Senin, Januari 25, 2021

Sinau Pancasila

Gombloh ikut syuting.

“Kapan syuting lagi Kang..?” Tanya Gombloh Syahfuruddin di ujung telepon, “Bentar lagi ya, ini masih atur atur jadwal, biar pas” jawabku menyelesaikan rewelnya pedagang tembakau yang bolak mandir telepon, minta ikut syuting dokumenter Para Penderes Nira Kelapa di Ketanda Banyumas yang memproduksi Gula Kelapa. Gombloh ini baru pertama kali jadi “kernet” syuting film dokumenter, sekalinya diajak syuting, tukang kopi ini ketagihan lalu meneror minta diajak lagi. Di lokasi syuting posisinya bawa bawa tripod dan alat syuting, cilakanya, Gombloh keseringan asyik ngobrol sama petani penderes nira kelapa daripada perhatian sama proses syuting, makanya tak bosan bosan saya teriakin Gombloh biar fokus syuting lagi.

Gara gara kelakuan Gombloh ini, syuting jadi tambah asyik, karena sesekali saya curi gambarnya pas lagi ngobrol ngobrol sama para petani. Ini-lah satunya satunya alasan Gombloh dipertahankan tiap kali syuting produksi film dokumenter penderes nira kelapa di Ketanda Banyumas. Maklum, tidak ada asisten produksi yang siap diajak syuting di gunung dan gak bayaran, daripada syuting sendiri, makanya kuajak Gombloh Syahfuruddin yang tiap hari cuma sibuk dagang tembakau dan kopi di depan Pabrik Gula Cepiring.

Setelah 2-3 hari syuting di Ketanda Banyumas, kami balik lagi ke rumah masing masing, saya ke Ciputat, Gombloh ke Cepiring. Biasanya, di tengah perjalanan pulang, tukang kopi asal Cepiring ini cerita lagi obrolannya sama para petani, yang bikin berat adalah bicaranya moral dalam pengaruh kafein sepanjang jalan. Disini, celotehan Gombloh kubuat obrolan saja biar gak ngantuk pas nyetir mobil, karena dia gak bisa gantian nyetir.

Kisah Tarmono Gadal

Tahun 1962, seorang petani muda dari Desa Banjar Panepen masuk ke Desa Ketanda, Sumpiuh Banyumas Jawa Tengah. Dua desa ini bertetangga, berbatasan langsung dengan jalan desa. Tarmono pindah ke Desa Ketanda setelah meminang Sulastri pujaan hatinya. Hidup berdua seadanya sudah menjadi resiko pasangan baru ini, karena sejak muda Tarmono biasa tirakatan atau prihatin dalam hidup sehari harinya. Tidak kaget, kalau kemudian Tarmono menjadi “kuncen” di Desa Ketanda karena indera ke-enamnya yang terasah tajam atau indigo.

Selain indigo, Tarmono juga suka dan mendalami kebudayaan Jawa warisan leluhurnya, terutama teladan teladan Mbah Bawor ala Banyumasan yang dirawat dengan baik sebagai prinsip hidup. Ini-lah sebabnya, Tarmono sering diundang dalam acara acara tradisional kebudayaan di Desa Ketanda, seperti “Nyadran, Ruwahan, Bukak Sura” dan lain sebagainya.

“Aku kiye ngelus dada, uwong nyadran gawe selametan dewek dewek, unggul unggulan pangan, direwangi utang bank rolasan golet kesohoran” ujar Tarmono Gadal dalam sebuah obrolan dengan Gombloh Syahfuruddin. Artinya begini “saya prihatin, orang orang buat selamatan sendiri sendiri, saling mengunggulkan makanan, sampai dibelain hutang bank rolasan (rentenir) biar terkenal namanya di desa”.

Situasi ini membuat Tarmono gelisah, karena tiap kali diundang selamatan desa, warga hanya ramai ramai datang di acara yang makanannya mewah, sedangkan waktu dia datang diundang memandu acara selamatan desa yang sederhana, justru warga sepi karena makanan seadanya. Sejak saat itu, Tarmono tidak mau lagi datang ke acara Nyadran Selamatan Desa yang diadakan masing masing, Tarmono nekat membuat acara Nyadran terpusat di rumahnya. Makanan di kumpulkan bersama, dihidangkan bersama dan didoakan bersama dan terakhir disantap bersama.

Kegelisahan Tarmono ini mirip kegelisahan Raden Aria Wiria Atmaja saat melihat teman temannya pegawai rendahan di masa kolonial Belanda yang rela meminjam uang ke rentenir lintah darat hanya untuk mengadakan pesta sunatan atau kawinan agar tampak mewah. Singkat cerita, Wiria Atmaja kemudian mengelola kas masjid Purwokerto sebesar 4000 Gulden untuk menolong pegawai rendahan dan petani dari jeratan hutang rentenir dalam bentuk koperasi. Tapi, Kas masjid yang jumlahnya 4.000 gulden milik umat Islam yang dikelola Wiria Atmaja itu berubah di kuasai Belanda dan akhirnya menjadi sebuah aset besar yang kini dikenal sebagai BRI. Setidaknya ini cerita buku dalam One Hundred Years Bank Rakyat Indonesia, 1895-1995 (1995:5-6).

Rupanya, kisah ini yang membuat Gomboh Syahfurudiin doyan ngobrol sama Tarmono Gadal. Belajar sila ke Lima Pancasila, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, yang punya dan yang tidak punya bersama sama mengadakan Nyadran Selamatan Desa,.

Galih Warangka Jati

Dari acara budaya adat Nyadran Selamatan Desa, muncul kelompok karawitan di Desa Ketanda Banyumas. Tanpa nama, kelompok adat budaya itu melangkah terus, sampai suatu saat mereka perlu sebuah nama, karena mulai dikenal warga desa tetangga. Para sesepuh dan tokoh warga mengadakan musyawarah untuk menentukan nama kelompok adat budaya ini. Dengan semangat kekeluargaan dan gotong royong, mereka sepakat memilih Tarmono Gadal mencari kata yang tepat untuk kelompok mereka.

Lewat serangkaian tirakat dan laku prihatin seperti puasa serta ziarah ke petilasan petilasan leluhur di Jawa Tengah, Tarmono menemukan dua kata, “Warangka” dan “Jati”. Ziarah ke petilasan ini bukan “klenik” bukan praktek perdukunan, tapi memang tempat tempat tersebut punya suasana untuk menjernihkan hati dan menggali kedalaman pikiran manusia. Hampir dua bulan Tarmono tirakat dan puasa, tapi hanya menemukan dua kata. Temuan ini lantas disampaikan dalam musyawarah lagi. Apakah akan memakai dua kata saja atau perlu tambah lagi? Tarmono sampaikan itu ke musyawarah warga. Hasilnya, disepakati menunggu satu kata lagi.

Cerita Tarmono dan warga mencari nama Paguyuban Adat Budaya ini, menurut Gombloh Syahfuruddin adalah pengamalan Sila Ke-empat, Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan. “Prosesnya sangat Pancasilais”, kata Gombloh dalam perjalanan pulang. Singkat cerita, Tarmono akhirnya bermimpi untuk mencari inti kehidupan, maka muncullah kata Galih. Berikutnya dalam musyawarah, disepakati bahwa, kelompok adat dan budaya ini diberi nama Paguyuban Galih Warangka Jati, artinya kira kira begini “Hati Putih (galih) Berkerangka Jati (kuat)”.

Gerakan Menabung

Persoalan ekonomi para penderes nira kelapa di Desa Ketanda Banyumas memang cukup pelik, para petani dan warga terjerat hutang tengkulak. Ujung ujungnya, hasil bumi mereka sepanjang tahun tak lepas dari proses ijon, sebelum panen sudah dibayari tengkulak karena mereka masih berhutang. Padahal, jika tidak di ijon tengkulak, mereka sadar bisa meningkatkan pendapatan sendiri. Ini-lah yang dibahas dalam Paguyuban Galih Warangka Jati sebagai perosalan serius, tiap pekan Kamis Malam di sela latihan gamelan karawitan, mereka menyempatkan mencai solusi persoalan tengkulak dan ijon ini.

Dari semua model ekonomi yang di bahas disela sela kegiatan Paguyuban Galih Warangka Jati. Dipilihlah model Ekonomi Koperasi, awalnya tidak semua anggota Paguyuban turut menjadi anggota, mereka masih menganggap wajah koperasi tidak menarik dan biasa biasa saja. Tapi, dari semua anggota Paguyuban, semuanya ikut gerakan menabung Celengan Bambu Seribu.

Ini-lah yang disimpukan Gombloh Syahfuriddin, sebagai cermin Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. Persatuan warga dalam bidang ekonomi, seperti Trisakti-nya Bung Karno, mandiri dalam ekonomi. Saat ini, gerakan celengan bambu seribu telah memutar (simpan ambil) uang warga sekitar 140 juta rupiah per tahun, dan perputaran transaksi di Koperasi Argo Mulyo Jati lewat Toko Gula sekitar 500 juta rupiah.

Keselamatan Kerja

Sungkowo masih terlihat kesakitan menggeser tempat duduk saat kutemui awal Januari 2018 lalu, patah tulang bekas jatuh dari pohon kelapa di punggungnya belum sembuh betul. Penderes nira kelapa ini mengaku lalai dan ceroboh pada saat memanjat pohon kelapa untuk mengambil nira yang dijadikan Gula Kelapa. Menurut istrinya, Sungkowo memaksakan diri memanjat saat pohon basah karena hujan. Tapi memang kondisi keuangan keluarga lagi kurang, akhirnya terpaksa Sungkowo memanjat. Cilakanya, kartu penderes yang diberi pemerintah sebagai penjamin santunan kecelakaan kerja penderes, tidak berguna, itu hanya program. Faktanya, sudah lebih dari enam bulan sejak Sungkowo kecelakaan kerja, belum juga cair santunan itu. Perangkat desa selalu menjawab sedang di proses, tiap kali istri Sungkowo tanyakan santunan dari pemerintah.

Beruntung, Sungkowo anggota Koperasi Argo Mulyo Jati dan ikut gerakan menabung di Celengan Bambu Seribu. Kebutuhan hidup keluarganya selama masa penyembuhan terbantu dengan adanya Toko Koperasi.

Dalam kacamata Gombloh Syahfuruddin, ini yang disebut pengamalan Sila Kedua, Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab, antara anggota Paguyuban, Koperasi dan Gerakan Tabungan celengan bambu seribu.

Katam Pancasila

Sudah sepuluh bulan saya bolak mandir syuting film dokumenter penderes nira kelapa di desa Ketanda Banyumas Jawa Tengah. Rata rata tiap bulan menginap di rumah Tarmono Gadal yang menjadi markas Paguyuban Galih Warangka Jati, Koperasi Argo Mulyo Jati dan Gerakan Menabung Celengan Bambu Seribu.

Di markas itu sering kedatangan tamu, dari orang orang desa sebelah sampai manusia manusia dari negeri di seberang lautan sana. Tidak pernah sekalipun dalam banyak obrolan muncul pernyataan atau pertanyaan soal keyakinan agama. Tiap kali masuk waktu ibadah, masing masing orang dengan sendirinya menyingkir tanpa mengatakan mau ibadah.

Sikap sikap merdeka meyakini keyakinan masing masing ini yang digandrungi Gombloh Syahfuruddin sebagai pengamalan Sila Pertama; Ketuhanan Yang maha Esa. Katanya, “Manusia manusia di Markas ini Katam Pancasila Kang..!”

Selamat Hari Pancasila 1 Juni 2018.

 

Raul Akamsi

Tukang Suting Keliling Kampung

related

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Advertisment

video

Popular

Pesantren Terapung – Nyantrik di Kapal

"Pesantren Terapung." Malam itu saya kebagian "ronda" di atas Rainbow Warrior yang sedang menyusuri Laut Jawa. Salah satu tugas "night watch" adalah menemani nahkoda melihat...

Memang “Pemerintahan Belanda” ada di Indonesia? Tidak. Yang ada “Perusahaan!”

Di Indonesia, selama ini yang diketahui dalam sejarah, setelah VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie— perusahaan yang menjajah Nusantara karena rempah-rempah) bangkrut-- masuk Prancis dan Inggris--...

Batik Lingkungan Hidup

Tatang Elmi Wibowo berkulit coklat dan berambut ikal. Usianya 41 tahun. Hari itu, akhir Februari 2018, di galeri miliknya Leksa Ganesha, Dusun Tembi, Kecamatan...

Petisi konyol, antara Dilan dan Pram, ehh Minke

Dilan Iqbaal Ramadhan jadi Cameo lagi Senang rasanya film Bumi Manusia di produksi dan nantinya akan di putar di bioskop, sehingga saya gak perlu menghabiskan...

Pasarnya Petani Kota Jakarta

Di Jakarta ada petani? Ya, betul, bahkan ada pasarnya! Datang saja ke Gudang Sarinah Ekosistem setiap Minggu, pekan pertama setiap bulan. Di sinilah para...

Sudut Pandang Lakon dan Penonton

Ngeri ngeri sedap kritikus Film Sejak mula, membangun kisah para penderes nira kelapa di Ketanda Banyumas dalam sebuah karya film, selalu ada kecemasan kecemasan yang...

Menanam dan Memanen Air di Senjoyo

Bagi Ahmad Bahruddin, mata Air Senjoyo adalah hidup dan mati dirinya. Puluhan tahun lalu, air irigasi di kampungnya Kalibening, Kota Salatiga terlihat jernih dan...