Raya (bahkan sempat “mencolek” Uni Soviet). Seperti yang ditulis dalam Buku Di Bawah Matahari Terbit, tulisan Nino Oktorino, memorandum rahasia Perdana Menteri Baron Tanaka pada 1929 menyerukan suatu pembentukan daerah jajahan besar. Daerah tersebut akan menyediakan bahan mentah dan pangan bagi tanah air Jepang, serta penyaluran penduduknya yang berdesakkan. Ada yang meragukan memorandum ini, tapi apa yang terjadi kemudian seolah membenarkan memorandum rahasia tersebut.   

Awalnya, Jepang menyerbu Utara, ke Cina, menduduki Manchuria pada 1931, sebuah daerah yang kaya batu bara dan besi yang sangat diperlukan bagi industri negara Matahari Terbit yang memang sedang menanjak. Jepang juga mengarahkan serbuannya ke Barat, ke Uni Soviet. Tapi, ekspansi Jepang ke Utara – Barat ini mengalami kendala keras, rakyat Cina cukup kuat bertahan. Dan, Uni Soviet juga memukul Jepang dengan keras.

Jepang pun melirik menjalankan rencana lainnya: ekspansi ke Selatan. Wilayah selatan Jepang tentunya mencakup hampir sebagian besar negara-negara Asia. Negeri-negeri tersebut banyak yang masih di bawah jajahan Belanda, Inggris, dan Amerika. Rencananya, Jepang akan merebut secepat mungkin wilayah jajahan Belanda serta Inggris (dan Amerika di Filipina) di Asia Tenggara yang kaya akan sumber daya alam. Tentunya, salah satu tujuan utama Jepang adalah Hindia Belanda yang kaya sumber daya alam, minyak dan gas, daerahnya luas, serta strategis.     

Untuk menguasai Hindia Belanda, Jepang menjalankan serbuan dengan Taktik Gurita, strategi penyerangan bercabang kaki tiga yang membelit. Di sebelah Timur, Jepang akan masuk melalui kepulauan Maluku dan Timor. Di tengah, Kalimantan dan Sulawesi akan direbut. Sedangkan di sebelah Barat, Sumatera akan dikuasai melalui Palembang setelah kejatuhan Singapura dipastikan dari Inggris. Setelah itu, kekuatan semua pasukan dari tiga cabang tersebut: barat, timur, dan tengah akan masuk dan merebut Jawa.

Nah, ternyata, pintu masuk pertama serbuan Tentara Jepang dengan Taktik Gurita tersebut adalah Tarakan di Kalimantan Timur. Tarakan menjadi gerbang Selat Makassar, sebuah poros tengah Indonesia. Jalur laut Selat Makassar ini sangat penting bagi Amerika Serikat dan Sekutu (Inggris, Belanda, dan Australia), karena menghubungkan Australia menuju ke Filipina, Markas Jenderal Mc Arthur (Amerika Serikat). Bantuan Sekutu dari Australia ke Filipina (dan Hong Kong– yang dikuasai Inggris) bila Selat Makassar dikuasai akan terputus. Selain itu, Tarakan penghasil minyak bumi dengan kualitas salah satu yang terbaik di dunia. Sebelum Perang Dunia Kedua, Tarakan menghasilkan 6 juta barel minyak setiap tahun. Yang penting lagi, dengan menguasai Tarakan sangat strategis bagi Jepang untuk menguasai Makassar (Sulawesi) dan Kalimantan, untuk selanjutnya turun ke selatan menyerbu Jawa  

Pasukan Jepang yang ditugaskan mengambil alih Tarakan merupakan bagian dari rencana Gurita Tengah. Takeo Kurita, Panglima Angkatan Laut Jepang, memerintahkan pasukan ini bergerak awal dari dua arah: dari Kepulauan Filipina dan Kepulauan Palau di Utara Papua (yang lebih dulu dikuasai).

Pada dini hari, 11 Januari 1942, setelah diawali serangan udara pesawat-pesawat tempur Jepang, sekitar 20 ribu serdadu Kekaisaran Jepang– yang dimotori Pasukan Kure, pasukan elit Angkatan Laut Jepang– mendarat di Pantai Timur Tarakan dalam dua kelompok, sayap kanan dan sayap kiri. Sedangkan di pihak Belanda, berusaha bertahan dengan 1.300 tentara yang berintikan Batalion ke-7 KNIL (Koninklijk Nederlands Indische Leger, Tentara Kerajaan untuk Hindia Belanda), satuan senapan mesin ringan, unit kecil artileri anti serangan udara, artileri pantai, empat pesawat tempur Brewster Buffalo, dan tiga pesawat pengebom Glenn Martin. Ditambah dengan para pegawai perusahaan minyak Belanda BPM (Bataafsche Petroleum Maatschapij) yang dilibatkan sebagai milisi– seperti yang tertera dalam Buku Tarakan, “Pearl Harbour” Indonesia (1942 – 1945), karya Iwan Santosa.

Pasukan Jepang mendarat di dua tempat kelompok tadi, di mana pertahanan Belanda kurang kuat dan tidak diduga akan muncul di sana. Di mulut Sugai Amal sebuah kelompok pasukan Jepang berhasil membunuh dan menawan anggota dari sebuah unit kecil KNIL. Dari sana, Pasukan Jepang ini bergerak melalui hutan, menuju bagian utara ladang minyak Tarakan. Sasaran tersebut berhasil dicapai pada siang hari. Di sini, tentara Jepang dihadang dan dihujani tembakan gencar senapan serta senapan mesin Belanda, sehingga lajunya terhenti. Tetapi, pada malam harinya pasukan Jepang berhasil menerobos kawat berduri penghalang dan menghancurkan seluruh sarang senapan mesin Belanda tersebut.   

Sedangkan Tentara Jepang di sayap kanan bertemu dan bertempur dengan pasukan kavaleri kendaraan lapis baja Belanda di Pamoesian. Satu per satu kendaraan tempur lapis baja ini dilumpuhkan. Dan, Jepang semakin bergerak maju. Jepang dengan cepat berhasil mengalahkan garis pertahanan pertama dan kedua Belanda. Sehingga pada tengah hari esoknya, Komandan Garnisun Belanda di Tarakan, Overstee (Letnan Kolonel) S. de Waal mengirimkan utusan kepada Komandan Tentara Jepang dengan membawa bendera putih tanda menyerah.

Kabar menyerah ini tidak didengar oleh baterai meriam pantai Belanda yang ada di selatan Tarakan (Karungan). Pasukan Jepang yang sudah ada di darat menyadari hal ini, dan segera memberi peringatan kepada armada laut Jepang agar tidak mendekati pelabuhan Tarakan. Tetapi, peringatan ini tidak digubris oleh oleh komandan armada, sehingga ketika enam kapal penyapu ranjau memasuki teluk, mereka dihujani tembakan meriam pantai. Alhasil, dua kapal penyapu ranjau tenggelam. Namun, akhirnya Jepang tetap berhasil merapatkan armada perangnya di Pelabuhan Tarakan. Juga, Lapangan Terbang Juata di Tarakan berhasil diduduki Satuan Khusus Pendaratan Angkatan Laut Kure ke-2, pada pagi hari 12 Januari 1942. Total, Tarakan takluk. Tarakan berhasil dikuasai Jepang dalam waktu dua hari. (Bersambung)

Ardi Bramantyo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here