Senin, Januari 25, 2021

Sama-Sama Berhitung

Awal 2018, para politisi lagi sibuk-sibuknya berhitung, siapa duluan yang paling banyak pasang baliho di jalan agar dikenal rakyat. Slogannya: untuk Indonesia dan peduli sama rakyat. Menurut konsultan politik mereka, siapa cepat pasang baliho dia cepat dapat suara rakyat– meskipun nyolong start pertandingan.

Di Desa Ketanda, Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia, rakyat penderes nira kelapa juga berhitung. Sama-sama berhitung. Bedanya, mereka berhitung besok berasnya cukup atau tidak untuk makan, di tengah riuh-rendah Banyumas yang sedang persiapan Pilbup (Pemilihan Bupati) dan Jawa Tengah persiapan Pilgub (Pemilihan Gubernur). Sementara Pilpres (Pemilihan Presiden) sedang masa pemanasan. Mereka adalah penderes nira kelapa, pemasok kebutuhan gula merah terbesar di dunia, yang terjerat tengkulak.

Rakyat penderes nira kelapa tidak peduli dengan pesta demokrasi politik, mereka justru sibuk membangun dan menjalankan demokrasi ekonomi. Soal yang harus mereka hadapi: risiko keselamatan kerja karena memanjat pohon kelapa, melepaskan diri dari jeratan tengkulak, dan menapaki jalan desa yang rusak. Para penderes nira kelapa tidak mengeluh atas situasi semacam ini. Mereka justru bangun bangkit bersama menghadapi persoalan. Celengan Bambu Seribu dibuat dan digerakkan sebagai cara membangun demokrasi ekonomi yang berkeadilan.

Jika pemerintah dari tingkat yang rendah hingga tingkat tinggi heboh merayu pemilik modal mengongkosi (untuk tidak menyebut mengutangi) Badan Usaha Milik Desa, Daerah, dan Negara, para penderes ini justru semangat mengumpulkan uang seribu di Celengan Bambu sebagai gerakan menabung. Jika pemerintah cuap-cuap menyatukan BUMN menjadi holding raksasa, para penderes ini bersama-sama membangun koperasi.

Hasilnya, Badan Usaha Milik Negara justru makin dikuasai pemodal, sedangkan Koperasi dimiliki bersama para penderes nira kelapa. Faktanya, catatan perputaran uang dan aset dari Gerakan Menabung di Celengan Bambu Seribu dan Koperasi Penderes Nira Kelapa Desa Ketanda hampir tembus setengah miliar rupiah, hanya dalam tempo kurang dari empat tahun.

Lantas, masihkah perlu pemerintah, kepala daerah, dan penguasa republik buat rakyat penderes nira kelapa di Desa Ketanda, Banyumas, Jawa Tengah?

Film Dokumenter Pendek Celengan Bambu Seribu memotret dari dekat kehidupan demokrasi ekonomi para Penderes Nira Kelapa Desa Ketanda ini lewat pengamatan langsung selama lebih dari 10 bulan. Merekam kemandirian ekonomi dengan prinsip- prinsip koperasi, tanpa kehadiran pemerintah.

Celengan Bambu Seribu diawali oleh kisah Sungkowo, penderes nira kelapa yang jatuh dari pohon dan belum mendapat bantuan sepeser pun, meski memiliki Kartu Jaminan Keselamatan Kerja Penderes dari Bupati. Film dokumenter ini juga memotret perjuangan Tarmono Gadal menyatukan rasa, karsa, dan karya dalam Paguyuban Kebudayaan Karawitan Galih Warangka Jati untuk membangun kebersamaan. Dramaturginya juga terasa ketika Edi, seorang pengepul gula kelapa (tengkulak), bergabung dengan semangat koperasi. Alurnya menjadi epik setelah munculnya Gerakan Menabung di Celengan Bambu Seribu yang digagas Niko Hermawan dengan kawan kawan mudanya.

Sebuah dokumenter tentang interaksi sosial memperjuangkan demokrasi ekonomi dalam komunitas penderes nira kelapa.

Raul Akamsi bin Hatta, Tukang Syuting Keliling Kampung.

related

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

video

Popular

Pesantren Terapung – Nyantrik di Kapal

"Pesantren Terapung." Malam itu saya kebagian "ronda" di atas Rainbow Warrior yang sedang menyusuri Laut Jawa. Salah satu tugas "night watch" adalah menemani nahkoda melihat...

Memang “Pemerintahan Belanda” ada di Indonesia? Tidak. Yang ada “Perusahaan!”

Di Indonesia, selama ini yang diketahui dalam sejarah, setelah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie— perusahaan yang menjajah Nusantara karena rempah-rempah) bangkrut-- masuk Prancis dan Inggris--...

Batik Lingkungan Hidup

Tatang Elmi Wibowo berkulit coklat dan berambut ikal. Usianya 41 tahun. Hari itu, akhir Februari 2018, di galeri miliknya Leksa Ganesha, Dusun Tembi, Kecamatan...

Petisi konyol, antara Dilan dan Pram, ehh Minke

Dilan Iqbaal Ramadhan jadi Cameo lagi Senang rasanya film Bumi Manusia di produksi dan nantinya akan di putar di bioskop, sehingga saya gak perlu menghabiskan...

Pasarnya Petani Kota Jakarta

Di Jakarta ada petani? Ya, betul, bahkan ada pasarnya! Datang saja ke Gudang Sarinah Ekosistem setiap Minggu, pekan pertama setiap bulan. Di sinilah para...

Sudut Pandang Lakon dan Penonton

Ngeri ngeri sedap kritikus Film Sejak mula, membangun kisah para penderes nira kelapa di Ketanda Banyumas dalam sebuah karya film, selalu ada kecemasan kecemasan yang...

Menanam dan Memanen Air di Senjoyo

Bagi Ahmad Bahruddin, mata Air Senjoyo adalah hidup dan mati dirinya. Puluhan tahun lalu, air irigasi di kampungnya Kalibening, Kota Salatiga terlihat jernih dan...