Foto: Kakaroto

Teman kampus

Ini malam terakhir untuk pertemuan membosankan sepanjang bulan. Kuliah pendek musim panas untuk globalisasi. Setiap hari aku hanya mengenal ruang kelas, taman, ruang olah raga, perpustakaan, lalu kamar tidur. Beijing yang penuh hiruk tak terasa disini. Sunyi dan sepi.

Tapi aku merasakan ada denyut keributan di balik pagar, kata temanku Zhong, di luar pagar tinggi kampus AIBO ini banyak warung makan rakyat. Berjejer sepanjang seratusan meter.

Aku biarkan saja diriku semacam hidup dalam kerangkeng kampus ini. Toh disini makanan juga banyak. Semua enak. Sarapan pagi, makan siang dan malam yang menunya selalu berganti.

“Hei!! kapan kamu pulang?!”.

Tiba-tiba Xia Xuen mengagetkanku dengan tepukan di pundak.

“Entahlah… aku ingin tinggal disini untuk beberapa hari lagi sepertinya”.

“Kamu ingin aku menemanimu jalan-jalan?”.

“Eh… emm… boleh… tapi bukankah jadwalmu mengisi kuliah sangat padat?”.

“Enggak… besok dan lusa aku kosong”.

“Okey… nanti malam kita bicarakan ya… kita ketemu waktu makan malam di restauran kampus”.

“Yup!”.

Xia Xuen. Nama ini artinya rumput melata – grassroot; rumput gerinting mungkin maksudnya. Jenis rumput melata. Dia pernah menceritakannya padaku. Walaupun dia sering dipanggil dengan nama Emma.

Dia katakan padaku kalau orang tuanya memberi nama itu agar kelak dirinya mampu bertahan hidup dalam berbagai cuaca. Lalu selalu merendahkan diri dan tidak sombong. Aku hanya mengangguk.

Aku sering memanggilnya dengan nama Xuen (Suen). Ini terasa indah. Ya, seperti orangnya yang penuh ketenangan dan anggun. Cara berkonversasinya juga cerdas. Banyak humor tapi selalu menaruh hormat yang tinggi pada lawan bicaranya.

Teman makan

“Aku disini Xuen…!”

Xuen terlihat baru masuk dan menoleh padaku yang sudah duduk menanti di meja makan sejak sejam lalu. Aku menunggunya dengan cara menghabiskan minuman buah kaleng favoritku. Tak terasa sudah 4 kaleng.

“Maaf terlambat… aku musti rapat dengan dosen-dosen senior untuk selesaikan masalah… semacam masalah negara gituh… hahahaa”.

“Bukan masalah perang antara komunisme dan kapitalisme yang katanya tensinya semakin naik khan?”

“Tidak, ini justru menyangkut tatanan dunia yang semakin teratur mengarah ke bosan… hahaha”.

“Silahkan duduk… biar aku ambilkan saja makan malam untukmu…”

“Ok… aku ingin makan roti kering dan wine saja”.

“Baik'”

Bergegas aku ambilkan makanan yang dipesan. Walaupun makan malam kami ini semua gratis tapi aku menganggap kami sedang makan di restaurant termahal dan termewah di dunia.

“Jadi kamu akan temani aku khan?”.

“Ya… tapi ada syaratnya. Kamu tak boleh mengkritik omonganku sepanjang jalan ya… hahaa…”.

Xuen ini seperti malaekat saja. Rok hitam dan kemeja putih polos yang dipakai malam ini tampak anggun. Dia juga sepertinya sudah mulai mengerti sifatku yang selalu kritis terhadap masalah. Dia tahu kalau aku sangat tidak suka dengan gaya condong setiap dosen yang berperangai membela sistem komunisme, termasuk dia. Walaupun aku tahu dia sendiri sebetulnya tidak suka. Sesuatu yang aku pahami dari orang secerdas Xuen yang tak mungkin begitu saja menerima sebuah kebenaran dengan cara yang indoktrinatif.

“Kita ke Great Wall saja yah besok… mumpung cuaca bagus…”

“Yah… senang sekali aku. Salah satu cita-citaku dari sejak kecil adalah ingin sekali berjalan sepanjang tembok raksasa China itu…”.

“Bisa ajahh kamu… bukanya masa kecilmu itu hanya kamu isi dengan mimpi bisa naik haji ke Arab Saudi?”.

“Aku ingin naik haji tapi aku benci Arab Saudi yang gunakan sistem monarkhi absolut… hahaha”.

Restauran ini mulai sepi. Hanya suara riuh di dapur. Piring bertabrakan….entah menabrak apa. Tapi bunyinya seperti bertabrakan dengan piring lain, mungkin dengan gelas dan atau dengan rak-rakan. Sesekali pelayan hilir mudik.

Aku ingin sekali sebetulnya menyampaikan sesuatu pada Xuen. Tapi entahlah, jangan jangan nanti, entahlah, mungkin nanti sajalah, entahlah.

Pikiranku entah kenapa tiba-tiba berkecamuk, sebetulnya tak hanya malam ini. Sejak malam pertama kali aku datang dan menerima sambutan Xuen di Bandara itu sudah membuatku begitu berkesan. Ketika dia datang malam malam mengetok pintu kamarku dan membawakanku payung untuk menyeberangi hujan ke gedung kuliah yang sering turun pagi itu sebetulnya sudah membuatku resah, ketika hampir setiap hari bertemu dalam kelas kuliah hatiku sudah meledak ledak, ketika makan di restauran pagi, siang dan malam, ketika di taman dalam istirahat.

Dinding restauran di sampingku seperti menggodaku.

“Ayolah… katakan saja… “.

“Entahlah…”.

Teman piknik

Tembok China ini ternyata memang sangat hebat. Katanya berpanjang 6000 km. Ini artinya sepanjang garis lurus dari jarak Jakarta-Beijing, bangunan raksasa ini dibangun hingga 4 dinasti yang terlibat. Konon diperuntukkan untuk menghalau orang Mongolia yang terkenal sangat keras dan kejam pasukannnya.

Hari ini, dan hari hari sebelumnya itu seperti tembok inilah hatiku. Betapa ada banyak yang melewatinya, tapi terus tetap saja seperti ini. Batu-batunya terlihat kokoh. Padahal semua itu rapuh….

“Xuen… emm… maukah kamu mendengarkan aku bicara barang sebentar…”

“Hei… kenapa?”.

“Aku… em… aku… ah… emm…”

Jakarta, 2 Oktober 2018

Kakaroto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here